Arunika Fayyola Adeeva

download

Arunika. Secara tidak sengaja saya menemukan gambar diatas dan saya langsung jatuh cinta. Kelak jika janinย yang saya kandung adalah seorang perempuan, nama inilah yang akan menjadi namanya dan Alhamdulillah saya pun melahirkan seorang anak perempuan mungil yang kami beri nama Arunika.

Arunika Fayyola Adeeva. Sinar matahari pagi yang penuh dengan ketulusan, lemah lembut dan menyenangkan. Begitulah doa saya dan suami saat menamai puteri pertama kami dengan harapan anak kami akan menjadi seperti sinar matahari yang selalu ditunggu dan memberi begitu banyak manfaat. Menjadi seorang perempuan yang penuh dengan ketulusan di dalam hatinya dan lemah lembut. Seorang perempuan yang kelak akan menjadi sahabat yang menyenangkan untuk semua orang. Seseorang yang dinantikan karena begitu menyenangkan dan dapat menjadi seseorang yang selalu bisa memberi manfaat dan menyebarkan kebaikan dengan penuh rasa ketulusan dan lemah lembut.

Arunika.

Senin, ย 7 Desember 2015 tepat pada pukul 05.08 WIB adalah waktu disaat Allah menunjukkan kekuasaannya saat saya mendengar tangisan di dalam ruang operasi. Hanya ada airmata dan ucapan hamdalah yang menjadi bentuk syukur atas kelahiran Runi dan tangisnya itu yang membuat saya sangat bersyukur karena tangisnya itu yang menunjukkan paru-parunya terbentuk sempurna.

Pagi hari di Sabtu, 5 Desember 2015, seperti biasanya setiap pagi sebelum sholat Subuh saya selalu pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil lalu kemudian sholat. Namun Subuh kali ini terasa berbeda. Setelah dari kamar mandi, rasanya mengantuk sekali dan akhirnya saya memutuskan untuk sekedar berbaring. Tetapi kemudian ada rasa mulas dan pegal di pinggang selama hampir 5 menit. Ah, saya pikir hanya rasa mulas biasa. Rasa mulas dan pegal hilang, tiba-tiba saya merasakan sesuatu yang hangat keluar seperti air seni. Dengan sok tenang, saya bangunkan suami. Perlahan saya dibantu untuk bangun dan saat saya berdiri, byar, banjirlah. Ketuban saya mengalir deras. Sekali lagi, dengan sok tenang saya mencari Ibu saya yang ternyata sedang sholat Subuh. Dengan tenang saya tunggu Beliau. Dalam pikiran saya, sekarang sudah waktunya. Mungkin si Janin sudah tidak sabar ingin keluar. Ingin melihat riuhnya tahun baru di Jakarta. Atau mungkin di dalam sudah begitu sempitnya sehingga dia ingin cepat keluar agak bisa bergerak bebas. Jantung saya berdegup kencang. Saya belum menyiapkan mental saya untuk masuk ke dalam ruang operasi dalam waktu dekat.

Grabak grubuk seisi rumah ribut karena ternyata benar ketuban saya terus mengalir. ย Diantarkan ke bidan dekat rumah untuk periksa sebelum kami memutuskan untuk pergi ke Rumah Sakit. Setelah diperiksa bidan, ternyata belum ada pembukaan dan ketuban saya bukan lagi hanya sekedar rembes, namun sudah pecah. Harus segera diambil tindakan. Akhirnya pulang lah saya untuk menyiapkan perlengkapan dan dokumen-dokumen yang harus dibawa.

Sampai di rumah, saya dan suami hanya saling tatap. Banyak yang harus disiapkan. Bahkan beberapa barang baru terbeli beberapa hari yang lalu karena Hari Perkiraan Lahirnya masih sekitar tanggal 5 Januari, sebulan lagi. Selesai memasukkan barang-barang ke tas, saya masih bisa mandi dan sarapan nasi uduk dan segelas teh manis. Biar kuat kata Ibu saya. Makan dengan kondisi ketuban yang masih terus keluar itu rasanya unik. Dan sampai pada akhirnya kami baru jalan ke Rumah Sakit sekitar pukul 07.30 WIB. Rumah Sakit yang kami pilih adalah Rumah Sakit Ibu dan Anak Bunda Aliyah yang ada di daerah Pondok Bambu karena lokasinya yang dekat dengan rumah dan saya sudah merasa srek dengan pelayanan di RS tersebut setelah sebelumnya pernah dirawat di sana saat hamil 12 minggu karena infeksi usus.

Sepanjang jalan ke RS jantung saya berdegup kencang. Berpikir hari itu juga saya harus masuk ke ruang operasi untuk menjalani operasi caesar karena sudah pecah ketuban. Sampai di sana, saya langsung dirujuk masuk ke ruang observasi. Setelah cek ini itu, suntik ini itu dan ternyata saya tidak bisa dioperasi hari itu karena usia kandungan yang baru 35 minggu. Jika saja usia kandungan sudah 37 minggu, bisa hari itu juga saya menjalani operasi caesar. Yah walau pun banyak bercandaan dari orang-orang bahwa belum genap 9 bulan menikah, sudah lahir si anak. Tindakan pematangan paru pun dilakukan karena ditakutkan paru-paru janin tidak berkembang sempurna dan dapat menyebabkan kematian pada bayi yang baru lahir karena paru yang belum matang sempurna. Meringis dan tertawa yang bisa saya lakukan saat disuntikkanย dexamethasone karena rasanya.

