Saya kakak dan dia adik

image

Saya adalah seorang kakak perempuan dari dua orang adik laki-laki. Mungkin karena itulah saya menjadi seorang perempuan yang terkadang bersikap seperti laki-laki. Terlalu banyak pengaruh laki-laki yang saya serap.

Sebenarnya saya tidak terlalu dekat dengan kedua adik saya. Mungkin karena beda umur yang terpaut cukup jauh, atau juga karena sifat kami yang berbeda. Lebih baik untuk kami saling diam ketimbang berbincang dan berakhir dengan pertengkaran.

Jujur, terkadang saya merasa bahwa saya ini lebih lelaki ketimbang adik saya yang tepat dibawah saya. Kami berdua sangat berbeda, meskipun kami hanya terpaut 3 tahun. Satu hal yang baru saya sadari, saya seorang sanguinis dan dia seorang melankolis. Keduanya sulit untuk bersatu karena saya yang cenderung ceplas-ceplos mengatakan hal yang ada di kepala saya, bertentangan dengan adik saya yang sensitif dan cenderung tempramen. Dia sangat mudah tersinggung.

Contohnya hari ini, hanya karena masalah pintu kamarnya yang lupa saya tutup, dan akhirnya anak kucing dirumah saya masuk kekamarnya. Kami bertengkar. Kata-kata yang dia keluarkan cukup membuat saya berpikir, lho kok gini?. Ya, memang kata-kata yang dia keluarkan seringkali menyakitkan. Dan saya pun seringkali ikut terpancing emosi karena kata-katanya.

Sebenarnya saya ingin hubungan kami tidak seperti ini, selalu panas dan tegang, seolah kami sedang melangsungkan perang dingin yang sedang menunggu untuk kembali panas. Saya sedang belajar untuk memahami seorang melankolis seperti adik saya.

Kadang saya berpikir, akan seperti apa kami di masa depan. Akankah kami bisa menjalin hubungan selayaknya adik kakak yang akur seperti orangtua kami dengan saudara mereka? Ibu saya seringkali berkata kepada adik saya untuk lebih sabar, namun menurut saya hal itu tidak mengubah adik saya. Hal itu yang membuat saya malas untuk berinteraksi dengan adik saya. Salahkah saya? Menurut saya iya, saya salah. Seharusnya saya membimbing dia untuk berubah namun ternyata ego saya mengalahkan keinginan saya sebagai seorang kakak.

Mungkin ini karena dia seorang anak tengah. Bukan maksud saya untuk menyambung-nyambungkan anak tengah dengan sifat adik saya. Namun saya telah mengadakan sedikit penelitian kecil terhadap teman saya yang memiliki anak tengah-tengah dikeluarganya ataupun teman saya yang kebetulan adalah anak tengah. Memang jika diperhatikan kebanyakan anak tengah itu memiliki sifat melankolis. Cenderung sensitif dan mudah tersinggung karena semua yang dia terima selalu mereka cerna dengan menggunakan hati mereka. Mungkin karena mereka merasa terkucilkan dikeluarga mereka. Jika saya perhatikan, anak tengah cenderung memendam perasaan mereka disaat mereka menginginkan sesuatu, berbanding terbalik dengan anak pertama dan bungsu yang cenderung blak-blakkan disaat mereka menginginkan sesuatu. Mungkin itu yang akhirnya membuat mereka merasa terkucilkan karena tidak bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka cenderung pasrah. Sudahlah, sepertinya terlalu banyak saya mengoceh tentang adik saya yang kebetulan adalah seorang anak tengah yang melankolis.

Sedangkan hubungan saya dengan adik bungsu saya cenderung lancar. Dia baru kelas dua SMP, saat dia sedang penuh dengan keingintahuan. Saya senang sekali disaat adik saya itu melemparkan banyak pertanyaan-pertanyaan kecil kepada saya dan tersenyum puas saat mendengar jawaban dari saya. Itu menciptakan kebahagiaan dalam diri saya. Kebahagiaan atas hal kecil.

