Si Bapak

Image

Postingan kali ini adalah cerita yang saya buat demi memenangkan sebuah CD Banda Neira dari www.kurniawangunadi.tumblr.com. Kali ini cerita tentang sosok Ayah. Dan saya mencoba mengenalkan sosok Bapak saya. Pahlawan di keluarga kami.

Bapak.

Bapak adalah seorang pahlawan untuk saya. Beliau berusia 52 tahun. Rambutnya mulai keputihan. Di sekitar rumah, Bapak dikenal sebagai Bapak Gendut atau Bapak Kumis. Bapak Gendut, itu yang membuat saya mogok belajar ngaji selama seminggu saat SD, karena ada anak laki-laki yang selalu bilang Bapak saya gendut. Saya protes, kenapa Bapak gendut, dan Beliau hanya berkata, orang gendut itu kan bahagia. Kalo Bapak gendut, berarti karena Bapak Bahagia. Saat itu saya akhirnya memutuskan untuk ngaji lagi.

Bapak seperti Ayah pada kebanyakan. Kalah pamor sama si Mama. Bapak itu bukan sosok yang bisa memulai pembicaraan. Biasanya Beliau hanya mendengarkan cerita dari Mama atau dari anak-anaknya saja. Tapi sudah beberapa bulan ini si Bapak selalu memulai topik pembicaraan dengan saya, temanya Cuma satu: kapan si pria datang melamar. Saya hanya bisa tersenyum dan berkata, sabar ya Pak, nanti kalau sudah waktunya dia pasti akan datang bersama orangtuanya.

Bapak. Beliau berhasil membuat anak perempuan satu-satunya menjadi seorang Sarjana Sastra. Ya, Bapak yang hanya seorang lulusan SMP, berhasil membuat anak-anaknya bisa menikmati bangku sekolah. Satu hal yang selalu saya ingat, Bapak selalu berpesan kepada ketiga anaknya untuk belajar dengan baik di sekolah agar kelak kehidupan kami bisa jauh lebih baik dari Bapak dan Ibu. Bisa berguna untuk orangtua, masyarakat dan agama. Oh ya, Bapak punya usaha kue basah dan setiap malam Beliau menjualnya di Pasar Senen. Berangkat bada’ Maghrib, pulang setiap pukul 12 malam. Doa saya hanya satu, semoga Bapak selalu diberi kesehatan. Sedih rasanya saat si Bapak sakit. Pernah sekali Bapak dirawat di Rumah Sakit, saat itu muncul rasa ketakutan dalam diri saya, bagaimana jika Bapak dipanggil Sang Maha Kuasa? Apa yang harus saya lakukan? Tapi Alhamdulillah si Bapak masih diberikan waktu untuk bersama anak-anak dan istrinya.

Bapak adalah sosok Ayah yang suka bercanda. Walaupun wajahnya menyeramkan dengan kumis tebalnya, tapi ada rasa hangat setiap berada di dekat Beliau. Sejak kecil, saya paling suka menclok minta digemblok sama si Bapak sampai saya SMP. Saat SMA saya sudah tidak minta gemblok, udah gede kalo kata Mama. Oh iya, sejak kecil saya tidak pernah mau dicium sama Bapak. Kalo kata Bapak, itu semua gara-gara si Mama. Saat saya masih Balita, setiap si Bapak mau cium saya, si Mama selalu ngeledek, jadinya ya begini, saya tidak mau dicium Bapak sampe sekarang. Sampai pernah tercetus dari mulut Bapak yang bertanya apakah sampai Bapak mati nanti saya masih tidak mau dicium Bapak. Ah. Hampir menangis saya saat mendengar itu. Tenang saja, Pak, pasti nanti Bapak bisa mencium pipi anak gadis Bapak ini.

