#Day 15: :)

Musibah. Bisa dilihat dari sisi ujian, peringatan atau pun azab. Kali ini ada sedikit musibah kecil yang menimpa saya. Kecil sekali namun mampu membuat saya diam dan akhirnya merenung, apakah ini ujian, peringatan atau azab?

Hari ini si handphone yang merupakan peluru saya, jatuh dan retak layarnya. Tak bisa beroperasi. Satu hal yang saya pikirkan, bagaimana caranya berkomunikasi tanpa si putih itu. Ibaratnya sebagian besar peluru untuk berperang saya ada didalam alat komunikasi tersebut. Memutar otak, bagaimana cara menggantikannya untuk sementara waktu, saat si putih diperbaiki.

Putar otak sana sini. Hilang fokus. Lupa untuk tenang. Lupa sejenak bahwa ada Sang Maha Pemberi yang siap mengganti si putih yang tak seberapa.

Belum hilang paniknya, bensin motor habis. Akhirnya terpaksa beli di pinggir jalan. 1 liter. Hati masih gundah gulana, gagallah diri pergi ke tujuan awal. Akhirnya mencari tempat agar sedikit tenang. Bukannya tenang, malah menyalahkan diri sendiri. Beli bensin, lupa minta kembalian.

Pelajaran pertama, panik membuat fokus hilang. Fokus hilang, berantakan semua yang di hadapan.

Langsung hati ini tersentak. Ujian, peringatan atau azab kah? Merinding sekujur tubuh. Hati sibuk menenangkan diri dan meyakinkan diri bahwa ini adalah ujian. Duh, percaya diri sekali diri ini menganggap itu ujian. Siapa tahu itu peringatan atas kelalaian. Atau mungkin azab atas keingkaran.

Gemetar diri ini. Teringat satu ayat Allah:

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)

Dan saat itu pertolongan Allah langsung terasa. Disaat saya pusing, gundah gulana memikirkan bagaimana saya berkomunikasi, seorang teman menawarkan untuk menggunakan handphone nya sementara waktu milik saya di perbaiki. Mau tahu rasanya? Nyesss.. Rasanya lega sekali. Lebih lega ketimbang saat saya dinyatakan lulus Strata 1 dua tahun lalu.

Allah Maha Penolong.

Dan kemudian ada telepon dari teman saya yang berkata dia mengambil kembalian dari tukang bensin dimana saya lupa meminta kembaliannya.

Nyesss…

Pertolongan Allah amat dekat. Mungkin ini cara Allah untuk mengingatkan saya lagi. Untuk melewati musibah yang entah itu ujian, peringatan atau pun azab.

Banyak cara yang diberikan Allah untuk membuat kita tersenyum, tertawa, menangis. Engkaulah Maha pembolak balik hati ini.

Mungkin hati ini sedang rindu padaMu. Sehingga kau berikan sentilan ini sebagai tanda rindunya padaMu.
Tak ada satu pun hal terjadi tanya kehendakMu.
Alhamdulillah.

Advertisements

#Day 13: Kalahkan dirimu

image

Diri sendiri.
Musuh terbesar. Diri sendiri.

Terdengar klise, tapi itu kenyataan.
Musuh terbesar setiap manusia adalah diri sendiri dan pikiran.
Bisikan hawa nafsu dalam pikiran yang harus dikalahkan.
Hawa nafsu telah ada didalam manusia, karena mereka diberikan hawa nafsu dan akal saat diciptakan.
Malaikatlah yang tak memiliki hawa nafsu saat diciptakan.
Hanya menyembah dan sujud dalam ketaatan yang dilakukan.
Tak mungkin hawa nafsu didalam diri bisa dimusnahkan.
Kendalikan dan kalahkan.
Hanya itu yang bis kita lakukan.
Tak mau kalah dengar teriakan dan godaan.
Karena itulah fungsi si penggoda diciptakan.
Kalahkan bisikan dan godaan yang ada dalam pikiran.
Sungguh, musuh terbesar telah terkalahkan.

#Day 12: Mari Membangun!

Membangun.

Membangun tidak bisa sendiri. Harus bersama dengan orang lain.  Membangun apa saja. Dimana kita tidak bekerja sendiri, melainkan bersama orang lain.

Ada 3 hal yang saya dapatkan dari seseorang tentang bagaimana cara membangun.

