Tsakeeeuppp… Bismillah πŸ™‚ – with Rani

View on Path

Advertisements

Baru dikirimin foto ini sama Dyah… Aaaakkk! Thanks for comingggg… – with Faizal, Debora, Baity, Hanindita, Indra, Dyah, Dwi Sekar, and desi

View on Path

#Day 30: Alhamdulillahirobbilalamin

Alhamdulillahirobbilalamin. Suatu ucapan yang tepat untuk mengakhiri #ODOPChallenge yang seharusnya sudah selesai beberapa puluh hari yang lalu. Namun karena satu dan banyak hal (red: malas), #ODOPChallenge baru bisa saya selesaikan hari ini. Dan semoga benar-benar akan selesai hari ini.

Alhamdulillahirobbilalamin. Saya merasa tak akan pernah cukup kata-kata tersebut diucapkan sebagai tanda syukurΒ atas segala kenikmatan yang telah diberikan oleh Sang Empunya Alam Semesta ini. Begitu banyak yang telah diberikan oleh Allah dalam waktu yang bersamaan. Untuk saya. Di usia saya yang seperempat abad.

Menikah. Menjadi seorang Puteri cantik nan anggun, namun misterius dengan pakaian kebesarannya, gaun hitam berbahan beludru yang dipenuhi dengan motif emas dan hiasan hitam pekat yang menghiasi dahi, tanda keayuan seorang Puteri Solo. Tahun ini, tepatnya tanggal 28 Maret 2015 ini Allah mengizinkan saya untuk mewujudkan impian terbesar saya, menjadi seorang pengantin dengan paes Solo Putri dan menjalankan upacara adat yang kata beberapa orang, kuno. Beludru hitam dan paes solo, persis dengan yang ada di foto pernikahan orangtua saya. Saya berkeyakinan saat saya menikah, saya harus menggunakan dua hal tersebut.

Menikah. Saya telah menjadi tanggungjawab Pria yang sekarang menjadi suami saya. Saya tidak lagi menjadi tanggungjawab BapakΒ saya. Bakti saya berpindah. Dari mengabdi pada Orangtua, berpindah mengabdi pada suami. Imam yang tangannya selalu dicium usai sholat berjamaah. Ada pesan yang akan selalu melekat untuk saya, minimal satu kali dalam sehari, sholatlah berjamaah. Agar surga tercipta di keluarga kecilmu.

Untuk pertama kalinya, saya melihat BapakΒ saya menangis. Saat Β harus menyerahkan puteri satu-satunya ke pria yang sebelumnya asing, sebelum akhirnya saat ini menjadi anaknya. Bapak, anakmu sudah menikah, sudah menjadi tanggungjawab suaminya. Namun, puterimu ini tetap puterimu. Yang manja dan cengeng. Yang tak pernah mau untuk kau cium, ya, bahkan di hari pernikahannya pun, puterimu tidak juga mencium kening atau pun pipimu. Puterimu tetaplah puterimu, tapi percayalah, tak akan puterimu ini datang kepadamu dan menangis karena bertengkar atau berselisih dengan suaminya. Insya Allah itu tidak akan pernah terjadi. Itu yang selalu Engkau pesankan pada puterimu, selesaikan semuanya berdua, jangan sampai orang lain tahu, termasuk orangtua sendiri. Untuk pertama kalinya dalam seumur hidup, anakmu ini meminta maaf atas semua kesalahannya. Maafkanlah. Doakan agar puterimu dan suaminya dapat menciptakan surga didalam keluarga kecilnya dan memberikan kedamaian untuk sekitarnya.

Mama, belum apa-apa, matamu sudah sembab. Belum terucap penyerahan puterimu, matamu sudah seperti bola tenis. Sembab dan memerah. Bahagiakah? Terharukah? Pun puterimu, tak kuasa membendung airmatanya disaat harus memohon izin untuk menikah dengan sosok pria yang mampu membuat puterimu bergetar disaat mendengarnya melantunkan ayat-ayat Al Qur’an. Selama dua puluh lima tahun, baru kali ini rasanya begitu berat untuk memohon izin padamu. Izin untuk berbakti pada laki-laki yang sebelumnya asing untuk keluarga kita. Mama, puterimu tak lagi tidur di sampingmu, memaksa untuk tidur diantara dirimu dan lelaki yang selama ini berjuang agar kita bisa terus makan dan berkecukupan. Rindu? Sangat. Aroma tubuhmu, masih sangat disukai oleh puterimu. Nanti ya, kapan-kapan puterimu akan mencuri-curi waktu untuk tidur sambil memelukmu.

