Manusia Yang Berguna

“Hidup adalah tentang memastikan, bahwa ibu kita melahirkan manusia yang berguna.” – Achmad Lutfi

Manusia yang berguna, seringkali saya mendengar kalimat tersebut. Seperti bunyi Hadits berikut: “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.” (H.R. Ahmad, Tabrani). Sebenarnya rumusnya sederhana, dengan bermanfaat bagi orang lain maka jadilah kita seorang manusia yang terbaik. Tapi apa pada kenyataannya menjadi manusia yang bermanfaat itu mudah? Tergantung, jika kita mengganggap itu mudah, maka mudahlah. Jika mengganggap itu sulit, maka sulit lah. We are what we think, right? Jangan anggap remeh tentang pikiran kita, pikiran dapat membunuh kita.

Well, jika mengutip kalimat milik Achmad Lutfi, tugas kita ada memastikan bahwa ibu kita telah melahirkan manusia yang berguna, bermanfaat. Sudahkah kita menjadi sosok anak yang berguna? Bayangkan ibu kita selalu membawa kita kemana-mana saat mengandung kita. Tidak dapat tidur karena perutnya yang membesar dan harus mencoba segala posisi agar kita tidak tertekan saat didalam kandungan Beliau. Bayangkan betapa menyusahkannya kita disaat kita yang masih kecil hanya bisa menangis ditengah malam disaat kita lapar.  Lihatlah kantong mata Beliau yang menebal, karena tidak bisa tidur disaat suhu tubuh kita meninggi sehabis kita bermain hujan. Atau disaat perut kita kesakitan karena kita jajan sembarangan di sekolah. Raut wajahnya seolah berkata, Tuhan, berikanlah sakit anakku kepadaku, aku tidak tega melihatnya sakit. Begitulah ibu kita, begitu banyak suka duka yang Beliau rasakan saat mengandung hingga membesarkan kita. Tapi apa Beliau pernah meminta balasan dari kita? Tidak. Ibu saya selalu berkata, Beliau tidak berharap saya bisa membelikan Beliau rumah besar dengan kolam renang di halaman belakang. Pesan Beliau hanya satu: jadilah seseorang yang bisa membantu siapa pun. Jadilah orang yang berguna, sehingga tidak sia-sia semua pengorbanan Beliau selama ini.

Ah, tapi apalah arti kalimat itu? Itu hanyalah angin yang melintas di depan wajah kita, cliche. Untuk apa peduli? Ya, memang mungkin itu hanya sekedar angin yang diucapkan oleh orang lain, tapi bukankah kita selalu diminta untuk mengambil pelajaran dari setiap hal yang kita lihat dan dengar? Itulah mengapa Tuhan memberikan kita mata, telinga dan hati supaya kita mengambil pelajaran? Pelajaran kali ini apa? Menjadi manusia yang berguna, bermanfaat bagi orang lain. Itu saja. Karena dengan kita sudah menjadi manusia yang bermanfaat, maka ibu dan ayah kita telah berhasil mendidik kita dan kita pun berhasil membuat orangtua kita selangkah lebih jauh dari pintu neraka. Aamiin. Karena sesungguhnya doa orangtua kita hanya satu: kita bisa berguna untuk diri kita, orangtua, dan masyarakat.

Tapi kapan kita bisa melakukan hal yang bermanfaat? Kita bekerja dari pagi sampai malam. Dari Senin hingga Jumat, bahkan Minggu. Tenang teman, kita bisa mulai dengan melakukan hal-hal kecil di sekitar kita. Contohnya, membuang sampah pada tempatnya. Apa manfaatnya? Banyak. Pertama, kita bisa belajar berdisiplin dan bertanggung jawab pada diri kita sendiri. Bagaimana kita bisa melakukan hal yang lebih besar, jika untuk hal yang sepele saja kita tidak bisa. Kedua, menjaga kebersihan dan keindahan dimana pun kita berada. Bukankah kebersihan adalah sebagian dari iman?

Ketiga, mencegah bencana-bencana yang penyebabnya adalah kelalaian kita sendiri. Hal yang paling menjadi perhatian adalah banjir di kota kita tercinta. Salah satu penyebab terbesar bencana banjir adalah saluran air yang sudah berubah fungsi menjadi tempat sampah raksasa. Ya, tempat sampah raksasa. Mudah kan? Dengan membuang sampah pada tempatnya, kita bisa menyelamakan kota kita tercinta. Bukankah Tuhan menciptakan manusia untuk memelihara Bumi? Tapi…  di Jakarta itu cukup sulit lho menemukan tempat sampah. Belum tentu setiap jarak 10 meter ada tempat sampah. Tapi jangan kecewa dulu, caranya mudah, siapkan saja plastik di tas kita, saat kita tidak bisa menemukan tempat sampah, masukkan ke kantong tersebut dan kita bisa buang nanti disaat kita menemukan tempat sampah. Kita ambil contoh, misalnya sampah bungkus permen. Kecil bukan? Tapi bayangkan jika semua penduduk Jakarta membuat sampah permen sembarangan setiap hari. Boom! Jakarta menjadi kota sampah.

Keempat, kelima, dan seterusnya. Masih banyak lagi. Banyak kejadian-kejadian di keseharian kita yang bisa membuat kita belajar untuk berbuat baik pada semua orang. Jika kita ingat-ingat kembali, kita sudah belajar hal-hal kebaikan tersebut semenjak kita kecil. Tolong-menolong, toleransi, tenggang rasa. Coba sesekali pinjam buku kewarganegaraan milik adik kita yang masih di Sekolah Dasar. Sederhana. Hidup akan lebih menyenangkan.

Jadi, menjadi berguna itu mudah kan? Mari pastikan bahwa ibu kita telah melahirkan anak yang berguna. Tugas kita memastikan bahwa semua pengorbanan ibu kita tidak akan menjadi sia-sia.  Semangat!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s