1. Saling menerima
Hal yang terdengar mudah, tapi sulit. Sulit tapi mudah. Mudah, bila ternyata yang harus bersama kita itu orang yang sudah satu pandangan, satu selera, satu tujuan, satu apalah itu. Yang jelas, kita sudah cocoklah dengan orang-orang tersebut. Jalannya terasa mudah karena kita sama-sama sudah saling tahu dan menerima. Saling paham.

Sulit, bila ternyata kita sama sekali belum dekat atau kenal karakternya. Mengeluh dia beginilah, begitulah. Menuntut dia agar begini, begitu. Masih banyak lagi.

Kuncinya hanya satu, belajarlah untuk saling menerima. Apa pun itu. Baik kelemahan dan kekurangan. Agar bisa sejalan dan bisa mulai membangun. Tidak melulu harus duduk bersama dan saling menuntut. Ikhlaskan semua itu hanya semata-mata untuk Allah.

2. Saling percaya
Langkah setelah saling menerima. Tidak akan ada kepercayaan bila kita belum bisa menerima. Ibaratnya, bila kita sudah bisa saling menerima dan percaya, masing-masing kita akan tahu apa yang harus kita kerjakan tanpa saling tunggu, saling curiga, dan saling saling lainnya. Kembalikan lagi semua kepada Allah sang pembolak balik hati manusia.

3. Menyempurnakan
Inilah yang paling indah. Menyempurnakan. Melengkapi kekurangan dan kelebihan dari masing-masing. Tidak ada manusia yang sempurna. Kesempurnaan hanyalah milik Sang Pencipta.

Tutupi kekurangan orang-orang yang akan membangun bersama kita. Sempurnakan dengan apa yang bisa kita lakukan agar tujuan bisa tercapai.

Bukan malah sibuk mencari kesalahan mereka dan berjumawa dengan kelebihan kita. Tidak ada yang bisa kita sombongkan. Apalah kita dibandingkan alam semesta ini. Butiran debu?

Bekerja bersama dengan orang lain berbeda dengan bekerja dengan robot atau komputer. Banyak nilai seninya. Mari membangun dan nikmati setiap detiknya. Belum tentu esok kita masih bisa membangun semua dengan mereka. Bisa jadi esok kita harus membangun dengan orang yang berbeda. Dan kembali lagi ke awal, menerima.

Selamat membangun!

#Day 11: Pelukan

Saya selalu merasa satu-satunya cara agar saya tenang adalah dipeluk.
Pelukan mampu membawa saya merasa tenang, tentram dan bahagia.
Seolah semua masalah yang ada di pundak dan di kepala menghilang seperti debu yang hilang bersamaan dengan datangnya hujan. Nyaman.

Namun pelukan kali ini berbeda. Pelukan ini mampu memberikan rasa diterima. Rasa disayangi. Rasa dihargai.
Semua rasa risau dan prasangka-prasangka dan bisikan-bisikan yang berseliweran silih bergantian, menghilang.
Senyumannya berbeda kali ini.
Saya ditunggu.
Baru kali ini saya merasakan senangnya ditunggu.

Pelukan itu mampu mengubah semuanya. Perlahan.
Pelukan seorang Ibu.

Ibu.

#Day 9: Kehidupan ini adalah Panggung Perebutan Nilai

Apa sebenarnya yang kita rindukan? Dunia atau Akhirat?

Cobalah bertanya pada hati kecil kita, manakah yang membuat kita bahagia? Tamu yang datang membawa hadiah, atau tamu yang datang meminta bantuan pada kita?

Hal itulah yang membuka kajian oleh Ust. Bachtiar Nasir di AQL Islamic Center, Tebet pada kali ini. Manakah yang kita rindukan, dunia atau akhirat. Pertanyaan yang bisa dijawab dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Ust. Bachtiar Nasir, atau Papa Bach, panggilan (sok) akrab yang diberikan oleh salah seorang teman saya.