Bapak bukanlah sosok yang bisa membahagiakan anak-anaknya dengan mengajak anaknya pergi ke luar negeri atau membelikan barang-barang yang mahal. Beliau pernah meminta maaf kepada kami anak-anaknya, disaat saya bercerita tentang teman-teman saya yang bisa berlibur ke luar negeri atau dibelikan gadget yang cukup mahal. Beliau berkata bahwa Beliau hanya bisa membiayai sekolah kami saja dan memberi uang jajan setiap harinya. Saya merasa tersentil, betapa saya tidak bersyukur kepada Tuhan dengan semua yang saya miliki. Sosok ayah yang pekerja keras dan sosok ibu kuat yang selalu memberikan kasih sayang mereka kepada kami semua. Sampai akhirnya kami meyakinkan diri bahwa kami tidak perlu pergi ke luar negeri untuk merasakan kebahagiaan. Cukup berada di dekat Beliau dan Mama, kami sudah bisa merasakan kebahagiaan. Kehangatan.

Saya ingat saat masih kecil, saya paling suka duduk di pangku si Bapak saat si Bapak sedang merokok. Kenapa? Karena Bapak suka membuat bulatan dengan asap rokoknya. Disaat itu saya dan adik saya berebut untuk menangkap asap rokok tersebut. Tapi sekarang saya selalu marah-marah setiap melihat Bapak merokok. Kasihan paru-paru Beliau.

Satu hal lagi yang selalu Beliau lakukan sejak saya masih kecil hingga saya hampir berusia 24 tahun. Beliau seringkali tiba-tiba menyuruh saya untuk menarik jarinya dengan kalimat yang sama, “Is, tarikin jari Bapak. Sakit banget ini.” Dan saya pun menarik jari Beliau, dan yang terjadi adalah… hanya terdengar bunyi kentut Beliau. Dan akhirnya saya memukul si Bapak yang sedang tertawa terbahak-bahak. Hingga beberapa hari yang lalu Beliau melakukan itu lagi, dan saya menatap curiga dan berkata,”Pasti mau kentut lagi.” Tapi kali ini Beliau berkata jarinya memang sedang sakit, sampai akhirnya saya pegang tangan Beliau, ya, agak sedikit bengkak. Saya pijat jarinya yang sudah mulai terlihat tua. Tangan yang selalu mengangkat tubuh saya saat saya masih kecil. Tangan yang selalu memijat tubuh saya jika saya sedang kelelahan. Tangan yang selalu mengusap kepala saya disaat saya sakit. Tangan yang digunakan untuk mencari nafkah untuk memastikan anak-anaknya tidak kelaparan dan bisa sekolah dengan tenang tanpa perlu mengkhawatirkan tentang biaya sekolah.

Sakit rasanya melihat Bapak berkata dirinya sedang sakit. Bapak sayang, sehat selalu ya. Jangan sampai sakit. Terima kasih sudah menjadi sosok pahlawan untuk saya. Salam sayang dari anak perempuanmu yang akan selamanya menjadi anak perempuan kecil untukmu.

Advertisements

Bersabarlah kamu.

“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri.” QS. At Thuur: 48

Bersabarlah. Tuhan sudah meminta kita untuk bersabar dalam menunggu ketetapanNya. Jangan takut Tuhan salah menetapkan. Jangan tergesa-gesa ingin tahu takdir apa yang akan ditetapkan untuk kita. Semua ada waktunya. Hanya Tuhan yang memiliki hak istimewa untuk mengetahui apa-apa yang telah ditakdirkan untuk kita. Sementara menunggu, dekatkan diri dengan Tuhan. Selalu sebut namaNya. Hadirkan Tuhan disetiap detik yang berjalan dalam hidup kita. Penantian kita akan terasa menyenangkan.

Banyak yang kita tunggu dan tidak jarang kita berharap hal tersebut segera datang.  Bersabarlah. Nikmati saja setiap menit yang sedang kita jalani. Kita hidup untuk saat ini, bukan di masa lalu atau masa depan. Seseorang yang hidup di masa lalu, hanya akan berjalan di tempat. Misalnya, dulu kita memiliki banyak harta, hidup menyenangkan, bisa mendapatkan apa pun yang kita inginkan. Namun kenyataannya, keadaan kita tidak semenyenangkan masa lalu dan kita memilih untuk tetap terjebak dalam masa lalu. Pahit. Bukan hal yang mustahil kita menjadi seseorang yang kufur nikmat. Selalu berkata, “Seandainya saya masih punya banyak harta seperti dulu. Coba sekarang seperti dulu, semua orang baik kepada saya..” Dan kata-kata seandainya. There are too many what ifs. 

