#Day 24: Thank You Project

Thank You Project:

https://www.youtube.com/watch?v=SwKyauE_l-k

Video diatas berhasil membuat saya mengeluarkan airmata. Bukan karena berhasil merayakan ulang tahun si Bapak hari ini. Ya, hari ini Bapak genap berusia 53 tahun. Kami memaksa Beliau bangun hanya untuk meniup lilin di atas kue yang kami beli semalam. Semoga Bapak selalu diberikan kesehatan yang paripurna dan selalu diberi keberkahan oleh Allah. Well, kembali lagi ke poin diatas, saya berhasil dibuat menangis oleh video diatas.

Video diatas bercerita tentang Kellie Haddock, yang mengalami kecelakaan mobil bersama suami dan anaknya. Kellie yang ingin bertemu dengan orang-orang yang telah berjasa dan menyelamatkan nyawa Kellie dan Ely, anaknya yang berusia 14 minggu saat kecelakaan mobil yang menimpanya terjadi. Sepuluh tahun lalu. Dan sepuluh tahun lalu juga, dia kehilangan suaminya.

Sepuluh tahun kemudian, Kellie berusaha untuk mencari orang-orang yang dulu terlibat saat evakuasi di kecelakaan tersebut, hanya untuk mengatakan “Terima Kasih”. Maka itulah video ini memiliki judul “Thank You Project”.

Ya, kalimat sederhana yang tidak pernah dipikirkan oleh para pahlawan yang berjasa dalam hidup kita. Kalimat yang bisa mengubah hari seseorang. Bukan cuma hari, bahkan seumur hidup seseorang. Seperti ada satu suster yang menangis saat Kellie mengucapkan terima kasih dan suster itu berkata, “I’ve never been thanked.” Saat itu jantung rasanya berhenti berdetak sepersekian detik. Tidak pernah ada yang mengucapkan terima kasih padanya, atas pelayanannya sebagai seorang pekerja kesehatan. Padahal, tidak terhitung berapa besar pengorbanannya dalam melayani dan membantu saat penyakit sedang menghinggapi tubuh kita.

Langsung diri ini teringat dengan abang angkot, abang ojek, abang gorengan, semua yang telah membantu saya dalam menjalankan hari-hari saya. Terkadang lupa diri ini hanya untuk sekedar mengucap terima kasih. Selesai memberi uang, langsung melenggang pergi. Tanpa mengucap terima kasih. Sederhana memang, sepele bahkan. Tapi saya yakin, kata-kata sederhana itu bisa membuat mereka merasa dihargai. Pekerjaan mereka dihargai. Bukan dengan uang, tapi dengan hati. Seperti saya, yang bisa sangat bahagia saat adik RBK mengucapkan terima kasih pada saya. Bahagia karena yang saya kerjakan, dihargai.

Menjadi pecutan untuk terus melakukan yang terbaik, bukan hanya sekedar rutinitas. Mungkin itu yang dirasakan oleh supir angkutan umum, pegawai di Bank, pegawai di Rumah Sakit. Mungkin banyak orang yang menganggap itu sudah pekerjaan mereka, kita sudah membayar, tak perlu lagi kita mengucap terima kasih. Toh mereka sudah digaji. Satu yang kita kadang lupa, mereka manusia yang butuh disentuh hatinya. Dengan hati.

Saya pernah menonton hal yang serupa, dan itu di Indonesia. Salah satu hal yang membuat seseorang semangat mengerjakan pekerjaannya adalah saat orang lain mengucapkan terima kasih pada mereka. Itu membuat mereka, kita, merasa bahagia dan dihargai. Ada abang gorengan yang berjualan di sekolah dan Beliau berkata hal yang bisa membuat Beliau sangat bahagia saat berjualan adalah ketika ada anak sekolah yang membeli dagangannya itu mengucapkan terima kasih. “Alhamdulillah, masih ada anak muda yang punya akhlak baik.” ucap Beliau. Akhlak yang baik.

Jadi sekarang harus berbenah, introspeksi diri. Resolusi tahun 2015: selalu mengucapkan terima kasih pada semua orang yang telah membantu hari-hari saya. Dan tidak lupa berterima kasih kepada Sang Pemberi.

Project pertama diakhir tahun: ucapkan terima kasih pada wanita yang paling banyak berjasa dalam hidup saya.

Terima kasih!

Advertisements

#Day 23: Bahagia Itu Sederhana

Bahagia itu sederhana.

Berhasil tidak harus berhenti di 7 lampu lalu lintas yang sedang berwarna merah. Saat melintas, lampu hijau pada lampu lalu lintas sedang menyala dan membuat saya bisa terus mengendarai kendaraan biru saya tanpa harus berhenti dan menunggu. Bahagia.

Bahagia itu sederhana.