Sudah pasti setiap orang akan merasa senang jika mendapatkan seseorang datang untuk membawakan hadiah untuk kita. Tapi apakah kita akan merasa senang jika ada seseorang yang datang untuk meminta bantuan kita? Padahal justru orang tersebutlah yang membawa ladang-ladang kebaikan yang bisa kita tanami. Apalagi kalau ternyata yang datang meminta bantuan kepada kita itu adalah orang yang kita tidak sukai, pernah membuat kita kecewa, sakit hati. Percayalah, Allah lah yang memberikan keberanian kepada orang itu untuk datang meminta bantuan kepada kita. Allah lah yang mengizinkan orang itu untuk datang ke kita. Bantulah, jika kita bisa membantunya. Lupakan yang sudah lalu. Maafkan.

Hanya orang-orang yang meyakini Tuhan, orang-orang yang beriman, yang hatinya tersentuh untuk berbuat baik. Karena pada dasarnya, jika kita berbuat baik, itu bukan untuk si penerima kebaikan, tetapi untuk kita sendiri. Jika kamu berbuat baik, kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Jika kamu berbuat jahat, kejahatan itu akan kembali kepada kita. Seperti melempar bola basket ke tembok, bola itulah yang akan berbalik kepada kita.

Mengutip kata-kata dari sahabat Ust. Bachtiar Nasir, Achmad Nuril Mahyudin, “Kehidupan ini adalah panggung perebutan nilai.” Merinding saya saat membaca kutipan ini yang ditampilkan di layar proyektor. Panggung perebutan nilai. Bagaimana setiap orang berebut untuk memberi nilai dalam hidupnya. Nilai apakah yang ingin kita ciptakan dalam hidup kita? Apakah kita ingin dinilai bergengsi di mata manusia saja dengan harta, jabatan, dan pasangan kita? Ataukah ingin membuat hidup kita dinilai bergengsi di mata Allah.

Ada kisah dari sahabat Ust. Bachtiar Nasir, yaitu Achmad Nuril Mahyudin yang merupakan seorang aktivis yang mendedikasikan dirinya untuk orang-orang miskin. Beliau berjuang untuk membangun sumur di daerah Ngawi, Jawa Timur. Mengapa Ngawi? Karena Ngawi adalah kota termiskin kedua di Jawa Timur setelah Pacitan. Disanalah Achmad Nuril mengabdikan diri, mencoba memberi nilai untuk kehidupannya, bernilai di mata Sang Pencipta. Beliau orang yang amat sederhana, usaha tas yang Beliau kerjakan di daerah Pamulang, hasilnya Beliau dedikasikan untuk orang-orang miskin. Tak banyak yang Beliau miliki, hanya sebuah kontrakan kecil di Pamulang yang merangkap sebagai workshop Beliau untuk mengerjakan tas bersama anak-anak yang membantunya. Tapi Beliau bahagia dengan apa yang Beliau kerjakan saatini.

Ngawi-lah yang menjadi ladang pengabdian Beliau untuk memberi nilai dalam kehidupannya. Air bersih di Ngawi adalah satu hal yang langka. Tidak ada sumur, apalagi kamar mandi. Masyarakat disana bergantung kepada air dari sungai-sungai kecil yang airnya sangat keruh. Harus diendapkan dulu agar bisa lebih jernih. Disanalah Beliau berjuang untuk mengadakan sumur sebagai sumber mata air. Dengan tangannya sendiri. Dan atas perjuangannnya setelah hampir 20 tahun, sudah ada sekitar 23 sumur disana dan juga kamar mandi.

Perjuangan Achmad Nuril tidak berhenti disitu. Disanalah Beliau berjuang mengenalkan Tuhan. Bagaimana menghapuskan ketidaktahuan akan Tuhan disana, menumbuhkan niat orang-orang disana untuk mengenal Tuhan dan memunculkan minat masyarakat disana untuk mengenal Tuhan.

Menunduk. Merinding. Malu rasanya saat mendengarkan cerita tentang sahabat Ust. Bachtiar Nasir ini. Hidupnya bukan lagi hanya untuk sekedar hidup. Tapi menghidupkan hidupnya agar bernilai di mata Tuhan.

“Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup.
Kalau bekerja sekedar bekerja, kera juga bekerja.” Buya Hamka

Makjleb. Rasanya mau masukin kepala kedalam plastik. Maluuuu..

#Day 8: Menangis yang dipaksakan

Menangis. Mengeluarkan air darimata biasanya diiringi dengan luapan emosi, entah bahagia, kesal, atau sedih. Tapi kali ini saya menangis tanpa dibarengi rasa bahagia, kesal, atau sedih. Kali ini yang saya rasakan adalah menangis yang dipaksakan.