Walaupun adik saya itu dulu sangat menyebalkan karena manja, namun setelah masuk SMP, saya merasa dia sedikit demi sedikit mulai berubah dan hal itu membuat saya senang.

Well, semoga dikemudian hari saya bisa menjadi seorang kakak yang baik untuk adik-adik saya. Walaupun saya seorang perempuan. Saya ingin adik-adik saya sadar bahwa saya selalu ada untuk mereka. Tahu bahwa saya mengkhawatirkan mereka. Tahu bahwa saya menyayangi mereka walaupun saya tidak pernah mengatakan secara lisan. Saya bukan seorang yang romantis. Satu hal yang sering saya lakukan, mengelus kepala adik saya disaat mereka tidur. Hal itu cukup untuk melepaskan rindu saya pada mereka.
Saya sayang adik-adik saya.

Advertisements

Mencoba untuk memahami makna bahagia

image

Dulu, saya selalu merasa bahwa untuk bahagia saya memerlukan uang. Dulu, saya terlalu sering mencari kebahagiaan dengan menghamburkan uang, walaupun sekarang juga masih. Dulu, saya berpikir saya bisa bahagia dengan menerima hadiah materi dari orang-orang terdekat saya. Saya hanya memikirkan materi yang terkadang membuat saya lupa tentang konsep bahagia itu sendiri.

Hingga saatnya saya tersadar dengan arti bahagia itu sendiri. Saat ini saya merasa bahagia, meskipun saya tidak memiliki banyak materi. Saya tidak lagi mengharap materi dari orang-orang terdekat saya. Saya sudah merasa sangat bahagia dengan berada didekat orang yang saya sayangin.

Saya memiliki banyak kebahagiaan yang tidak bisa saya ungkapkan dalam kata, hanya senyum, tawa dan jantung yang berdegup dengan kencang ini yang menjadi bentuk kebahagiaan saya.

Saya sekarang menjadi seseorang yang mudah untuk mendapatkan kebahagiaan. Walaupun saya tidak memiliki materi saat ini. Namun kebahagiaan terpancar disekitar saya. Saya dapat bahagia dengan mudah saat saya melihat butiran hujan yang jatuh kebumi, tetesan yang jatuh menyentuh pipi saya. Itu bisa membuat saya bahagia.

Suara tawa anak kecil yang ada disamping saya, membuat saya bisa merasakan kebahagiaan yang dirasakan ibu dari sang anak. Sentuhan tangan ibu saya dipinggang saya, bisa membuat saya bahagia. Sepasang adik kakak yang bercanda dan tertawa, mampu membuat saya tersenyum.

Dulu, orang-orantg berkata pada saya bahwa untuk bahagia, saya harus memiliki banyak harta. Tapi itu salah, saya bisa bahagia tanpa harus mengeluarkan sepeser uangpun.
Dulu, orang berkata untuk bahagia saya harus memiliki pasangan. Ya, saya akui hal itu benar. Karena memang disaat memiliki pasangan, saya bisa merasakan bahwa dunia ini memang hanya milik kami berdua. Namun sekarang, saya bisa bahagia tanpa pasangan. Bukan, bukan saya tidak ingin memiliki pasangan. Saya ingin memiliki pasangan, bukan hanya sekedar pasangan untuk bersenang-senang, saya ingin memiliki pasangan yang bisa saya sebut suami, ayah untuk anak saya, imam dirumah saya, tempat saya bersandar, tempat saya berbagi, bukan hanya sekedar untuk sebagai aksesoris ataupun peningkat prestige dalam hidup saya. Saya bahagia untuk menjalani hidup saya saat ini tanpa seorang pasangan, karena saya memiliki tangan-tangan yang mampu menuntun saya dalam melangkah, membangunkan saya disaat saya tertidur, membantu saya berdiri disaat saya jatuh.

Satu hal yang saya sadari. Saya sangat mudah untuk merasakan kebahagiaan. Bahkan pesan singkat yang dikirim oleh teman saya pun mampu mengukir senyum dibibir saya. Telepon dari ibu saya pun mampu membuat saya bahagia, walaupun terkadang saya merasa jenuh karena setiap hari pasti ibu saya menelepon saya.
Berbagi cerita, tawa, dengan orang-orang disekitar saya pun mampu membangkitkan semangat saya dalam menjalani kehidupan yang terkesan penuh drama ini.

