Dimana ada musim yang menunggu
Meranggas merapuh berganti dan luruh
Bayang yang berserah terang di ujung sana

Yang yang patah tumbuh
Yang hilang berganti
Yang hancur lebur akan terobati

Yang sia-sia akan menjadi makna
Yang terus berulang suatu saat nanti
Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi

Yang Patah Tumbuh Yang Hilang Berganti
– Banda Neira

Yang sia-sia akan menjadi makna :”)

View on Path

Advertisements

tumblr_ma3vavMr871rcz8z7o1_500

Seseorang berkata, “Nikmati saja setiap detiknya. Tanpa kamu sadari, bayi mungil yang masih belajar bagaimana menyusu, tiba-tiba saja sudah bisa merangkak, berjalan, berlari. Sebelumnya hanya bisa menangis, hingga pada akhirnya tersenyum lebar dan menyebut Ibu dengan manis saat ada penjual balon lewat di depan rumah. Nikmati setiap detiknya. Jika ada yang berkata kamu berbeda setelah memiliki anak, jawab saja iya karena saat ini ada seseorang yang bergantung kepadamu hingga saatnya nanti dia dapat mandiri seperti dirimu saat ini.”

Jatuh cinta lagi. Senyum. Tangis. Gerak. Aroma mulut. Aroma tubuh. Tumbuh dan berkembanglah. Tapi jangan cepat-cepat. Biarkan Ibu menikmati setiap detiknya bersama kamu.

lima puluh enam

Sudah lima puluh enam hari Runi hadir melihat dunia. Perlahan saya pun mulai memahaminya. Memahami arti setiap tangis dan gerakannya. Bagaimana suara tangisnya disaat Runi lapar, disaat Runi ingin digendong, atau disaat Runi buang air kecil dan besar. Setidaknya jauh lebih baik ketimbang dibulan pertama yang membuat saya merasa stress, kesepian, kelelahan, ingin melarikan diri.

Bulan pertama ada Runi adalah masa yang terberat untuk saya, secara fisik atau pun secara mental. Secara fisik saya kelelahan. Harus terbangun setiap malam, harus serba buru-buru mengerjakan apa pun karena takut si bayi terbangun dan menangis. Sampai terkadang disaat sedang mengerjakan sesuatu saya merasa mendengar suara tangis dan sesegera mungkin mengecek keadaan si bayi dan ternyata si bayi masih tidur nyenyak.

Secara mental, yang paling menonjol diawal kelahiran Runi adalah betapa saya merasa kesepian, sedih, gundah gulana dan merindukan masa-masa disaat Runi belum lahir. Baby Blues Syndrome. Setelah kadar bilirubin Runi tinggi dan dia harus difototerapi, saya memiliki rasa tidak percaya diri saat menyusui Runi. Rasa tidak percaya diri bahwa ASI saya cukup untuk Runi, bahkan pada saat menyusui Runi disaat Runi dirawat di PERINA, saya merasa takut tidak ada ASI yang keluar dan akhirnya saya hanya menggendong Runi saja dan membiarkan Runi meminum susu formula selama di PERINA. Padahal saya sudah dipijat laktasi dan ASI saya sudah bisa keluar. Namun sekarang saya yakin ASI saya cukup untuk Runi, melihat begitu bulat pipinya dan berat badannya yang terus naik.

Terkadang bisa saya menangis tanpa sebab saat sedang sendiri tanpa alasan yang jelas. Merasa tidak ada seorang pun yang memperhatikan saya. Terkadang bisa merasa begitu kesepian, merindukan kebiasaan saya yang selalu pergi keluar rumah, entah bertemu teman saya di mall atau bertemu teman-teman di komunitas. Sejak dulu saya memiliki kebutuhan untuk bertemu orang dan mengobrol. Namun, sekarang saya hanya bisa tinggal di rumah. Bahkan untuk berbasa-basi via whatsapp atau media sosial lain pun enggan saya lakukan. Beruntung semua rasa itu sudah tidak lagi menyerang saya.

