Aku. Kamu. Kita.

Aku. Kamu. Dan akhirnya Kita.

Kita. Telinga ini masih belum terbiasa dengan kata kita. Sebelumnya hanya ada aku dan kamu. Do you know how does it feel like to have butterflies in your stomach? Ya, kupu-kupu itu menyerang perut saya setiap namanya muncul di layar telepon genggam saya. Rasa yang sebelumnya tidak pernah ada.

Tanpa sadar, mata saya selalu berbinar disaat saya membaca pesan-pesan singkat dari dia. Pertanyaan-pertanyaan yang sepertinya sudah ada didalam template telepon genggam dia. Pertanyaan yang sama, dengan rasa yang berbeda. Seperti kami yang berbeda. Dia yang hidup dalam keteraturan, saya yang hidup dalam ketidakteraturan. Saya yang keras kepala, dia yang lembut. Saya yang kurang sabar, dia yang sabar. Kelak, dia akan melengkapi saya. Saya akan melengkapi dia. Membangun sebuah negara kecil, keluarga.

Dia. Dia yang kelak akan menjadi imam saya.

 

 

 

Advertisements