Bagaimana jika kita menjadi seseorang yang hidup di masa depan? Akan ada banyak hal yang akan terlewatkan oleh kita. Banyak menit yang tidak kita nikmati. Setiap detik, menit, jam, hari, kita habiskan untuk menerka-nerka. Apa yang akan terjadi pada kita tahun depan, dua tahun lagi, sepuluh tahun lagi dan sampai akhirnya kita baru sadar, sudah banyak hari yang kita lewati untuk menerka-nerka apa yang akan terjadi nanti. Banyak yang terlupa, orangtua kita, saudara kita, sahabat kita. Entah.

Jodoh? Rezeki? Kematian? Hanya Tuhan yang tahu. Janganlah sekali-kali kita mendesak Tuhan untuk mempercepat datangnya semua itu sebelum waktunya. Mungkin menyenangkan jika kita tahu siapa jodoh kita atau bagaimana rezeki kita dalam setahun ke depan, atau 10 tahun ke depan. Tapi apa kita sudah siap jika seandainya yang diberitahukan kepada kita adalah kapan nyawa kita diminta kembali oleh Sang Pencipta? Apa ‘ndak kelimpungan kalau kita diberitahu bahwa malaikat Izrail akan menarik ruh kita besok siang setelah azan zuhur?

Saat masih belum bersekolah, kita pasti tidak sabar ingin bersekolah saat melihat tetangga kita dengan senyuman lebar berjalan keluar rumah setiap pagi untuk belajar di bangku pendidikan. Begitu bersemangatnya kita, tidak sabar menunggu kita sampai di posisi itu. Saat mulai mengenakan seragam merah putih, kita sangat ingin cepat-cepat lulus agar bisa segera memakai seragam putih biru. Yang katanya menandakan kita sudah mulai remaja jika sudah berpakaian putih biru dengan badge OSIS berwarna kuning di kantong kemeja sebelah kiri. Mulai baligh.

Dan saat kita sudah masuk di Sekolah Menengah Pertama, kita dibuai oleh media yang menggambarkan masa-masa di Sekolah Menengah Atas adalah masa yang paling indah. Well, menurut pribadi saya, ya, SMA merupakan masa disaat saya banyak belajar tentang persahabatan. Well, let skip that. Saat SMP, rasanya wah sekali bila melihat kakak-kakak SMA berbaju putih abu-abu. Tampak gagah, bahagia, dewasa. Dan begitu seterusnya, sampai kita kuliah, lulus, bekerja, menikah, memiliki anak dan membuat satu siklus kehidupan. Tapi apa ada dari kita yang penasaran dan semangat ingin mencoba bagaimana rasanya mati disaat kita melihat orang lain yang lebih dahulu dipanggil untuk menghadap Yang Kuasa? Muncul rasa tidak sabar untuk segera menyusul seperti saat kita melihat kakak kita yang baru saja masuk Sekolah Menengah Atas? Adakah?

Sudahlah. Belajarlah menikmati apa yang sedang kita jalani sekarang. Tidak perlu terburu-buru, ingat, ada bisikan syaitan didalam suatu hal yang diburu-buru.  Try to enjoy the journey. Look around you. Be grateful. Be patient. Tuhan tidak menciptakan bumi ini dengan terburu-buru. Begitu juga saat Tuhan menciptakan kita. Bumi bukanlah satu hal yang diciptakan dalam satu malam. Ada banyak keindahan yang disusun oleh Tuhan untuk kita. Biarkan Tuhan menyiapkan hadiah yang terindah untuk kita di waktu yang tepat. Bersabarlah menunggu semua keputusan Tuhan untuk kita.

