Kerinduan yang terbawa kedalam alam bawah sadar

image

Saya semalam bermimpi dan sangat berharap mimpi itu adalah sebuah kenyataan. Saya bermimpi bertemu dengan orang yang sudah lama sekali tidak saya lihat secara langsung. Ya, maste, salah satu personel sahabat dahsyat walaupun sebenarnya saya tidak yakin apakah dia pernah menonton dahsyat disana atau tidak. Lebih baik dia tidak tahu acara dahsyat menurut saya, apalagi sm*sh, karena saya takut kalau dia tahu maka dia akan memiliki alasan kuat untuk tidak kembali ke tanah air tercinta. Duh.

Saya semalam bermimpi bertemu dengan dia dan sahabat dahsyat, spontan begitu melihat dia, kami langsung mengeroyok dia dan memeluknya. Saya bisa merasakan kerinduan yang sangat dalam mimpi saya itu. Kami memeluknya sangat lama, bahkan tidak membiarkan dia sedikitpun bergerak. Kami merindukan dia, walaupun tidak sampai setengah mati seperti lagu milik d’massive. Kalau dia tahu, kami benar-benar merindukan dia. Kami berharap dia merasakan yang sama, well, walaupun disana banyak bule. Eh. Maaf mulai melantur.

Kadang sempat terpikir, apa kami harus menyusul dia kesana? Astaga. Sudah setahun lebih saya tidak bertemu dia dan rasanya memang tidak bisa dideskripsikan. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya, dulu, sebelum dia pindah, kami hampir tiap hari berhubungan, entah lewat sms atau facebook. Namun sekarang? Jangankan tiap hari, seminggu sekali bisa saling bertukar kabar pun sudah sangat alhamdulillah. Kami telah sama-sama memiliki kesibukan masing-masing.

Ada rasa kehilangan. Saya, dia, dan sahabat dahsyat dulu sangat dekat. Hampir setiap hari melakukan hal bersama-sama saat kami di SMA. Makan dipojok koridor, bercanda, semua. Dulu, hampir setiap tahun saat salah satu dari kami ulangtahun, kami pasti akan merasakan kejutan ulangtahun. Dan pasti akan ada airmata. Walaupun agak cliche, tapi itu salah satu bentuk rasa sayang kami.

Saya rindu disaat kami berkumpul saat Jumat siang di keputrian, kami akan membentuk barisan bersama dan mulai bercanda, memakai headset dibalik kerudung kami, bertukar lagu melalui bluetooth atau ehem infrared bagi cippie, tanpa peduli dengan guru yang sedang berada didepan.
Saya rindu disaat kami saling mengirim pesan singkat melalui handphone, padahal kami sedang berada dikelas yang sama. Lalu sambil menahan tawa saat membaca pesan yang lucu.
Saya rindu saat kami naik angkutan umum dan didalam angkutan umum itu hanya terdengar suara tawa labil kami.
Saya rindu disaat suatu hal yang sederhana mampu membuat kami tertawa.
Saya rindu disaat segala sesuatu terasa mudah.
Saya rindu disaat kami berfoto ria, dalam formasi lengkap sebagai keluarga kecebong, sahabat dahsyat atau apapun itu.

Ah. Lagi dan lagi. Hujan ini mampu membuat saya menjadi melankolis. Sepertinya memang inilah alasan mengapa saya cinta hujan. Bau hujan ini mampu menuntun saya untuk mengetik kata-kata dikeypad handphone. Suara hujan mampu membisikkan ide-ide dikepala saya yang membujuk tangan ini untuk menyampaikan isi kepala saya. Ah.

Sudahlah. Yang jelas, saya bersyukur memiliki keluarga kecebong a.k.a sahabat dhasyat; nidia, cumy, cippie, maste, nja, tika, tary, kiki, tanti, dewi. Mereka adalah hadiah yang diberikan untuk saya oleh Tuhan. Hadiah termanis.

Advertisements

Perpisahan?

Perpisahan?
Saya bingung.
Airmata sudah mengambang.
Walaupun tidak tahu tentang perpisahan itu sendiri.
Membayangkannya saja sudah berhasil membuat saya berkaca-kaca.
Sudahlah, tunggu besok saja.

Hujan+musik sendu=kemelankolisan

Ya, ini kali kedua saya menulis diblog saya dalam satu hari. Hujan, kali ini saya menulis karena hujan.

