Dan hujan pun terus turun. Tiada henti.
Datang bersama angin.
Membujuk tubuh ini untuk meringkuk.
Menatapi tetesan air di jendela mobil.
Suaranya mendayu. Berbisik lembut.
Membawa aroma kerinduan.

Advertisements

Haus. Akan ilmuMu.

Lapar. Akan rahmatMu.

Rindu. Akan kehadiranMu.

Hilangkanlah kehausanku dengan semua ilmu tentangMu.

Izinkan aku agar dapat terus menggunakan mataku untuk bisa melihat kekuasaanMu.

Izinkan aku untuk terus bisa menggunakan telinga ini untuk mendengar keindahan ayat-ayatMu.

Biarkan hati ini bisa menerima dan memahami semua kekuasaanMu. Agar aku bisa terus berpikir dan mengenal diriMu. Agar aku bisa dekat denganMu.

Hilangkan laparku dengan rahmatMu. NikmatMu.

Izinkan aku agar terus dapat merasakan rahmat dan nikmatMu yang tidak ada tandingannya, nikmat beriman padaMu. Izinkan aku agar aku terus beriman padaMu.

Izinkan aku agar aku bisa menjadi orang yang bisa menggunakan mata, telinga, hati dan akalku untuk terus menyebut namaMu. MengagungkanMu. MencintaiMu.

Biarkan aku terus merindukanMu. Agar aku terus mencari segala cara untuk menemukanMu. MencariMu. Hingga nanti Engkau izinkan aku untuk berada disampingMu bersama kekasih-kekasihMu.

Aku merindukanMu. Izinkan aku untuk bisa terus merindukanMu. MencintaiMu.

Cinta.

Rasa kasih sayang.

Sesungguhnya hanya kepada Allah lah seharusnya cintaku berada.

Bukan pada makhluknya. Bahkan bukan untuk wanita tempat dulu aku menetap di rahimnya,

Atau untuk lelaki hebat yang berada di samping wanita kuat itu.

Cinta.

Hak Allah yang tidak bisa diganggu gugat.

Dicintai makhluknya.

Cinta yang hanya boleh diberikan kepada Sang Pencipta oleh ciptaanNya yang amat kecil.

Mencintai Allah bukan karena Allah membutuhkan kita.

Mencintai Allah karena kita membutuhkan cinta Allah.

Pertolongan.

Nikmat.

Ujian.

Kesakitan.

Kesenangan.

Agar kita semakin cinta. Cinta. Dan cinta kepada Allah.

Tak pantas kita berikan cinta kita kepada selain Allah.

Ya Allah, ijinkan aku untuk terus mencintaiMu.

Terus bisa mengenalMu. Menghadirkan diriMu disetiap langkahku.

Disetiap helaan nafasku. Tarikan nafasku.

Bahkan disetiap denyutan nadiku yang tidak pernah kusadari.

Cinta.

 

Imam Ibnu Qayyim: “Renungilah hikmah Allah Azza wa Jalla yg telah menjadikan perbuatan para raja, pemimpin dan pengayom masyarakat serupa dg perbuatan masyarakat. Bahkan amal perbuatan mereka seakan-akan tercermin pada prilaku pemimpin mereka. Jika masyarakat istiqomah, maka penguasa mereka juga akan istiqamah (lurus). Jika mereka adil, maka penguasa pun berlaku adil terhadap mereka. Namun jika mereka zhalim, maka akan zhalim pula penguasa dan pemimpin mereka. Jika tipu muslihat tersebar ditengah mereka, maka demikian pula yg terjadi pd pemimpin mereka. Jika mereka enggan mengeluarkan atau menunaikan apa yg menjadi hak Allah Azza wa Jalla, maka para penguasa dan pemimpin pun enggan memberikan hak-hak rakyat yg ada pd mereka. Dan jika dalam muamalah mereka mengambil sesuatu yg bukan hak mereka dari org-org yg lemah, maka para penguasa pun akan berlaku demikian dan akan membebankan kepada mereka berbagai kewajiban.

Dan bukanlah hikmah ilahiyyah, seseorang diangkat untuk memimpin org-org jahat lagi keji kecuali org-org yg serupa dg mereka. Ketika kamu Muslimin pd kurun-kurun pertama merupakan kaum terbaik, maka para pemimpin mereka seperti itu pula. Dan ketika masyarakat mulai tercemari, maka pemimpin mereka pun mulai tercemari. Demikianlah seterusnya. Dan pemimpin org-org sebelum kita pun sesuai kondisi mereka.

Apabila keadaan kita masih jauh dr kebaikan, maka jgn bermimpi akan mendapatkan pemimpin seperti Umar bin Abdul Aziz atau Abu Bakar Ash Shiddiq atau Umar bin Khattab. Syari’at Islam mengajarkan kita mengajarkan apabila kita ingin mendapatkan pemimpin atau penguasa yg baik, maka hendaklah kita memperbaiki diri-diri kita terlebih dahulu, seperti didalam surat Ar Rad ayat 11 ‘sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.'”

Yuk berbenah diri agar kita diberikan pemimpin yg terbaik. Tak perlu menuntut pemimpin agar begitu begitu. Berkacalah pada diri sendiri.
Tak perlu tengok kanan kiri. Fokus pertama pada perbaikan diri sendiri. Ingatkan saudara dan saudari.
Pemimpin kita adalah cerminan diri.
Selamat Hari Jumat!

View on Path