Tapi jangan salah arti, bersabar itu bukan berarti duduk diam pasrah dan tidak melakukan apa-apa. Bersabar itu tetap berusaha dan terus berusaha, tanpa rasa lelah, rasa lesu, patah semangat. pupus harapan. Bukankah Tuhan menyukai umatnya yang mau terus berusaha dan berserah diri kepadaNya?

Ilmu sabar itu adalah ilmu yang tidak ada batasnya. Kurang tepat jika ada yang mengatakan sabar itu ada batasnya. Sabar adalah ilmu yang harus kita pelajari sampai nanti Tuhan meminta Malaikat Izrail untuk mencabut ruh kita dari raga kita. Terus bersabar. Manusia saja suka dengan orang-orang yang mau bersabar. Apalagi Tuhan?

Selagi menunggu buah dari kesabaran, lebih baik kita mendekatkan diri kepada Tuhan. Selalu mengingatnya. “So remember Me and I will remember you.” QS Al Baqarah: 152. Menyenangkan bukan jika Tuhan mengingat kita. Sebelum mengingat Tuhan, ada baiknya kita berkenalan dahulu. Tak kenal maka tak sayang kan?

Untitled

Tuhan, izinkan aku untuk terus yakin padaMu.
Izinkan mata ini untuk terus menangis saat bersujud kepadaMu.
Biarkan mata ini terpejam disaat menyebut semua nama-nama indahMu.
Berikan aku berdamai dengan diriku.
Izinkanlah diriku memaafkan diriku sendiri.

Tuhan, perkenankan aku untuk bisa mencintai semuanya hanya karenaMu.
Dan perkenankan pula aku untuk membenci apa sesuatu hanya karena Engkau.
Lapangkan hati ini agar bisa menerima semua yang telah diberikan padaku.

Ketenangan hati. Kebersihan hati. Ketulusan hati. Biarkan aku memilikinya.
Maaf jika terlalu banyak yang aku minta.
Tapi aku hanya boleh meminta padaMu, bukan?

Satu lagi, biarkan aku bergantung kepadaMu. Hanya kepadaMu.
Bukan pada orangtuaku, saudaraku, sahabatku, ataupun pria yang kelak akan menjadi pemimpinku seumur hidup.
Biarkan aku menyerahkan semuanya kepadaMu.

Manusia Yang Berguna

“Hidup adalah tentang memastikan, bahwa ibu kita melahirkan manusia yang berguna.” – Achmad Lutfi

Manusia yang berguna, seringkali saya mendengar kalimat tersebut. Seperti bunyi Hadits berikut: “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.” (H.R. Ahmad, Tabrani). Sebenarnya rumusnya sederhana, dengan bermanfaat bagi orang lain maka jadilah kita seorang manusia yang terbaik. Tapi apa pada kenyataannya menjadi manusia yang bermanfaat itu mudah? Tergantung, jika kita mengganggap itu mudah, maka mudahlah. Jika mengganggap itu sulit, maka sulit lah. We are what we think, right? Jangan anggap remeh tentang pikiran kita, pikiran dapat membunuh kita.

Well, jika mengutip kalimat milik Achmad Lutfi, tugas kita ada memastikan bahwa ibu kita telah melahirkan manusia yang berguna, bermanfaat. Sudahkah kita menjadi sosok anak yang berguna? Bayangkan ibu kita selalu membawa kita kemana-mana saat mengandung kita. Tidak dapat tidur karena perutnya yang membesar dan harus mencoba segala posisi agar kita tidak tertekan saat didalam kandungan Beliau. Bayangkan betapa menyusahkannya kita disaat kita yang masih kecil hanya bisa menangis ditengah malam disaat kita lapar.  Lihatlah kantong mata Beliau yang menebal, karena tidak bisa tidur disaat suhu tubuh kita meninggi sehabis kita bermain hujan. Atau disaat perut kita kesakitan karena kita jajan sembarangan di sekolah. Raut wajahnya seolah berkata, Tuhan, berikanlah sakit anakku kepadaku, aku tidak tega melihatnya sakit. Begitulah ibu kita, begitu banyak suka duka yang Beliau rasakan saat mengandung hingga membesarkan kita. Tapi apa Beliau pernah meminta balasan dari kita? Tidak. Ibu saya selalu berkata, Beliau tidak berharap saya bisa membelikan Beliau rumah besar dengan kolam renang di halaman belakang. Pesan Beliau hanya satu: jadilah seseorang yang bisa membantu siapa pun. Jadilah orang yang berguna, sehingga tidak sia-sia semua pengorbanan Beliau selama ini.