Saya men-tweet di account twitter saya bahwa hujan telah berhasil membuat saya menjadi melankolis. Lagi.

Ah. Hujan ini berhasil membuat saya menitikkan airmata. Well, saya gagal menahan airmata ini untuk turun. Seiring dengan turunnya hujan, maka potongan-potongan kenangan yang pernah saya alami pun bergantian muncul didalam kepala saya, diiringi dengan bunyi hujan yang menurut saya jauh lebih romantis ketimbang lagu-lagu manapun. Tuhan Maha Hebat memang dalam menciptakan segalanya.

Saya menulis saat ini karena saya terharu dengan teman saya yang berkata bahwa dia merindukan ayahnya yang telah meninggal beberapa tahun lalu. Jujur, saat dia berkata bahwa orang yang dia rindukan adalah ayahnya, spontan airmata saya jatuh. Walaupun saya tidak mengenal ayahnya, namun saya yakin bahwa ayahnya akan sangat bangga karena memiliki anak seperti teman saya tersebut. Teman saya berkata bahwa setelah ayahnya tiada, dia hanya bertemu dengan ayahnya didalam mimpi selama 2 kali. Dia bertanya apakah yang sedang dilakukan ayahnya disana. Airmata saya semakin deras mengalir. Walaupun saya tidak tahu bagaimana rasanya merindukan seseorang yang telah tiada, namun saya yakin bahwa rasa rindu itu jauh-jauh lebih dalam ketimbang saat saya merindukan orang yang saya sayangi yang hanya terpisah jarak. Namun teman saya, dia dan ayahnya terpisah waktu, jarak, dimensi, dunia. Tidak bisa sedikitpun berkomunikasi secara langsung.

Atau seperti teman saya yang lain, dia harus ditinggal oleh ayahnya saat masih di Sekolah Menengah Pertama. Saya tidak mampu untuk membayangkan jika saya berada diposisi teman saya. Betapa saat itu teman saya masih sangat muda. Masih sangat membutuhkan sosok seorang ayah. Namun ternyata Tuhan berkata lain. Beliau lebih menyayangi ayah teman saya tersebut, hingga Beliau memutuskan memanggil ayah teman saya kembali kesisinya.

Saya kagum dengan orang-orang yang telah ditinggal oleh orangtua ataupun orang yang mereka sayangi. Kagum dengan kekuatan mereka, bagaimana mereka bisa begitu sanggup untuk melanjutkan hidup mereka. Saya teringat teman sekelas saya dikampus yang telah sejak lama ditinggal oleh ibundanya. Dia terlihat begitu kuat, tabah, namun saat saya membaca tulisan dia di blog pribadinya, saya menangis. Betapa tidak, banyak sekali momen-momen yang dilewatkan oleh orang terkasihnya. Momen-momen yang sebenarnya mereka menginginkan orang-orang terkasih mereka berada bersama mereka.

Tuhan, betapa tidak bersyukurnya hamba-Mu ini, telah begitu banyak luka yang hamba berikan kepada orangtua hamba.
Terkadang, rasa sombong ini membuat saya lupa, bahwa orangtua saya adalah milikNya. Sewaktu-waktu orangtua saya bisa saja dipanggil.

Teman, saya percaya bahwa didunia sana, mereka sedang mengawasi kita. Mereka tidak melewatkan sedikitpun momen-momen berharga kalian. Mereka bisa melihat kalian disaat kalian sedih, atau senang. Mereka selalu ada didekat kita. Walaupun mereka tidak terlihat. Saya ingat teman saya pernah berkata seperti ini, ”biasanya kalo lagi ujan, gw selalu ngerasa bokap gw lagi ada disamping gw sambil meluk gw dan ngelus rambut gw. Makanya gw selalu nunggu ujan. Soalnya kalo ujan gw bisa ngelepas kangen sama bokap gw.” ah. Lagi, saya meneteskan airmata.

Tuhan, tolong kuatkan diri orang-orang yang telah ditinggalkan.
Saya yakin bahwa mereka adalah orang-orang hebat, karena Engkau telah memberikan mereka ujian.
Mereka telah setingkat lebih tinggi derajatnya.