Tuhan, terima kasih telah Engkau berikan rasa ini. Terima kasih karena Engkau memberikan orang-orang hebat disekitar hamba. Terima kasih telah memberikan hamba orangtua paling hebat didunia. Terima kasih untuk angin yang menerpa lembut wajah hamba, karena angin itu yang telah menyadarkan hamba untuk terus bersyukur. Terima kasih untuk setiap tarikan dan helaan nafas ini. Terima kasih untuk kebahagiaan ini semua. Terima kasih.

Konsisten terhadap tulisan

image

Saya memilih gambar ini karena saya merasa saya harus melepaskan balon-balon udara yang berisi dengan jutaan huruf yang berebut untuk keluar kedunia bebas menjadi rangkaian kata yang bermakna.

Saya terlalu lama berdiam tanpa sedikitpun menyentuh jutaan ide yang berkecamuk didalam hati, pikiran dan diri saya. Saya ingin membiarkan semua itu bebas sehingga saya tidak akan menyesal dikemudian hari disaat saya sadar bahwa saya sudah terlalu tua dan lelah untuk sekedar merajut huruf per huruf.

Saya baru menonton film c.i.n.(T).a, baik, anda bisa menyebut saya ketinggalan jaman atau sebagainya karena ya, saya baru sempat menonton film tersebut setelah film itu mengendap dilaptop saya selama berbulan-bulan lamanya. Jujur, saya hanya bisa mendeskripsikan film ini dengan kata istimewa dan jujur.

Tema yang diangkat oleh film ini menurut saya memang sedikit berani karena mengangkat hal yang sedikit sensitif, agama. Satu hal yang saya tangkap dari film ini, Tuhan adalah seorang sutradara dan saya, kita, adalah pemain tanpa skenario.

Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Bagaimana tidak sempurna, mana ada makhluk Tuhan selain manusia yang berani untuk berkhianat pada Tuhan. Berkhianat atas kehendaknya sendiri yang terkadang setanlah yang menjadi kambing hitam. Saya bukan bermaksud untuk membela setan, namun, saya selalu berpikir, manusialah yang memiliki wewenang untuk menentukan hal yang ingin dia lakukan, baik benar atau salah. Bukan setan yang memilihkan pilihan untuk manusia.

Saya suka dengan penggambaran Tuhan disini, bagaimana sebenarnya Tuhan itu satu. Tuhan menginginkan kita untuk menyembahnya. Tuhan menginginkan kita untuk saling bergandengan tangan dan menjaga kedamaian dunia sehingga tercipta surga didunia ini, tanpa peduli apa bentuk Tuhan yang disembah, atau bagaimana cara menyembah. Tuhan itu Maha Mengetahui, Beliau tahu apakah diri kita manusia benar-benar menyembah Beliau dengan tujuan untuk menjalankan tugas kita sebagai makhluk di bumi. Tuhan tidak bodoh, Tuhan mengerti tentang perbedaan umatnya dalam menyembahnya. Tuhan Maha Mengetahui apa-apa yang umatnya tidak ketahui.

Jujur, saya terkadang sering tersinggung jika melihat teman seagama saya yang menjelek-jelekkan agama lain. Tidakkah mereka tahu bahwa nabi pada masanya tidak pernah menjelek-jelekkan agama lain. Beliau merangkul umat agama lain untuk membangun peradaban secara bersama-sma. Tanpa pernah mencoba untuk menyulut suatu pertikaian. Agamaku agamaku, agamamu agamamu. Setiap agama memiliki keistimewaan sendiri, manusia tidak mempunyai hak untuk menilai agama manakah yang terbaik. Manusia hanya harus belajar untuk menghormati. Titik.

