Dimana ada musim yang menunggu
Meranggas merapuh berganti dan luruh
Bayang yang berserah terang di ujung sana

Yang yang patah tumbuh
Yang hilang berganti
Yang hancur lebur akan terobati

Yang sia-sia akan menjadi makna
Yang terus berulang suatu saat nanti
Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi

Yang Patah Tumbuh Yang Hilang Berganti
– Banda Neira

Yang sia-sia akan menjadi makna :”)

View on Path

tumblr_ma3vavMr871rcz8z7o1_500

Seseorang berkata, “Nikmati saja setiap detiknya. Tanpa kamu sadari, bayi mungil yang masih belajar bagaimana menyusu, tiba-tiba saja sudah bisa merangkak, berjalan, berlari. Sebelumnya hanya bisa menangis, hingga pada akhirnya tersenyum lebar dan menyebut Ibu dengan manis saat ada penjual balon lewat di depan rumah. Nikmati setiap detiknya. Jika ada yang berkata kamu berbeda setelah memiliki anak, jawab saja iya karena saat ini ada seseorang yang bergantung kepadamu hingga saatnya nanti dia dapat mandiri seperti dirimu saat ini.”

Jatuh cinta lagi. Senyum. Tangis. Gerak. Aroma mulut. Aroma tubuh. Tumbuh dan berkembanglah. Tapi jangan cepat-cepat. Biarkan Ibu menikmati setiap detiknya bersama kamu.

lima puluh enam

Sudah lima puluh enam hari Runi hadir melihat dunia. Perlahan saya pun mulai memahaminya. Memahami arti setiap tangis dan gerakannya. Bagaimana suara tangisnya disaat Runi lapar, disaat Runi ingin digendong, atau disaat Runi buang air kecil dan besar. Setidaknya jauh lebih baik ketimbang dibulan pertama yang membuat saya merasa stress, kesepian, kelelahan, ingin melarikan diri.

Bulan pertama ada Runi adalah masa yang terberat untuk saya, secara fisik atau pun secara mental. Secara fisik saya kelelahan. Harus terbangun setiap malam, harus serba buru-buru mengerjakan apa pun karena takut si bayi terbangun dan menangis. Sampai terkadang disaat sedang mengerjakan sesuatu saya merasa mendengar suara tangis dan sesegera mungkin mengecek keadaan si bayi dan ternyata si bayi masih tidur nyenyak.

Secara mental, yang paling menonjol diawal kelahiran Runi adalah betapa saya merasa kesepian, sedih, gundah gulana dan merindukan masa-masa disaat Runi belum lahir. Baby Blues Syndrome. Setelah kadar bilirubin Runi tinggi dan dia harus difototerapi, saya memiliki rasa tidak percaya diri saat menyusui Runi. Rasa tidak percaya diri bahwa ASI saya cukup untuk Runi, bahkan pada saat menyusui Runi disaat Runi dirawat di PERINA, saya merasa takut tidak ada ASI yang keluar dan akhirnya saya hanya menggendong Runi saja dan membiarkan Runi meminum susu formula selama di PERINA. Padahal saya sudah dipijat laktasi dan ASI saya sudah bisa keluar. Namun sekarang saya yakin ASI saya cukup untuk Runi, melihat begitu bulat pipinya dan berat badannya yang terus naik.

Terkadang bisa saya menangis tanpa sebab saat sedang sendiri tanpa alasan yang jelas. Merasa tidak ada seorang pun yang memperhatikan saya. Terkadang bisa merasa begitu kesepian, merindukan kebiasaan saya yang selalu pergi keluar rumah, entah bertemu teman saya di mall atau bertemu teman-teman di komunitas. Sejak dulu saya memiliki kebutuhan untuk bertemu orang dan mengobrol. Namun, sekarang saya hanya bisa tinggal di rumah. Bahkan untuk berbasa-basi via whatsapp atau media sosial lain pun enggan saya lakukan. Beruntung semua rasa itu sudah tidak lagi menyerang saya.