Ah, tapi apalah arti kalimat itu? Itu hanyalah angin yang melintas di depan wajah kita, cliche. Untuk apa peduli? Ya, memang mungkin itu hanya sekedar angin yang diucapkan oleh orang lain, tapi bukankah kita selalu diminta untuk mengambil pelajaran dari setiap hal yang kita lihat dan dengar? Itulah mengapa Tuhan memberikan kita mata, telinga dan hati supaya kita mengambil pelajaran? Pelajaran kali ini apa? Menjadi manusia yang berguna, bermanfaat bagi orang lain. Itu saja. Karena dengan kita sudah menjadi manusia yang bermanfaat, maka ibu dan ayah kita telah berhasil mendidik kita dan kita pun berhasil membuat orangtua kita selangkah lebih jauh dari pintu neraka. Aamiin. Karena sesungguhnya doa orangtua kita hanya satu: kita bisa berguna untuk diri kita, orangtua, dan masyarakat.

Tapi kapan kita bisa melakukan hal yang bermanfaat? Kita bekerja dari pagi sampai malam. Dari Senin hingga Jumat, bahkan Minggu. Tenang teman, kita bisa mulai dengan melakukan hal-hal kecil di sekitar kita. Contohnya, membuang sampah pada tempatnya. Apa manfaatnya? Banyak. Pertama, kita bisa belajar berdisiplin dan bertanggung jawab pada diri kita sendiri. Bagaimana kita bisa melakukan hal yang lebih besar, jika untuk hal yang sepele saja kita tidak bisa. Kedua, menjaga kebersihan dan keindahan dimana pun kita berada. Bukankah kebersihan adalah sebagian dari iman?

Ketiga, mencegah bencana-bencana yang penyebabnya adalah kelalaian kita sendiri. Hal yang paling menjadi perhatian adalah banjir di kota kita tercinta. Salah satu penyebab terbesar bencana banjir adalah saluran air yang sudah berubah fungsi menjadi tempat sampah raksasa. Ya, tempat sampah raksasa. Mudah kan? Dengan membuang sampah pada tempatnya, kita bisa menyelamakan kota kita tercinta. Bukankah Tuhan menciptakan manusia untuk memelihara Bumi? Tapi…  di Jakarta itu cukup sulit lho menemukan tempat sampah. Belum tentu setiap jarak 10 meter ada tempat sampah. Tapi jangan kecewa dulu, caranya mudah, siapkan saja plastik di tas kita, saat kita tidak bisa menemukan tempat sampah, masukkan ke kantong tersebut dan kita bisa buang nanti disaat kita menemukan tempat sampah. Kita ambil contoh, misalnya sampah bungkus permen. Kecil bukan? Tapi bayangkan jika semua penduduk Jakarta membuat sampah permen sembarangan setiap hari. Boom! Jakarta menjadi kota sampah.

Keempat, kelima, dan seterusnya. Masih banyak lagi. Banyak kejadian-kejadian di keseharian kita yang bisa membuat kita belajar untuk berbuat baik pada semua orang. Jika kita ingat-ingat kembali, kita sudah belajar hal-hal kebaikan tersebut semenjak kita kecil. Tolong-menolong, toleransi, tenggang rasa. Coba sesekali pinjam buku kewarganegaraan milik adik kita yang masih di Sekolah Dasar. Sederhana. Hidup akan lebih menyenangkan.

Jadi, menjadi berguna itu mudah kan? Mari pastikan bahwa ibu kita telah melahirkan anak yang berguna. Tugas kita memastikan bahwa semua pengorbanan ibu kita tidak akan menjadi sia-sia.  Semangat!