Saya kagum dengan teman saya, betapa mereka mampu untuk tetap melangkah walaupun tanpa orang yang mereka sayangi.
Mereka mampu untuk tetap bertahan dan tidak pernah mengeluh.
Senyum mereka selalu menghiasi bibir mereka, seolah tiada beban didalam diri mereka.
Ingin rasanya saya memeluk mereka dan berkata ,” you’re a great person! I wish that i could be as strong as you are.”
Mereka orang-orang yang hebat.
Senyum mereka selalu bisa membuat saya merasa lebih bersyukur.
Terima kasih ya atas pelajaran yang kalian berikan. Walaupun tidak secara langsung, namun saya banyak belajar dari kalian.
Saya bersyukur bisa bertemu dengan kalian.

Hujan turun lagi di awal Pebruari dan macet sepanjang tahun

image

Hujan lagi. Sudah beberapa hari ini hujan turun dan bagi sebagian orang ini adalah suatu pertanda baik karena bulan ini adalah Tahun Baru Imlek. Well, selamat Tahun Baru, walaupun saya tidak merayakan.

Saat ini saya sedang terjebak diatas metro mini, kadang saya sering berkhayal bahwa saya sedang berada diatas metro di New York. Ah.

Satu hal yang sering saya lakukan bila saya berada dimobil pribadi atau kendaraan umum, seringkali saya duduk dibangku dekat jendela dan memandangi keadaan diluar kendaraan yang saya naiki. Macet. Pengendara motor berlomba untuk menyalip mobil-mobil, ya, saya pun sering melakukannya. Menyelipkan tubuh motor saya diantara mobil dan berharap bisa sampai ditempat tujuan dengan cepat.

Jakarta identik dengan macet. Semua orang bahkan telah memakluminya dan semua orang terlibat dalam kemacetan ini. Jakarta ku sayang, sampai kapan dirimu sanggup untuk menampung kendaraan-kendaraan ini yang setiap hari selalu bertambah. Kemacetan semakin menjadi hal yang lumrah.

Sering saya bertanya, apakah hanya di Jakarta saja yang terkena kemacetan? Apakah kota lain di luar negeri pun merasakannya? Karena bila saya menonton film yang bersetting di Amerika, sangat jarang saya menemukan kemacetan. Saya mendambakan keadaan seperti itu.

Berbeda dengan di Jakarta, apalagi jika kita menggunakan jasa angkutan umum. Bukan hal asing lagi bila kita menemukan seorang laki-laki dengan mudahnya menghisap rokok didalam kendaraan umum, tanpa peduli bagaimana dengan penumpang yang lain. Tidak jarang kita temui supir angkutan umum yang mengendarai kendaraannya seperti orang kerasukan, merasa dirinya adalah seorang pembalap profesional tanpa peduli bagaimana rasa takut yang dirasakan penumpangnya.

Bahkan kita bisa menemukan seorang ibu hamil yang harus berdiri karena tidak ada seorangpun yang mempunyai hati untuk memberi tempat bagi ibu hamil tersebut. Atau jika kita beruntung, kita bisa merasakan bau badan yang sangat menyengat dari penumpang lain ataupun kernet atau supir dari kendaraan tersebut. Seringkali disaat jam sibuk, penumpang harus berdesak-desakkan didalam kendaraan umum dan berdiri berjam-jam karena macet. Bersyukurlah bagi kalian yang tidak harus menggunakan jasa angkutan umum. Walaupun dengan kendaraan pribadi bukan jaminan kita bisa bebas dari kemacetan.

Jakarta oh jakarta, kapankah engkau akan membiarkan kami dapat melaluimu dengan lancar tanpa hambatan. Walaupun kini telah ada jalan bebas hambatan, namun saat ini jalan itu pun disentuh oleh kemacetan. Ah.

Bahkan inovasi yang disebut-sebut akan mengurangi kemacetan Jakarta, TransJakarta, pun makin membuat kota ini semakin macet karena memakan sebagian jalan. Jakarta, sebenarnya apa yang harus dilakukan untuk membuatmu bebas dari kemacetan?