#Day 22: Belajar Menyimpan

“Belajar menyimpan.” Pesan seorang saudara kepada saya.

Belajar untuk tidak mengumbar rasa bahagia, rasa kesal, rasa marah, rasa curiga, rasa apa pun yang seharusnya tidak diumbar kepada orang lain, baik secara langsung atau bahkan melalui sosial media dimana semua orang bisa dengan mudah mengaksesnya.

Jadikan rasa itu sesuatu yang berharga. Bukan seperti berita selebritis yang semua orang mau tidak mau, mendengarnya dari pagi, siang, malam. Tak henti-hentinya. Gumoh.

Tak semua orang ingin mendengarkan persoalan kita. Mereka telah memiliki persoalan sendiri yang mereka sendiri ingin menyimpannya.

Belajar menyimpan, jadi ingat apa yang selalu dikatakan oleh Ibu saya jika kelak saya telah memiliki seorang pasangan. Simpanlah semua masalah, bagilah hanya kepada suamimu. Tak perlu ceritakan ke Ibumu atau Ibu lelakimu. Cukup selesaikan berdua. Tak perlu orang lain tahu. Otak kalian berdua cukup untuk menyelesaikannya. Ingin cerita? Ceritakan saja semua ke Tuhanmu dan lelakimu. Mereka berdua cukup.

Simpan kekesalanmu pada si lelaki. Tak usah cerita kepada orang lain, apalagi lawan jenismu. Dari kekesalan itu, bukannya tak mungkin muncul rasa hati, yang bermula dari simpati.

Belajar menyimpan

#Day 21: Jatuh Cinta

Saya dibawa jatuh cinta. Sangat. Oleh Pramoedya Ananta Toer. Bumi Manusia. Terlambat memang saya mengenalnya. Tapi sudahlah, tak apa, Lebih baik terlambat ketimbang tidak sama sekali.

Cerita Roman antara Mingke si Pribumi dan Annelies yang anak seorang Nyai Ontosoroh. Paket lengkap yang saya dapatkan dari Bumi Manusia ini: jatuh cinta yang teramat dalam, kecemburuan seorang wanita, sakitnya saat tidak bisa bersama dengan seseorang yang katanya ‘pujaan hati’.

Jatuh cinta yang membuat si pelaku ini tidak bisa makan. Tidak bisa bekerja. Tidak bisa apa-apa. Hanya bertemu dan berada disamping si makhluk yang membuat si pelaku ini yang bisa mengobatinya. Hanya dengan Berada.

Kecemburuan yang amat hidup saat si lelaki asik dengan makhluk berjenis kelamin perempuan selain dirinya. Lebih baik pergi daripada melihat keasikan itu. Kecemburuan saat ternyata perhatian si lelaki bukan hanya untuknya. Yang saya lakukan saat membaca bagian cemburu ini hanya satu: meringis.

Sakitnya saat harus terpisah dan tidak bisa bersama dengan si lelaki. Rasanya hati ini dibuat sakit sekali. Gelap. Sedih. Seperti semua kebahagiaan ditarik. Ada satu kalimat yang dikatakan oleh Annelies pada Mingke dan membekas di kepala saya, “Sekali dalam hidup biarlah aku suapi suamiku.” Sayang, sakit rasanya.

Sebuah rekor tercepat bagi saya dalam menyelesaikan membaca sebuah buku dalam 6 tahun terakhir: saya berhasil menyelesaikannya hanya dalam 3 hari. Luar biasa.

Selesai membaca saya hanya bisa bilang: saya Annelies. Saya ingin jatuh cinta.

#Day 20: Baru Tahu Rasanya

Baru tahu rasanya, saat Mama kesal bila Bapak mulai bersolek.  Tak biasanya.

Baru tahu rasanya, saat bibir Mama terlihat lebih maju dari biasanya, saat mata Bapak melirik kaum Hawa yang melintas.

Baru tahu rasanya, saat Mama minta diperhatikan dan dimanja tapi tidak dipedulikan. Bapak sibuk melakukan yang lain.

Baru tahu rasanya, saat Mama terlihat pundung saat Bapak terlihat antusias saat bercerita tentang kisah lalunya. Dengan perempuan yang lalu.

Tapi, masih banyak rasa yang aku belum tahu. Rasa yang selalu diceritakan oleh Mama. Tentang Mama dan Bapak.

Kata mama, tunggu.

Tunggu sampai nanti aku bisa berkata, “Baru tahu rasanya.”

#Day 19: Gunung

image

Gunung.

Dua perempuan yang memutuskan naik ke Bromo saat saya dilamar. Huh. Drama. Tepat dua bulan lalu. 12 Oktober 2014. Bromo lebih penting dari saya.

Tepat dua bulan kemudian saya menerima video yang katanya ucapan selamat untuk saya.