Dua hari saya di ruang observasi. Bolak balik diperiksa detak jantung saya dan detak jantung si janin dan menghitung gerakan si janin di dalam rahim. Jika detak jantung si janin tidak menurun, tindakan operasi caesar akan dilakukan di Hari Senin seperti yang dijadwalkan. Tetapi jika ternyata detak jantung janin menurun, akan dilakukan operasi caesar hari itu juga. Ibu saya yang paling ketar ketir. Beberapa kali Beliau menanyakan bagaimana jika ternyata detak jantung si janin menurun tetapi rumah dokternya jauh bahkan beberapa kali saya melihat Beliau menitikkan airmata. Disaat saya hampir menjadi seorang Ibu, Ibu saya masih tetap saja seorang Ibu yang mengkuatirkan anak perempuannya.

Air ketuban terus merembes selama dua hari. Saya hanya boleh tiduran di atas tempat tidur, itu pun tidak boleh posisi miring, harus telentang karena merangsang keluarnya air ketuban. Untuk buang air kecil dan buang air besar pun harus dilakukan diatas tempat tidur. Bahkan saat harus periksa USG di poli yang ada di lantai dasar, saya harus pasrah menerima tatapan orang-orang yang penasaran dengan wanita hamil yang didorong-dorong diatas tempat tidur. Akhirnya hanya ada rasa pegal dan pegal di pinggang dan punggung saja. Rasanya ingin menangis saking sakitnya. Bagaimana rasanya kontraksi duh gusti kalau rasa pegal ini saja sudah begini sakitnya. Berkali-kali memanggil suster karena sakit pegal, berkali-kali pun suster bilang ini wajar. Tidak apa-apa. Dan begitu pula jawaban suster saat berkali-kali saya bertanya apakah tidak apa-apa jika air ketuban saya terus keluar. Beruntung suster-suster disana sabar.

Akhirnya saya dijadwalkan untuk operasi caesar di Hari Senin pukul 05.00 WIB dibantu oleh dr. Alesia Novita. Dua hari setelah ketuban saya keluar. Minggu malam, saya tidak bisa tidur. Antara takut, gelisah, tidak sabar, senang, yah pokoknya semua rasa lah. Seperti kalau mau piknik di esok hari, malam terasa begitu lama padahal sudah tidak sabar ingin pergi jalan-jalan. Pukul 04.00 akhirnya saya dibawa ke ruang operasi. Ganti baju dengan baju operasi. Sekitar pukul 04.30 akhirnya seluruh dokter sudah masuk ke ruang operasi. Rasanya duh gusti, degdegan. Dingin. Ada lima orang di dalam ruang operasi, dua orang diantaranya laki-laki. Saya hanya bisa pasrah saja dengan keadaan tubuh saya yang setengah telanjang.

Semua begitu cepat, dimulai dari dokter anestesi meminta saya untuk tenang hingga saya sudah berbaring di ruang pemulihan. Hanya bisa pasrah saat proses operasi. Saya tidak merasakan sakit, namun terasa saat tubuh saya menyentuh pisau operasi dan saat tubuh saya diangkat, digeser oleh asisten dokter atau saat perut saya didorong oleh dokter anestesi saat mengeluarkan janin. Suara tangis Runi membuat saya tidak bisa menahan airmata. Tangis yang dinantikan. Kemudian Runi dibawa keluar meninggalkan saya yang harus melewati proses dijahit untuk menutup jalan lahir Runi. Hampir satu jam saya berada di ruang operasi dan kemudian saya dibawa ke ruang pemulihan.

Orang pertama yang saya temui di ruang pemulihan adalah suami. Airmata ini mengalir begitu deras saat suami mencium kening dan mengucapkan terima kasih. Entah apa yang mendorong airmata ini untuk menjadi begitu dramatis. Airmata makin deras saat melihat foto anak yang baru saja keluar dari rahim saya. Begitu mungil. Tubuhnya hanya seberat 2.575 gram dan sepanjang 46 cm. Kecil.

Saya ditemani suami saya selama di ruang pemulihan. Menggigil sekali rasanya tubuh ini dari ujung kepala sampai ujung kaki. Efek dari anestesi kata dokter. Saya masih bisa tertawa saat masih berada dibawah pengaruh obat bius, tapi begitu sudah mulai hilang pengaruh obat biusnya, saya mulai meringis. Rasanya seperti dikelitiki tapi dengan jarum. Biyung. Saat ini saya yakin, melahirkan dengan operasi caesar tidak seperti yang dibilang orang-orang bahwa rasanya tidak semenyakitkan melahirkan dengan proses alami. Saya percaya, proses melahirkan alami atau pun melalui proses operasi caesar itu sama saja. Sama-sama bertaruh dengan nyawa. Sama-sama hal yang mulia. Dan saya pun sudah menguatkan diri jika nantinya akan ada mulut-mulut yang berkata bahwa saya belum sempurna menjadi Ibu karena tidak merasakan sakitnya melahirkan. FYI, melahirkan dengan operasi caesar pun sakit, Jenderal! Butuh satu minggu untuk saya bisa berjalan dengan normal tanpa mengaduh atau bertopang pada tembok.