Kembali saya menengok keluar jendela, air hujan menetes di jendela. Membentuk embun. Ah, saya ingin segera sampai ditujuan saya. Terlalu pusing kepala saya mencium bau asap rokok. Terlalu penat diri saya karena jalanan macet yang membuat huruf-huruf dikepala saya berkumpul dan mengunci diri mereka, tidak membiarkan diri mereka keluar untuk aku rajut. Sampai sini sajalah, saya berharap nanti malam saya bisa kembali menulis. Sekian untuk tulisan kali ini

Rindu masa kecil saya :)

image

Sudah beberapa hari ini hujan selalu turun saat malam. Dan beberapa hari itu pula saya harus berhujan-hujan sambil mengendarai motor. Sayang, hujan tidak turun terlalu deras sehingga hanya membasahi sebagian baju saya. Sebenarnya saya berharap hujan akan turun dengan deras, agar saya bisa hujan-hujanan seperti saat saya masih di Sekolah Dasar dulu.

Saya ingat saat SD, saya senang sekali jika pulang sekolah dengan keadaan basah kuyup dan bermain dengan teman-teman seperjalanan saya sepanjang jalan yang banjir. Memang dulu daerah sekolah saya terkenal rawan banjir. Namun hal itu yang menjadi kesukaan kami, disaat harus kebasahan karena hujan deras. Kami harus menenteng sepatu kami dan kemudian berlarian mengejar satu sama lain. Ya, memang terdengar bodoh. Namun itu yang membuat kami dekat.

Dulu, saya suka sekali bermain permainan bentengan, lompat karet, petak umpet atau pun petak jongkok. Emang terdengar kampungan, namun hal itu menyisakan banyak kenangan manis yang belum tentu anak zaman sekarang merasakannya. Saya dulu tidak pernah bermain sendirian, saya selalu terlibat dalam permainan yang memerlukan banyak pemain didalamnya. Dengan cara itu saya bisa kenal dengan teman disekitar rumah saya.

Namun sayang, perlahan seiring dengan beranjaknya usia kami, saya mulai menjauh dari teman-teman sekitar rumah saya. Bukan bermaksud sombong atau angkuh, namun saya mulai merasa tidak nyaman dengan mereka. Mungkin karena sekolah kami berbeda, maka hal itu membuat pola pikir kami berbeda. Dan akhirnya sekarang saya benar-benar tidak pernah bermain atau hanya sekedar mengobrol dengan mereka. Jika kebetulan berpapasan, maka kami hanya akan saling sapa dan berlalu. Ironis.

Ya, ironis. Sayangnya hal itulah yang sudah terjadi sekarang. Pemandangan anak-anak bermain permainan seperti yang dulu saya mainkan sudah amat sangat jarang ditemui, apalagi dilingkungan perumahan yang berpagar tinggi. Sudah terjadi fenomena individualis dimasyarakat sekarang.

Anak-anak sudah terbuai dengan permainan individu yang tidak memerlukan orang lain untuk mendukung berjalannya permainan tersebut. Sebut saja PlayStation, PC Games, dan sejenisnya. Benda itu berhasil membuai anak-anak untuk asik dengan dunia mereka sendiri. Mereka tidak memerlukan orang lain untuk bermain mereka. Mereka tidak perlua berlelah ria bermain diluar rumah, mereka hanya perlu mencolokkan kabel dan selesai. Semudah itu.

Hal ini sedikit mengiris bagi saya. Saya membayangkan bagaimana kelak mereka dimasa depan. Mungkin terdengar sepele, namun jika dibandingkan antara anak yang bermain dalam kelompok dan anak yang bermain secara individu, maka anak yang bermain secara kelompoklah yang lebih mudah untuk bersosialisasi dengan orang lain. Karena dalam permainan kelompok, secara tidak langsung anak akan diajarkan kerja sama, sportif dan jujur. Bayangkan jika semua anak terbiasa untuk bersosialisasi semenjak dini, akan begitu banyak anak yang akan mudah untuk menempatkan diri mereka dimasyarakat. Tidak akan ada lagi anak yang sulit untuk bersosialisasi. Masyarakat akan terbentuk sebagai manusia yang terbiasa untuk bekerja sama dengan orang lain, bukan menjadi manusia yang individualis, yang terlalu mementingkan diri mereka sendiri.

Media memegang peranan besar dalam pembentukkan masyarakat. Seperti tren-tren yang dicitrakan dimasyarakat dan akhirnya masyarakat akan mengikuti apa yang dicitrakan oleh media dan akan terbentuklah manusia-manusia dengan stereotype yang sama. Dunia akan kehilangan manusia-manusia yang unik, yang memiliki ciri khas diri mereka masing-masing. Yang berbeda satu sama lain, mereka akan terbentuk menjadi manusia yang sama.