Cukup aneh ya, menangis yang dipaksakan. Bagaimana tidak dipaksakan, kali ini airmata saya keluar karena gas air mata. Ya, akhirnya saya merasakan bagaimana pedihnya tembakan gas airmata yang sebelumnya hanya saya saksikan di layar kaca. Rasanya, pedih sekaligus lucu. Semua pengendara menepi, mengusap airmata mereka. Menangis berjamaah.

Ada semacam pertempuran antara mahasiswa dan para pelayan masyarakat, polisi di salah satu universitas di daerah UKI. Yang saya tahu hanya ada macet, ban yang di bakar, batu-batu berserakan dan pak polisi yang sibuk menembakkan gas airmata ke arah kampus. Sepertinya para mahasiswa itu ada dibalik pagar besi kampus tersebut. Entah apa yang sedang diperjuangkan.

Semoga yang memperjuangkan dan yang diperjuangkan adalah untuk kemaslahatan bersama. Bukan hanya sekedar simbolik dan ritual saja. Mahasiswa bertemu polisi. Demo. Gas airmata. Airmata yang dipaksakan.

#Day 7: Kau Keluhkan, Banda Neira

Kau Keluhkan (Esok Pasti Jumpa)

“Kau keluhkan awan hitam yang menggulung tiada surutnya
Kau keluhkan dingin malam yang menusuk hingga ke tulang
Hawa ini kau benci
Dan kau inginkan tuk segera pergi
Berdiri angkat kaki
Tiada raut riangmu di muka, pergi segera

Kau keluhkan sunyi ini dan tak ada yang menemani
Kau keluhkan risau hati yang tak kunjung juga berhenti
Rasa itu kau rindu
Dan kau inginkan tuk segera tiba
Dan kembali bermimpi
Hanyut dalam hangatnya pelukan cahaya mentari

Dan ingatlah pesan sang surya pada manusia malam itu
Tuk mengingatnya di saat dia tak ada
Tuk mengingatnya di saat dia tak ada
Tuk mengingatnya di saat dia tak ada, esok pasti jumpa.” – Kau Keluhkan, Banda Neira

Mengeluh. Mengeluh. Dan mengeluh.
Tak ada sedikit pun rasa bersyukur. Entah, mungkin kurang banyak berdoanya agar terus diberi nikmat syukur. Atau terlalu sombong untuk bersyukur. Atau mungkin ada yang lain?

Tak pernah merasa puas dengan yang ada. Tak tahu menghargai apa yang di depan mata. Selalu lapar mencari dan membandingkan apa yang dipunya dengan yang dimiliki oleh orang lain.

Padahal begitu banyak kalimat Tuhan yang menyebutkan agar manusia selalu bersyukur maka akan ditambah lagi nikmatnya. Titik.

Tak jarang kalimat mengeluh itu nantinya akan berujung pada rasa tidak bersyukur. Walaupun kadang, mulut ini menolak bahwa kita tidak bersyukur. Malah ribut mencari alasan dan pembenaran untuk apa yang dilakukan.

Mengeluh mengeluh. Sudahlah. Cobalah untuk melihat dari sudut yang lain. Mengeluh tak kan mengubah apa pun, kecuali hati yang semakin panas.
Atau kepala yang semakin pening.
Tak ada manis-manisnya.

Semua orang ingin tenang. Ingin damai. Salah satunya dengan cara: tidak mendengar orang mengeluh.

Di sosmed. Di dunia nyata. Mari. Berhenti. Mengeluh.

#Day 6: Asumsi

image

Asumsi.
Pernah saya membaca sebuah quote di internet, “assumption leads to headache.” Ya. Benar.

Asumsi akan menggiring kita untuk membuat kesimpulan yang sesuai dengan keinginan kita dan kebanyakan hasil dari asumsi itu adalah negatif. Kebanyakan.

Membuat kesimpulan sendiri. Kesal sendiri. Misuh misuh ke semua orang. Semua kena imbasnya. Padahal ada satu yang hilang, bertanya kepada orang yang bersangkutan. Konfirmasi. Cek ulang.

Memang dasarnya manusia, lebih suka menyimpan sendiri dan akhirnya membuat kesimpulan sendiri dan terkungkung dalam dramanya sendiri. Hanya karena satu hal: asumsi.