Dua jagoan yang selalu mengalahkan kakak perempuannya yang sepertinya dianggap seperti laki-laki, mereka sudah besar sekarang. Keduanya berhasil mengenalkan pasangannya dan membawanya ke pernikahan saya. Semua tetap sama, walaupun saat ini tak begitu sering mereka berkelakar, bergulat dengan saya yang banyak berteriak seperti bocah disaat kami saling berusaha untuk mengalahkan satu sama lain. Adik saya, satu kata yang membuat kakak perempuan ini terharu, dia menepuk bahu saya dan berkata, “Gw bahagia.” Entah, rasanya seperti itu sebuah tanda persetujuannya dan keihklasannya bahwa kakak perempuannya ini sudah dewasa dan siap untuk berlayar dengan keluarga kecilnya bersama nakhoda pilihan kakaknya. Seolah berkata, lelaki itu yang terbaik untukmu.

Menikah. Bukan hanya sekedar tentang saya dan suami saya. Menikah, berarti saya saat ini memiliki dua Bapak dan dua Ibu yang tidak bisa saya beda-bedakan. Sudah bukan lagi orangtua saya dan orangtua dia, tapi menjadi orangtua kami. Banyak drama, walaupun kebanyakan drama itu berlangsung di pikiran saya. Tapi ternyata semua tidak semenyeramkan yang saya pikirkan atau yang dikatakan oleh orang-orang. Rasanya hebat memiliki dua orangtua, rasa cinta dan kasih sayang yang saya terima, berkali lipat. Ibu Bapak yang dicintai oleh suami saya, yang tahu bagaimana suami saya sedari dia masih didalam kandungan. Mulai sekarang harus mulai belajar mencintai mereka. Berbakti. Tak pilih kasih.

Menikah. Berhasil membuat saya mendapatkan seorang kakak yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh saya. Kakak perempuan. Yang saat ini pun sedang dalam perjalanan membangun keluarga kecilnya, sama dengan saya. Cukup banyak drama. Tapi akhirnya semuanya berakhir dengan bahagia. Sana sini bahagia.

Alhamdulillahirobbilalamin. Bukan hanya menikah yang membuat saya sangat bahagia saat ini. Banyak sekali orang-orang hebat yang dikirimkan oleh Allah untuk saya. Untuk menjadi teman saya belajar. Untuk memberikan beribu pengalaman untuk saya. Untuk mengingatkan saya bahwa saya tidak sendiri. Untuk mengingatkan saya, jika saya terlupa atau sengaja lupa.

Begitu banyak yang hadir menyampaikan selamat dan doa di hari pernikahan saya. Mereka hadir, sudah lebih dari cukup. Mengintip saat saya sedang disulap. Mereka yang tidak percaya, bahkan saya sendiri tidak percaya, bahwa saya akan benar-benar menikah. Jangankan mereka, saya baru benar-benar yakin bahwa saya akan menikah disaat tenda mulai dipasang di depan rumah saya. Menyadarkan diri saya bahwa ini semua nyata. Bukan hanya mimpi. Mengingat begitu banyak drama sebelum akhirnya saya benar-benar resmi menjadi seorang istri.

Rentetan pesan di grup menyerang di hari H+ 1. Pesan yang sama. Yang membuat saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Perempuan. Tunggu saja saatnya untuk kalian, hai para perempuan cantik πŸ™‚

Sebuah video disaat saya akad, dikirimkan via whatsapp. Senyum lebar pertanda bahagia tak lepas dari wajah saya. Terima kasih, sudah ada disitu untuk saya. Terima kasih sudah selalu ada untuk saya, sudah bersedia mendengarkan kebahagiaan, kekesalan, kegalauan saya. Kelak, masanya untuk kalian akan ada. Semua akan indah pada waktunya. Bersabar yaa. Saya selalu berdoa, agar kalian mendapatkan yang terbaik. I heart you, gaes.

Alhamdulillahirobbilalamin. Begitu banyak perubahan, namun saya yakin perubahan inilah yang akan mendewasakan saya. Handphone tak lagi banyak berbunyi. Rindu, pasti. Terlebih pada dua wanita yang selama setahun ini selalu ada untuk saya. Akan ada banyak hal yang pasti akan saya rindukan, tapi kita masih di bumi Allah yang sama kan? Bolehlah sekali-kali main bertiga. Saya rindu kalian. Sungguh.

Alhamdulillah, ternyata begitu banyak yang menyayangi saya. Allah pun.

Alhamdulillahirobbilalamin.

Selamat datang ke dunia ibu-ibu!

Semangat nyuci baju!