Betapa saya selalu merasa kuatir setiap melihat Runi dan hampir setiap hari pasti saya mencari tahu apa yang saya lihat terjadi pada Runi di mesin pencari google untuk memastikan bahwa semua baik-baik saja. Berkali-kali saya mencoba menenangkan diri bahwa wajah bayi dibawah satu bulan akan memerah sekali bahkan terlihat amat sangat kesakitan saat mengejan diwaktu dia buang air besar, buang air kecil atau pun buang angin. Rasanya begitu kasihan dan amat kuatir saat melihat Runi terlihat berjuang sangat dengan keras untuk buang air. Satu hal yang menjadi pemicu kami tertawa, suara buang angin Runi yang begitu besar dan lucu. Entah apakah ini ada hubungannya atau tidak dengan kebiasaan saya saat hamil yang begitu sering buang angin.  Dan bibirnya yang selalu membentuk kerucut setelah buang air atau buang angin, seolah tidak ada yang terjadi.

Atau bagaimana paniknya saya saat melihat feses Runi yang terlihat berbeda dari biasanya, apalagi disaat dia berusia enam minggu. Fesesnya berwarna hijau dan berbusa. Atau disaat feses Runi agak encer atau Runi BAB sampai lebih dari 10 kali dalam sehari. Bahkan setiap selesai menyusu, Runi pasti BAB walaupun hanya sedikit. Panik. Saya langsung mengingat-ingat makanan apa saja yang saya makan. Berpikir bahwa ini semua salah saya yang ceroboh memilih makanan. Namun akhirnya lagi dan lagi saya mencari tahu di mesin pencari dan menemukan sumber ini dan saya bernafas lega karena itu adalah hal yang wajar.

Betapa kepayahannya saya saat Runi mengalami masa growth spurt-nya yang membuat saya tidak bisa mengerjakan apa pun selain menyusui dan menggendong Runi. Hampir setiap satu jam Runi merengek untuk menyusu dan minta digendong setelahnya sebelum akhirnya dia bisa tidur. Beruntung hal ini hanya terjadi sekitas tiga hari. Setelah itu semua kembali kepada keadaan normal. Runi menyusu setiap 2-3 jam sekali. Ibu pun bisa lebih tenang.

Beberapa hari belakangan Runi terkena batuk pilek dan itu membuatnya tidak bisa tidur. Setiap malam selalu gelisah dan terbangun. Bergantian menggendong Runi sampai akhirnya Runi bisa tidur dengan nyenyak. Yang terpanjang adalah saat Runi terbangun pukul 20.00 WIB, jadwal Runi biasa menyusu dan tidur setelah selesai menyusu, namun kali ini selesai menyusu, Runi terus terjaga, menangis, menendang saat disusui. Saya mencoba menggunakan cara meletakkan air panas yg diberikan minyak kayu putih (ini cobaan untuk saya yang tidak begitu menyukai aroma minyak kayu putih) di pojok kamar agar hidung Runi tidak tersumbat. Gagal. Runi masih merengek. Begitu terus sampai sekitar pukul 02.00 WIB dan akhirnya Runi tidur setelah disuapi ASIP dengan cup feeder. Runi tidur nyenyak, semua tenang.

Atau disaat perut Runi kembung. Awalnya kami tidak tahu jika perut Runi kembung, saya terus mencoba menyusui Runi. Tapi dia terus menolak, memberontak dan akhirnya menangis keras. Bergantian kami menggendongnya, Runi masih saja menangis. Sampai akhirnya Ibu mertua mengambil bawang merah dan minyak goreng untuk kemudian bawang merah tersebut diparut dan dioleskan di perut Runi dan kepalanya. Tidak lama kemudian Runi buang angin dan tidur. Pelajaran penting kali ini. Parutan bawang merah.

Namun semua kekuatiran tersebut lenyap saat Runi bisa tidur dengan begitu nyenyak dengan pose kesukaannya. Tidur dengan posisi miring seperti layaknya orang dewasa. Melihat bagaimana dia tersenyum atau membalas pandangan saya saat menyusuinya. Saya begitu menyukai momen disaat menyusui Runi. Karena saat itu kami begitu dekat.

