“Allah berfirman: Jika hamba-Ku mendekati-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekatinya satu hasta, dan jika dia mendekati-Ku satu hasta, Aku akan mendekatinya satu depa. Jika dia datang pada-Ku dengan berjalan maka Aku akan
mendatanginya dengan berlari.” HR. Bukhari

Advertisements

“Berhentilah memaklumi kekuranganmu. Itu hanya akan melemahkanmu.

Berhentilah berharap orang lain akan memaklumi kekuranganmu.
Sempurnakan kekuranganmu dengan kelebihanmu, agar bahagia dirimu.

Berhentilah bergantung pada orang lain. Rasanya sakit jika kau bergantung pada orang lain, namun orang tersebut tidak bisa ada saat kau membutuhkannya.

Bergantunglah pada Tuhan. Memang sulit, namun memang itu yang harus dilakukan.
Tuhan tidak mau diduakan oleh makhluk ciptaan-Nya yang lemah.

Jangan kau tengok Tuhan hanya disaat airmata tidak bisa berhenti mengalir karena sakit di dadamu.
Tengoklah Tuhan setiap saat.
Disaat senyum terpasang di wajah lelahmu.
Disaat jantungmu berdegup kencang karena kesenangan.
Kapan pun.
Dimana pun.
Bergantunglah pada Tuhan.
Tak akan kau rasakan sakit itu.”

Jangan Cintai Aku Apa Adanya

Pertama kali saya mendengar lagu milik penyanyi solo yang berasal dari Sumatera Barat, Tulus, yang berjudul Jangan Cintai Aku Apa Adanya, saya langsung jatuh cinta. Musiknya yang mendayu untuk telinga awam seperti saya dan syair lagunya yang mampu menyentil saya. Ada suatu kedewasaan dan kehormatan seseorang di dalam lagu ini. Bukan hanya sekedar kisah romantis lelaki dan perempuan.

Ada satu bait di dalam lagu Tulus yang menyentil saya. Membawa pesan tentang rasa kecintaan seseorang yang penuh dengan rasa kehormatan untuk orang yang dia cintai.

Jangan cintai aku apa adanya, jangan. Tuntutlah sesuatu biar kita jalan ke depan.

Mungkin kita terbiasa dengan kata-kata, jika kita menyayangi seseorang, terimalah mereka apa adanya. Entah itu orangtua kita dengan segala kekurangan dan kelebihannya, saudara kita yang sering kali memancing kita untuk berteriak karena mereka berhasil membuat kita naik pitam, sahabat kita yang tahu semua hal yang baik dan buruk tentang kita, pun pasangan kita yang kelak akan menjadi teman hidup seumur hidup. Ibaratnya kekurangan dan kelebihan mereka itu sudah sepaket. Kita tidak bisa hanya menerima kelebihannya saja, kekurangannya pun.

Namun lagu milik Tulus ini mengambil sisi sebaliknya dari sosok seseorang yang kita sayangi, yang bisa kita terima apa adanya. Segala kekurangan dan kelebihannya. Sosok lelaki yang dicintai oleh si wanita, apa adanya. Namun disini si lelaki akhirnya mengeluarkan kehormatannya sebagai seorang lelaki. Rasa ingin melakukan hal yang lebih untuk menunjukkan bahwa si lelaki bisa melakukan hal yang lebih untuk menunjukkan kehormatan si lelaki.

Saya pernah mendengar seseorang berkata pada saya bahwa lelaki itu tingkat gengsinya tinggi. Tidak mau terlihat lemah di depan siapa pun, bahkan di hadapan wanita yang menjadi tulang rusuknya. Dan ini yang saya lihat dari lagu milik Tulus. Dengan memaklumi penerimaan si wanita, itu sama saja dengan dia telah membuang semua kehormatan dia sebagai lelaki. Lelaki yang seharusnya menjadi peta si wanita. Jagoan si wanita. Pelindung si wanita.

Jangan cintai aku apa adanya.

Menulislah.