Sudah terlalu jauh saya rasa tulisan ini. Saya hanya berharap semoga semua orang-orang yang berpikiran sempit itu dapat segera sadar dan merangkul orang-orang disekitar mereka tanpa perlu berprasangka dan curiga. Semua orang ingin merasakan aman bukan? Aman tanpa perlu merasa takut dengan orang disekitar mereka. Merasa percaya dengan orang disekitar mereka.

Baiklah, saya rasa sudah cukup banyak yang saya tumpahkan disini. Huh. Besok saya akan kembali menulis. Saya akan mencoba untuk menulis setiap hari. So, get myself ready to write! Yipp

Duduk diam dan termenung. Lagi.

Sulit sekali untuk saya mendapatkan rasa ini, rasa kemelankolisan saya yang mendorong saya untuk menumpahkan keruwetan pikiran” saya yang terus berputar dikepala saya. Saya butuh waktu untuk bisa merenung dan kembali menjalin huruf demi huruf hingga menjadi kesatuan yang dapat dimengerti.

Jujur, biasanya saya merasakan hal ini disaat saya sedang sedih ataupun merasakan tidak enak badan. Ya, kali ini saya sedang tidak enak badan. Sebenarnya saya sudah tidak enak badan sejak 2 hari yang lalu dan sekarang saya merasa panas dingin. Tuhan, jangan biarkan saya jatuh sakit dan kemudian terkapar di tempat tidur.

Saya berselisih dengan ibu saya sejak dua hari yang lalu. Jujur, kali ini saya tidak tahu bagaimana harus berkata kepada ibu saya. Mungkin memang saya yang sudah keterlaluan, tapi seandainya ibu saya tahu bahwa ini semua diluar kemampuan saya.
Saya sebenarnya ingin sekali berubah, namun keegoisan saya masih sangat besar dan mengambil alih alam sadar saya.

Memang saya tahu terlalu banyak hal yang membuat ibu saya kecewa kepada saya. Terlalu banyak hal yang membuat ibu saya terluka. Rasa itu saya yakin, membuat ibu saya semakin pusing.
Memang seorang ibu tugasnya menjaga dan merawat anaknya, dan ya, saya sadar bahwa ibu saya telah menjaga dan merawat saya seperti bagaimana seorang ibu merawat anaknya, bahkan lebih. Tetapi untuk kesekian kalinya, saya melihar air menetes dari ujung mata ibu saya. Dan itu sakit sekali. Lebih sakit daripada saat saya jatuh dari motor, atau saat kaki saya patah, atau saat saya terluka saat jatuh.

Mungkin memang saya terdengar cengeng atau manja, tapi terserah, saya tidak peduli. Saya hanya ingin meminta maaf kepada ibu saya. Saya ingin ibu saya memaafkan saya yang telah membuatnya menangisa dan terluka. Maaf untuk semua beban yang yang telah saya letakkan di punggung ibu saya. Maaf untuk semua helaan nafas yang engkau keluarkan disaat saya bertindak keterlaluan.

Saya paham bahwa ibu saya tidak mungkin membaca tulisan saya ini. Namun saya percaya bahwa tulisan ini akan sampai kedalam hati ibu saya. Saya memang hanya anak yang terlalu besar rasa egonya. Terlalu malu dan sombong untuk hanya sekedar meminta maaf. Saya ingat, disaat lebaran, saya tidak mengucapkan kata maaf dengan panjang, saya hanya bilang maaf, karena saya tahu, disaat saya mengatakan hal yang melebihi kata maaf maka saya akan menangis. Saya tidak mau memperlihatkan air mata saya dihadapan ibu saya.
Saya terlalu sombong.

Satu hal yang sering saya lakukan disaat saya merindukan ibu saya dan merasa bersalah padanya, saya akan memeluknya dan mencium aroma khas ditubuhnya. Saat itu saya merasakan satu ketenangan dan itu membuat saya merasa jauh lebih baik.
Saya rindu ibu saya. Walaupun setiap hari kami bertemu setiap hari, saya terus merindukan ibu saya.

Saya ingin ibu saya bahagia. Titik.
Saya ingin ibu saya menangis karena bangga memiliki anak seperti saya.
Semoga saya menjadi anak yang bisa menyelamatkan orangtua saya.
Amin.