Lima hari lagi Runi akan berusia dua bulan. Saatnya kembali imunisasi dan menimbang berat badannya. Tidak sabar untuk tahu berapa berat badannya saat ini. Tidak sabar untuk mendengar kata pertama yang keluar dari bibirnya. Tidak sabar untuk melihatnya mulai tengkurap, merangkak, berjalan hingga berlari mengejar mimpi-mimpinya kelak.

Runi, tumbuh dan berkembang lah. Ibu dan Abi akan ada untuk Runi. Mendampingi dan memberikan kasih sayang kami untuk Runi. Jadilah Runi yang begitu dirindukan seperti sinar matahari pagi. Jadilah Runi yang penuh dengan ketulusan dan kelemahlembutan yang dapat menjadikanmu sahabat yang menyenangkan. Jadilah Runi.

IMG-20160202-WA0002

 

Arunika Fayyola Adeeva

download

Arunika. Secara tidak sengaja saya menemukan gambar diatas dan saya langsung jatuh cinta. Kelak jika janin yang saya kandung adalah seorang perempuan, nama inilah yang akan menjadi namanya dan Alhamdulillah saya pun melahirkan seorang anak perempuan mungil yang kami beri nama Arunika.

Arunika Fayyola Adeeva. Sinar matahari pagi yang penuh dengan ketulusan, lemah lembut dan menyenangkan. Begitulah doa saya dan suami saat menamai puteri pertama kami dengan harapan anak kami akan menjadi seperti sinar matahari yang selalu ditunggu dan memberi begitu banyak manfaat. Menjadi seorang perempuan yang penuh dengan ketulusan di dalam hatinya dan lemah lembut. Seorang perempuan yang kelak akan menjadi sahabat yang menyenangkan untuk semua orang. Seseorang yang dinantikan karena begitu menyenangkan dan dapat menjadi seseorang yang selalu bisa memberi manfaat dan menyebarkan kebaikan dengan penuh rasa ketulusan dan lemah lembut.

Arunika.

Senin,  7 Desember 2015 tepat pada pukul 05.08 WIB adalah waktu disaat Allah menunjukkan kekuasaannya saat saya mendengar tangisan di dalam ruang operasi. Hanya ada airmata dan ucapan hamdalah yang menjadi bentuk syukur atas kelahiran Runi dan tangisnya itu yang membuat saya sangat bersyukur karena tangisnya itu yang menunjukkan paru-parunya terbentuk sempurna.

Pagi hari di Sabtu, 5 Desember 2015, seperti biasanya setiap pagi sebelum sholat Subuh saya selalu pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil lalu kemudian sholat. Namun Subuh kali ini terasa berbeda. Setelah dari kamar mandi, rasanya mengantuk sekali dan akhirnya saya memutuskan untuk sekedar berbaring. Tetapi kemudian ada rasa mulas dan pegal di pinggang selama hampir 5 menit. Ah, saya pikir hanya rasa mulas biasa. Rasa mulas dan pegal hilang, tiba-tiba saya merasakan sesuatu yang hangat keluar seperti air seni. Dengan sok tenang, saya bangunkan suami. Perlahan saya dibantu untuk bangun dan saat saya berdiri, byar, banjirlah. Ketuban saya mengalir deras. Sekali lagi, dengan sok tenang saya mencari Ibu saya yang ternyata sedang sholat Subuh. Dengan tenang saya tunggu Beliau. Dalam pikiran saya, sekarang sudah waktunya. Mungkin si Janin sudah tidak sabar ingin keluar. Ingin melihat riuhnya tahun baru di Jakarta. Atau mungkin di dalam sudah begitu sempitnya sehingga dia ingin cepat keluar agak bisa bergerak bebas. Jantung saya berdegup kencang. Saya belum menyiapkan mental saya untuk masuk ke dalam ruang operasi dalam waktu dekat.