Sejak dulu saya suka menulis. Bukan untuk orang lain. Tapi untuk kebahagiaan diri saya sendiri. Ada bertumpuk-tumbuk buku yang saya tulis sejak Sekolah Menengah Pertama. Bukan, bukan sebuah tulisan yang isinya tentang apa yang sedang terjadi di dunia, atau sebuah karya sastra yang patut mendapat sebuah penhargaan atau sebuah tulisan tentang kemanusiaan yang pantas untuk dinominasikan dalam penghargaan sekelas Nobel. Tulisan saya hanya tentang apa yang sedang terjadi dalam kehidupan saya setiap harinya. Perasaan saya disaat saya mengalami kejadian yang berkesan dalam kehidupan saya. Alasan saya menulis hanya satu, agar kelak nanti disaat saya sudah tumbuh dewasa, saya bisa membaca semua tulisan itu untuk melihat proses berkembangnya saya.

Mengingatkan saya agar tidak mengulangi kesalahan yang sama, yang walau terkadang saya sering lupa dan akhirnya malah melakukan kesalahan yang sama. Mengingatkan diri saya untuk selalu bersyukur karena sepanjang hidup saya, begitu banyak kenikmatan yang diberikan oleh Tuhan untuk saya. Seperti beberapa hari lalu saya membaca ulang buku harian saya saat di SMA. Ada beberapa tulisan tentang sesosok lelaki yang dulu pernah saya kagumi dan bahkan masih ada bungkus permen yang saat itu saya dapatkan dari si lelaki itu. Rasa yang saat itu saya rasakan langsung muncul kembali, rasa senang, deg-degan, campur aduk.

Ada juga momen dimana saya dan teman-teman saya mengerjai Nidia aka Cici saat dia berulangtahun dan semua rencana mengerjai Cici gagal total karena saya salah sebut “Guru Singa” menjadi “Raja Singa” dan hasilnya malah semua orang yang tadinya serius, tertawa terbahak-bahak dan kemudia beramai-ramai memarahi saya.  Atau momen disaat mereka balik mengerjai saya saat saya berulangtahun dan hasilnya saya menangis sesenggukan. Saya butuh untuk menuliskan itu semua. Bukan, bukan untuk dinikmati oleh orang lain. Tapi untuk dinikmati oleh diri saya sendiri. Dan kebetulan manusia adalah makhluk yang mudah lupa, maka dibutuhkan suatu tulisan agar bisa menjadi pengingat.

Tulisan kita yang akan membuat kita diingat. Dan kebetulan sejak dulu saya ingin menjadi seorang penulis yang karyanya bisa dinikmati oleh diri saya, minimal.

Saya pernah membaca tentang bagaimana sebenarnya jika ingin menjadi seorang penulis yang handal. Hanya ada satu kuncinya: teruslah menulis. Alah bisa karena biasa. Mustahil kita bisa menjadi seorang penulis jika sebelumnya kita tidak pernah menulis. Menulislah. Walaupun tulisan kita belum bisa menginspirasi seperti Pramoedya Ananta Toer atau Tere Liye. Teruslah menulis. Nikmati prosesnya. Tuliskan apa saja yang ingin ditulis. Mungkin tidak semua tulisan kita akan layak ditampilkan di sosial media, tapi setidaknya rasa yang tersimpan didalam kepala kita sudah tersampaikan dan kepala kita siap diisi dengan hal yang baru karena sudah tidak ada lagi yang ngegrumpel didalam kepala kita. Itu yang saya rasakan. Jika tidak bisa menyampaikan apa yang ada didalam kepala saya dalam bentuk lisan, saya akan mengambil kertas atau membuka laptop saya, atau media tulisan yang lainnya, dan mulai menulis. Diatas kertas, tangan saya tidak bisa berbohong. Mengalir begitu saja.

Menulislah. Agar kelak nanti disaat kita sudah tua dan pikun, kita masih bisa mengingat bagaimana diri kita melalui tulisan kita. Menulislah agar kelak ada suatu jejak yang pernah kita tinggalkan. Menulislah agar ide-ide didalam kepala kita tidak terbuang percuma karena tidak pernah punya kesempatan untuk keluar dari kepala kita. Menulislah agar bahagia. Menulislah agar kita bisa menorehkan semua proses yang telah, sedang dan akan kita lalui.

Jika engkau ingin menjadi seorang penulis, menulislah setiap hari. Jika tidak sanggup, menulislah dua hari sekali. Jika tidak sanggup pula, menulislah tiap minggu.
Dan itulah selemah-lemah iman seorang penulis.” –  Ayuwati Ariyani