Setelah hampir 3 jam saya sudah bisa menggerakkan kaki saya, saya dipindahkan ke ruang perawatan dan masih belum bisa bertemu dengan Runi karena Runi masih diobservasi dahulu. Kesempatan saya bisa tidur dan beristirahat. Baru sekitar pukul 16.00 untuk pertama kalinya saya melihat puteri pertama saya. Rasanya luar biasa. Begitu besar kekuasaan Allah. Bagaimana bisa makhluk kecil ini bisa berkembang di dalam rahim dan bisa keluar dalam keadaan sempurna. Janin yang diperkirakan baru keluar sebulan lagi, namun saat ini sedang tertidur di samping saya. Begitu damai.

Butuh 4 hari untuk saya dirawat dan drama pun ternyata muncul di hari ketiga. Runi termasuk bayi yang anteng, tidak banyak menangis seperti bayi-bayi lain yang dirawat di ruang perawatan yang sama dengan saya. Kegiatannya pun hanya tidur. Dia termasuk sulit dibangunkan untuk menyusu, untuk menerapkan menyusui dua jam sekali agak sulit dilakukan. Setiap disusui, Runi hanya tidur dan tidak mau membuka matanya. Padahal sudah dikelitiki, sudah dicolek-colek akhirnya Runi mau menyusu. Saya tenang, karena saya berpikir saat Runi menyusu, ada air susu yang keluar. Tapi ternyata tidak ada yang keluar dan saya baru sadar itu di hari Rabu malam saat untuk pertama kalinya Runi menangis. Benar-benar menangis sejak pukul 11 malam sampai keesokan harinya. Lapar. Tubuhnya panas dan tangisnya tidak berhenti. Berkali-kali memanggil suster karena kami kuatir. Sampai akhirnya Runi diperiksa saat pagi setelah dimandikan. Bilirubin Runi tinggi. 15. Runi harus difototerapi di PERINA. Hati ini rasanya hancur. Hari ini seharusnya saya pulang bersama Runi, tapi ternyata hanya saya saja yang bisa pulang. Runi harus tetap tinggal di RS.

Setelah tahu kadar bilirubin Runi tinggi, muncul lagi persoalan. Runi tidak bisa difototerapi karena dia terus menangis karena lapar, sedangkan untuk proses fototerapi, si anak harus diberi minum setiap satu jam sekali karena panas dari lampunya, apalagi Runi harus difototerapi dengan dua lampu. Biar saya gambarkan bagaimana fototerapi itu, bayi hanya memakai popok sekali pakai, topi dan semacam kacamata, diletakkan di kotak bayi dan diatasnya diletakkan lampu berwarna ungu.

Berkali-kali saya dipanggil ke PERINA untuk menyusui Runi dan berkali-kali pula saya menahan nangis karena tidak ASI yang keluar. Berkali-kali pula hati saya hancur setiap mendengar Runi menangis karena jika masih menangis, Runi tidak bisa difototerapi. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke kamar. Mencoba untuk menggunakan pompa. Dipompa dengan pompa, diperah dengan jari, tidak ada hasilnya. Minum obat pelancar ASI, makan sayur katuk, bahkan sampai mencoba makan daun pepaya rebus yang pada akhirnya hanya berujung dengan keluarnya semua isi perut saya. Tidak ada ASI yang keluar. Saat itu saya merasa gagal sebagai seorang Ibu karena tidak bisa memberikan ASI untuk Runi.

Kami mencoba mencari donor ASI karena kami masih berharap untuk tidak menggunakan susu formula. Kebetulan saat itu ada tetangga dekat yang anaknya sedang dirawat dan Beliau pun sedang menyusui puterinya yang berusia 5 bulan. Kami mendapatkan ASI sebanyak 110 cc. Dan langsung habis diminum Runi itu pun Runi masih menangis karena lapar.

Saya dan suami sibuk menghubungi teman-teman kami untuk mencari donor ASI. Gagal. Sampai akhirnya ada Ibu yang menawarkan untuk memberikan stok ASIP miliknya. Namun begitu banyak pertimbangan dari kami untuk menerima ASIP milik Ibu tersebut, apalagi anak Ibu tersebut adalah laki-laki. Kuatir dengan bagaimana nantinya, akhirnya dengan berat hati saya dan suami memutuskan untuk memberikan susu formula agar Runi bisa segera difototerapi. Dan akhirnya Runi bisa difototerapi.

Runi difototerapi. Saya pulang.

Dan sekarang Runi sudah hampir berusia dua bulan dan saya pun bergulat di dunia menyusui dan melek malam. Alhamdulillah. Dan rasa paling bahagia itu disaat bisa menidurkan Runi dan dia tidur dengan senyumnya. I’m happy.

Advertisements