Grabak grubuk seisi rumah ribut karena ternyata benar ketuban saya terus mengalir.  Diantarkan ke bidan dekat rumah untuk periksa sebelum kami memutuskan untuk pergi ke Rumah Sakit. Setelah diperiksa bidan, ternyata belum ada pembukaan dan ketuban saya bukan lagi hanya sekedar rembes, namun sudah pecah. Harus segera diambil tindakan. Akhirnya pulang lah saya untuk menyiapkan perlengkapan dan dokumen-dokumen yang harus dibawa.

Sampai di rumah, saya dan suami hanya saling tatap. Banyak yang harus disiapkan. Bahkan beberapa barang baru terbeli beberapa hari yang lalu karena Hari Perkiraan Lahirnya masih sekitar tanggal 5 Januari, sebulan lagi. Selesai memasukkan barang-barang ke tas, saya masih bisa mandi dan sarapan nasi uduk dan segelas teh manis. Biar kuat kata Ibu saya. Makan dengan kondisi ketuban yang masih terus keluar itu rasanya unik. Dan sampai pada akhirnya kami baru jalan ke Rumah Sakit sekitar pukul 07.30 WIB. Rumah Sakit yang kami pilih adalah Rumah Sakit Ibu dan Anak Bunda Aliyah yang ada di daerah Pondok Bambu karena lokasinya yang dekat dengan rumah dan saya sudah merasa srek dengan pelayanan di RS tersebut setelah sebelumnya pernah dirawat di sana saat hamil 12 minggu karena infeksi usus.

Sepanjang jalan ke RS jantung saya berdegup kencang. Berpikir hari itu juga saya harus masuk ke ruang operasi untuk menjalani operasi caesar karena sudah pecah ketuban. Sampai di sana, saya langsung dirujuk masuk ke ruang observasi. Setelah cek ini itu, suntik ini itu dan ternyata saya tidak bisa dioperasi hari itu karena usia kandungan yang baru 35 minggu. Jika saja usia kandungan sudah 37 minggu, bisa hari itu juga saya menjalani operasi caesar. Yah walau pun banyak bercandaan dari orang-orang bahwa belum genap 9 bulan menikah, sudah lahir si anak. Tindakan pematangan paru pun dilakukan karena ditakutkan paru-paru janin tidak berkembang sempurna dan dapat menyebabkan kematian pada bayi yang baru lahir karena paru yang belum matang sempurna. Meringis dan tertawa yang bisa saya lakukan saat disuntikkan dexamethasone karena rasanya.

Dua hari saya di ruang observasi. Bolak balik diperiksa detak jantung saya dan detak jantung si janin dan menghitung gerakan si janin di dalam rahim. Jika detak jantung si janin tidak menurun, tindakan operasi caesar akan dilakukan di Hari Senin seperti yang dijadwalkan. Tetapi jika ternyata detak jantung janin menurun, akan dilakukan operasi caesar hari itu juga. Ibu saya yang paling ketar ketir. Beberapa kali Beliau menanyakan bagaimana jika ternyata detak jantung si janin menurun tetapi rumah dokternya jauh bahkan beberapa kali saya melihat Beliau menitikkan airmata. Disaat saya hampir menjadi seorang Ibu, Ibu saya masih tetap saja seorang Ibu yang mengkuatirkan anak perempuannya.

Air ketuban terus merembes selama dua hari. Saya hanya boleh tiduran di atas tempat tidur, itu pun tidak boleh posisi miring, harus telentang karena merangsang keluarnya air ketuban. Untuk buang air kecil dan buang air besar pun harus dilakukan diatas tempat tidur. Bahkan saat harus periksa USG di poli yang ada di lantai dasar, saya harus pasrah menerima tatapan orang-orang yang penasaran dengan wanita hamil yang didorong-dorong diatas tempat tidur. Akhirnya hanya ada rasa pegal dan pegal di pinggang dan punggung saja. Rasanya ingin menangis saking sakitnya. Bagaimana rasanya kontraksi duh gusti kalau rasa pegal ini saja sudah begini sakitnya. Berkali-kali memanggil suster karena sakit pegal, berkali-kali pun suster bilang ini wajar. Tidak apa-apa. Dan begitu pula jawaban suster saat berkali-kali saya bertanya apakah tidak apa-apa jika air ketuban saya terus keluar. Beruntung suster-suster disana sabar.