Terkadang sempat berpikir, mengapa begitu banyak orang yang merasa harus mengikuti tren di media? Sebegitu pentingkah? Mungkin untuk beberapa orang itu hal yang penting, namun saya selalu berkata pada diri saya untuk menjadi pribadi yang berbeda dengan orang lain. Saya ingin dikenal sebagai pribadi unik yang berbeda dengan orang lain. Saya ingin dikenal sebagai diri saya, bukan saya yang seperti apa yang menjadi tren di media. Saya yang utuh sebagai saya. Saya yang unik.
Sudahlah, sudah terlalu panjang tulisan saya ini. Sampai bertemu ditulisan berikutnya. Saya akan mencari dulu huruf-huruf yang sedang berkejaran didalam kepala saya. Menangkapnya dengan jala sastra saya dan menempatkannya ditulisan saya nanti melalui jari-jari saya yang menyentuh keyboard dengan penuh suka cita 🙂

Beberapa jam yang manis.

image

Dari judulnya saja saya sudah bisa membuat saya menarik ujung bibir saya dan membentuk senyuman. Saya mendapatkan kenangan manis lagi dari sahabat-sahabat saya yang kadang menyebut mereka kecebong, atau apalah, dan panggilan terbaru mereka adalah sahabat dahsyat. Sahabat dahsyat, saya hanya bisa tersenyum karena saat mendengar kata itu, saya langsung teringat sahabat-sahabat saya.

Hari ini adalah momen yang sangat sulit untuk didapat, lebih sulit ketimbang tahun kabisat. Jika tahun kabisat itu sudah pasti hanya akan datang empat tahun sekali, sedangkan untuk pertemuan kami, belum tentu kami bisa menentukan kapan dan dimana. Ya, kami terpisah setelah kami lulus SMA dan berpencar mencari ilmu dan pengalaman kami. Berusaha mengejar mimpi dan merajutnya perlahan. Saya, masih terjebak dikeruwetan ibukota tercinta. Para sahabat dahsyat terdampar di Bogor dan Bandung, bahkan ada yang sampai tersesat ke benua impian saya, Amerika.

Hari ini, mereka kembali mengukir kenangan manis yang dengan suksesnya mampu membuat saya tersenyum, kembali berharap untuk bertemu mereka, hanya untuk sekedar melepas rindu dan berbagi cerita, atau celaan.

Saya, kiki, cippie, tary, tika, cumy, tanti, dan orang yang paling lama tidak saya temui, tias, berkumpul. Hanya tawa, senyum, celaan yang keluar dari diri kami. Gila. Kami melepas rindu kami. Sayang, waktu begitu cepat berlalu dan saya harus berpisah terlebih dahulu.

Jujur, saya masih belum puas bertemu dengan mereka. Saya masih ingin bersama mereka. Tapi saya bersyukur, saya masih memiliki mereka. Mereka mampu untuk memaklumi apapun yang ada pada saya. Walaupun saat ini banyak sahabat yang keluar masuk kedalam kehidupan saya, bergantian menempati hati saya, namun mereka masih memiliki tempat khusus dihati saya. Saya tidak mau menggeser mereka dari hati saya.

Bertemu mereka, membuat saya kembali merasakan suasana saat saya masih di SMA. Ya, tempat penuh suka cita yang mengajarkan saya banyak hal. Mereka berhasil membuat saya melupakan sejenak penat dan lelah dalam diri saya. Mereka berhasil membuat saya bersyukur kepada Tuhan. Syukur karena saya masih memiliki mereka.

Kertas putih dalam hidup saya kembali diisi dengan coretan berwarna. Terima kasih untuk mereka karena telah bersedia untuk menyediakan waktu sekedar mencoretkan tulisan dikertas putih itu. Warna-warni, membawa keceriaan dan senyum yang sulit untuk saya lepaskan dari bibir saya. Saya terlalu bahagia saat ini. Saya masih ingin bertemu. Kami akan bertemu lagi suatu saat. Dengan formasi lengkap tentunya. Kami akan bertemu disaat kami semua telah membawa keberhasilan dari mimpi yang kami kejar nanti. Kawan, tetap semangat! Mimpi yang kita kejar telah menanti didepan garis finish. Tidak sabar untuk bertemu kalian lagi. Sampai jumpa nanti 🙂