Ekspektasi saya: ucapan manis nan romantis diatas awan.
Kenyataan: sudahlah. Dua perempuan itu sibuk mencari gunung.

Tapi sudahlah. Bukan itu intinya.
Intinya, jangan berekspektasi dan berasumsi. Tenang-tenang saja.

Well, videonya ketje. Bisa membuat saya tertawa. Manis.

Terus berbagi yaa.. saling mengingatkan sampai entah kapan batas waktunya 🙂

Gunung.

#Day 18: Dekat

image

Dekat.
Bila ada yang bertanya, dimanakah Sang Penyayang?
Dia dekat.
Bila ada yang mencari Sang Pemberi, katakan, Dia dekat.
Takut, ragu, sedih, terpuruk.
Usah ragu untuk menemui Sang Pengasih.
Dia dekat.
Tak perlu kau harus membuat janji untuk bertemu.
Dia selalu ada. Kapan pun.

Dia selalu ada. Dekat.
Tak perlu kau takut Dia tak mendengarmu.
Tak perlu kau cemas Dia lelah mendengar keluh kesahmu.
Tak perlu kau takut Dia muak akan ceritamu.
Tak usah kau takut Dia akan tertidur saat kau bercerita.
Seperti saat kau bercerita pada makhlukNya.

Dia tidak tidur. Dia tidak lelah. Dia yang selalu menjaga. Dan Dia pula yang memelihara.

Dia dekat.
Lebih dekat dari urat nadimu.
Dekat.

#Day 17: Masa Lalu

Bacalah komik diatas. Kamu akan tersadar. Banyak orang yang terjebak dalam masa lalu.

Tubuh di masa kini, pikiran masih di masa lalu. Sakit.

Menangisi. Meratapi. Bangga. Bahagia.

Positif dan negatif.

Menyenangkan. Atau menyakitkan.

Masa lalu, tetaplah masa lalu. Tak perlu terlalu lama terpaku pada masa lalu. Tak ada yang akan berubah dengan masa lalu.

Usah terus bertahan dengan masa lalu. Usah kamu terlarut-larut dalam masa lalu. Kejayaanmu di masa lalu, biarlah itu menjadi pemacumu agar terus bisa berjaya di masa kini.

Ada yang berucap, betapa kasihan si masa lalu. Orang-orang berlomba melupakannya. Berusaha menghidupkan masa kini. Lupa dengan masa lalu. Hey, jangan lupa, masa kini pun akan menjadi masa lalu di masa nanti. Pada saatnya. Satu detik setelah tulisanmu ditulis, itu pun sudah menjadi masa lalu.

Semua ada kadarnya. Ada waktunya. Nikmati.

Masa lalu. Cukuplah jadi pelajaran. Tanpa masa lalu, mana tahu kita bagaimana cara menjadikan malam menjadi terang di malam hari. Mana tahu kita bahwa sebenarnya bumi itu bulat. Terjebak lah kita dengan pemikiran bahwa si bulan selalu berlari mengejar kita disaat kita berlari dan dia diam saat kita diam.

Jadikanlah semuanya pelajaran.

Masa lalu bukanlah utuk dilupakan, tapi untuk dijadikan pelajaran. Sesekali lah menengok ke belakang. Seperti saat kita mengendarai kendaraan, sesekali menengok atau melirik ke spion, untuk melihat keadaan di belakang. Aman kah untuk kita berbelok atau mendahului kendaraan di depan.

Masa lalu pun bisa membuat kita lebih waspada dan belajar dari kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan di masa lalu. Berbuat kesalahan dan jatuh di sebuah lubang, adalah hal yang wajar. Mungkin kita belum pernah melewati jalan itu. Tapi jika terjatuh di lubang yang sama, kita tidak mengambil pelajaran dari jatuhnya kita yang pertama. Seperti saya, jatuh di lubang yang sama. Bukan hanya satu atau dua kali, tapi tiga kali. Beruntung sekarang lubang itu sudah ditutup. Amanlah saya.

Berbuatlah sebaik mungkin. Belajar dari masa lalu. Lakukan yang terbaik di masa kini. Agar tak ada sesal di masa depan.

Hai Masa Lalu, terima kasih.

Hai Masa Kini, mari kita berikan dan lakukan semua yang terbaik.

Hai Masa Nanti, tunggulah aku dengan sabar.

#Day 16: Buntu

Buntu.

Telah lama tak ku sentuh kan jemari ku diatas papan ketik. Asing.

Buntu.

Tak ada perbincangan didalam kepala ini. Hingga tak ada yang tersalurkan.

Kosong.

Belum lagi kepala ini diisi.

Mungkin sedang jenuh. Atau sedang risau.

Entah.

Sudah saatnya kepala ini diisi. Tak baik berlama-lama dalam kerisauan.

Hanya membuntukan diri sendiri.

Tertutup.

Mati.

Buntu.