Akhirnya saya dijadwalkan untuk operasi caesar di Hari Senin pukul 05.00 WIB dibantu oleh dr. Alesia Novita. Dua hari setelah ketuban saya keluar. Minggu malam, saya tidak bisa tidur. Antara takut, gelisah, tidak sabar, senang, yah pokoknya semua rasa lah. Seperti kalau mau piknik di esok hari, malam terasa begitu lama padahal sudah tidak sabar ingin pergi jalan-jalan. Pukul 04.00 akhirnya saya dibawa ke ruang operasi. Ganti baju dengan baju operasi. Sekitar pukul 04.30 akhirnya seluruh dokter sudah masuk ke ruang operasi. Rasanya duh gusti, degdegan. Dingin. Ada lima orang di dalam ruang operasi, dua orang diantaranya laki-laki. Saya hanya bisa pasrah saja dengan keadaan tubuh saya yang setengah telanjang.

Semua begitu cepat, dimulai dari dokter anestesi meminta saya untuk tenang hingga saya sudah berbaring di ruang pemulihan. Hanya bisa pasrah saat proses operasi. Saya tidak merasakan sakit, namun terasa saat tubuh saya menyentuh pisau operasi dan saat tubuh saya diangkat, digeser oleh asisten dokter atau saat perut saya didorong oleh dokter anestesi saat mengeluarkan janin. Suara tangis Runi membuat saya tidak bisa menahan airmata. Tangis yang dinantikan. Kemudian Runi dibawa keluar meninggalkan saya yang harus melewati proses dijahit untuk menutup jalan lahir Runi. Hampir satu jam saya berada di ruang operasi dan kemudian saya dibawa ke ruang pemulihan.

Orang pertama yang saya temui di ruang pemulihan adalah suami. Airmata ini mengalir begitu deras saat suami mencium kening dan mengucapkan terima kasih. Entah apa yang mendorong airmata ini untuk menjadi begitu dramatis. Airmata makin deras saat melihat foto anak yang baru saja keluar dari rahim saya. Begitu mungil. Tubuhnya hanya seberat 2.575 gram dan sepanjang 46 cm. Kecil.

Saya ditemani suami saya selama di ruang pemulihan. Menggigil sekali rasanya tubuh ini dari ujung kepala sampai ujung kaki. Efek dari anestesi kata dokter. Saya masih bisa tertawa saat masih berada dibawah pengaruh obat bius, tapi begitu sudah mulai hilang pengaruh obat biusnya, saya mulai meringis. Rasanya seperti dikelitiki tapi dengan jarum. Biyung. Saat ini saya yakin, melahirkan dengan operasi caesar tidak seperti yang dibilang orang-orang bahwa rasanya tidak semenyakitkan melahirkan dengan proses alami. Saya percaya, proses melahirkan alami atau pun melalui proses operasi caesar itu sama saja. Sama-sama bertaruh dengan nyawa. Sama-sama hal yang mulia. Dan saya pun sudah menguatkan diri jika nantinya akan ada mulut-mulut yang berkata bahwa saya belum sempurna menjadi Ibu karena tidak merasakan sakitnya melahirkan. FYI, melahirkan dengan operasi caesar pun sakit, Jenderal! Butuh satu minggu untuk saya bisa berjalan dengan normal tanpa mengaduh atau bertopang pada tembok.

Setelah hampir 3 jam saya sudah bisa menggerakkan kaki saya, saya dipindahkan ke ruang perawatan dan masih belum bisa bertemu dengan Runi karena Runi masih diobservasi dahulu. Kesempatan saya bisa tidur dan beristirahat. Baru sekitar pukul 16.00 untuk pertama kalinya saya melihat puteri pertama saya. Rasanya luar biasa. Begitu besar kekuasaan Allah. Bagaimana bisa makhluk kecil ini bisa berkembang di dalam rahim dan bisa keluar dalam keadaan sempurna. Janin yang diperkirakan baru keluar sebulan lagi, namun saat ini sedang tertidur di samping saya. Begitu damai.

Butuh 4 hari untuk saya dirawat dan drama pun ternyata muncul di hari ketiga. Runi termasuk bayi yang anteng, tidak banyak menangis seperti bayi-bayi lain yang dirawat di ruang perawatan yang sama dengan saya. Kegiatannya pun hanya tidur. Dia termasuk sulit dibangunkan untuk menyusu, untuk menerapkan menyusui dua jam sekali agak sulit dilakukan. Setiap disusui, Runi hanya tidur dan tidak mau membuka matanya. Padahal sudah dikelitiki, sudah dicolek-colek akhirnya Runi mau menyusu. Saya tenang, karena saya berpikir saat Runi menyusu, ada air susu yang keluar. Tapi ternyata tidak ada yang keluar dan saya baru sadar itu di hari Rabu malam saat untuk pertama kalinya Runi menangis. Benar-benar menangis sejak pukul 11 malam sampai keesokan harinya. Lapar. Tubuhnya panas dan tangisnya tidak berhenti. Berkali-kali memanggil suster karena kami kuatir. Sampai akhirnya Runi diperiksa saat pagi setelah dimandikan. Bilirubin Runi tinggi. 15. Runi harus difototerapi di PERINA. Hati ini rasanya hancur. Hari ini seharusnya saya pulang bersama Runi, tapi ternyata hanya saya saja yang bisa pulang. Runi harus tetap tinggal di RS.

Setelah tahu kadar bilirubin Runi tinggi, muncul lagi persoalan. Runi tidak bisa difototerapi karena dia terus menangis karena lapar, sedangkan untuk proses fototerapi, si anak harus diberi minum setiap satu jam sekali karena panas dari lampunya, apalagi Runi harus difototerapi dengan dua lampu. Biar saya gambarkan bagaimana fototerapi itu, bayi hanya memakai popok sekali pakai, topi dan semacam kacamata, diletakkan di kotak bayi dan diatasnya diletakkan lampu berwarna ungu.

Berkali-kali saya dipanggil ke PERINA untuk menyusui Runi dan berkali-kali pula saya menahan nangis karena tidak ASI yang keluar. Berkali-kali pula hati saya hancur setiap mendengar Runi menangis karena jika masih menangis, Runi tidak bisa difototerapi. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke kamar. Mencoba untuk menggunakan pompa. Dipompa dengan pompa, diperah dengan jari, tidak ada hasilnya. Minum obat pelancar ASI, makan sayur katuk, bahkan sampai mencoba makan daun pepaya rebus yang pada akhirnya hanya berujung dengan keluarnya semua isi perut saya. Tidak ada ASI yang keluar. Saat itu saya merasa gagal sebagai seorang Ibu karena tidak bisa memberikan ASI untuk Runi.

Kami mencoba mencari donor ASI karena kami masih berharap untuk tidak menggunakan susu formula. Kebetulan saat itu ada tetangga dekat yang anaknya sedang dirawat dan Beliau pun sedang menyusui puterinya yang berusia 5 bulan. Kami mendapatkan ASI sebanyak 110 cc. Dan langsung habis diminum Runi itu pun Runi masih menangis karena lapar.

Saya dan suami sibuk menghubungi teman-teman kami untuk mencari donor ASI. Gagal. Sampai akhirnya ada Ibu yang menawarkan untuk memberikan stok ASIP miliknya. Namun begitu banyak pertimbangan dari kami untuk menerima ASIP milik Ibu tersebut, apalagi anak Ibu tersebut adalah laki-laki. Kuatir dengan bagaimana nantinya, akhirnya dengan berat hati saya dan suami memutuskan untuk memberikan susu formula agar Runi bisa segera difototerapi. Dan akhirnya Runi bisa difototerapi.

Runi difototerapi. Saya pulang.

Dan sekarang Runi sudah hampir berusia dua bulan dan saya pun bergulat di dunia menyusui dan melek malam. Alhamdulillah. Dan rasa paling bahagia itu disaat bisa menidurkan Runi dan dia tidur dengan senyumnya. I’m happy.

Alhamdulillah telah lahir puteri pertama kami pada tgl 7 Desember 2015 pkl 5.08 wib dengan berat badan 2.575gr dan panjang 46 cm.

Semoga jadi anak yg soleh, mengabdi pada Allah, berbakti pada orangtua dan berguna bagi alam semesta ya, Sayang.

Terima kasih Tante dan Om yg sudah mendoakan persalinan Runi ya :))

View on Path

#Minggu 35: Resah

Sudah masuk ke-minggu 35. Padahal baru kemarin rasanya saya terdiam di kamar mandi memandangi alat tes kehamilan yang terpaksa saya beli karena dipaksa oleh teman saya.

Kurang dari 4 minggu lagi, saya akan bertemu dengan sosok janin yang sudah 35 minggu ini selalu menemani saya kemana-mana. Rasanya? Tidak sabar namun takut. Ingin cepat-cepat bertemu, namun resah. Bagaimana saya harus menyapanya saat pertama kali kami bertemu nanti? Mungkin hal pertama yang akan terjadi, saya akan tersenyum lalu menangis.

Baru tahu saya rasanya hamil. Begitu penuh kelucuan, kebahagiaan, kesakitan, kepayahan, kemanjaan. Betul kata teman saya, PMS wanita belum ada apa-apanya dibandingkan dengan hormon wanita yang sedang hamil. Bersabarlah wahai Suami, semua akan selesai saat istrimu melahirkan. Eh, tunggulah sampai istrimu merasakan baby’s blue.

Di Minggu 35 ini, semakin kepayahan untuk berjalan, untuk sekedar bergerak untuk pindah posisi tidur, untuk duduk berlama-lama, untuk melakukan pekerjaan rumah, untuk berjalan-jalan mengunjungi kamar mandi di tengah malam, untuk bersujud. Satu hal yang akhirnya membuat Ibu tersadar, itulah alasan mengapa Allah memuliakan seorang Ibu. Hanya Ibu yang kuat dan sanggup untuk merasakan semua itu disaat hamil. Tapi setiap gerakanmu–yang semakin lama semakin keras–menguatkan Ibu, sayang. Kita akan bertemu segera.

Kamar sudah dipenuhi dengan semua barang-barang mini untuk si Janin yang sedang menanti untuk segera keluar bertemu dengan orang-orang yang menyayanginya bahkan sebelum dia keluar dari rahim Ibunya. Rasanya menyenangkan, melihat semua barang-barang yang begitu kecil saat digenggam. Senyum tanpa henti saat saya mencuci barang-barang tersebut, rasanya tidak sabar ingin segera memakaikan itu semua di tubuh mungilnya.

Tunggulah sayang, sampai kita bertemu nanti ya. Puas-puaskanlah dulu di dalam sana. Tendang atau sikutlah Ibu jika Ibu terlalu asik melakukan hal yang membuat Ibu lupa untuk menyapa dan mengelusmu. Balaslah saat Ayah mengelus dan mencium perut Ibu saat mengucap salam padamu. Karena nanti, saat kamu sudah keluar dari rahim Ibu, tak bisa lagi Ibu merasakan tinjuan dan tendanganmu.

Baik-baik ya di dalam. Ibu pun akan baik-baik menjagamu sampai waktunya nanti kita bertemu🙂

 

 

Hai

Sudah waktunya melarikan diri dari sosial media. Sudah waktunya untuk bergumul dengan buku-buku dan ilmu-ilmu yang telah lama tertinggal karena asyik tenggelam didalam keriuhan sosial media. Berusaha untuk mengembalikan pengertian manusia sebagai makhluk sosial.

Mungkin memang sudah saatnya berpindah tempat berbagi kebahagiaan, kesedihan, kegundahan kepada Tuhan yang pada akhirnya selalu ada untuk kita. Cukup dibagi berdua saja. Intim. Tak usah semua orang tahu. Jika memang ada yang ingin tahu, biarkan mereka bertanya langsung. Bukan tahu dari kata-kata atau gambar yang kita sebar di sosial media.

Sosial media yang tidak benar-benar membuat kita menjadi makhluk sosial.