Betapa saya selalu merasa kuatir setiap melihat Runi dan hampir setiap hari pasti saya mencari tahu apa yang saya lihat terjadi pada Runi di mesin pencari google untuk memastikan bahwa semua baik-baik saja. Berkali-kali saya mencoba menenangkan diri bahwa wajah bayi dibawah satu bulan akan memerah sekali bahkan terlihat amat sangat kesakitan saat mengejan diwaktu dia buang air besar, buang air kecil atau pun buang angin. Rasanya begitu kasihan dan amat kuatir saat melihat Runi terlihat berjuang sangat dengan keras untuk buang air. Satu hal yang menjadi pemicu kami tertawa, suara buang angin Runi yang begitu besar dan lucu. Entah apakah ini ada hubungannya atau tidak dengan kebiasaan saya saat hamil yang begitu sering buang angin.  Dan bibirnya yang selalu membentuk kerucut setelah buang air atau buang angin, seolah tidak ada yang terjadi.

Atau bagaimana paniknya saya saat melihat feses Runi yang terlihat berbeda dari biasanya, apalagi disaat dia berusia enam minggu. Fesesnya berwarna hijau dan berbusa. Atau disaat feses Runi agak encer atau Runi BAB sampai lebih dari 10 kali dalam sehari. Bahkan setiap selesai menyusu, Runi pasti BAB walaupun hanya sedikit. Panik. Saya langsung mengingat-ingat makanan apa saja yang saya makan. Berpikir bahwa ini semua salah saya yang ceroboh memilih makanan. Namun akhirnya lagi dan lagi saya mencari tahu di mesin pencari dan menemukan sumber ini dan saya bernafas lega karena itu adalah hal yang wajar.

Betapa kepayahannya saya saat Runi mengalami masa growth spurt-nya yang membuat saya tidak bisa mengerjakan apa pun selain menyusui dan menggendong Runi. Hampir setiap satu jam Runi merengek untuk menyusu dan minta digendong setelahnya sebelum akhirnya dia bisa tidur. Beruntung hal ini hanya terjadi sekitas tiga hari. Setelah itu semua kembali kepada keadaan normal. Runi menyusu setiap 2-3 jam sekali. Ibu pun bisa lebih tenang.

Beberapa hari belakangan Runi terkena batuk pilek dan itu membuatnya tidak bisa tidur. Setiap malam selalu gelisah dan terbangun. Bergantian menggendong Runi sampai akhirnya Runi bisa tidur dengan nyenyak. Yang terpanjang adalah saat Runi terbangun pukul 20.00 WIB, jadwal Runi biasa menyusu dan tidur setelah selesai menyusu, namun kali ini selesai menyusu, Runi terus terjaga, menangis, menendang saat disusui. Saya mencoba menggunakan cara meletakkan air panas yg diberikan minyak kayu putih (ini cobaan untuk saya yang tidak begitu menyukai aroma minyak kayu putih) di pojok kamar agar hidung Runi tidak tersumbat. Gagal. Runi masih merengek. Begitu terus sampai sekitar pukul 02.00 WIB dan akhirnya Runi tidur setelah disuapi ASIP dengan cup feeder. Runi tidur nyenyak, semua tenang.

Atau disaat perut Runi kembung. Awalnya kami tidak tahu jika perut Runi kembung, saya terus mencoba menyusui Runi. Tapi dia terus menolak, memberontak dan akhirnya menangis keras. Bergantian kami menggendongnya, Runi masih saja menangis. Sampai akhirnya Ibu mertua mengambil bawang merah dan minyak goreng untuk kemudian bawang merah tersebut diparut dan dioleskan di perut Runi dan kepalanya. Tidak lama kemudian Runi buang angin dan tidur. Pelajaran penting kali ini. Parutan bawang merah.

Namun semua kekuatiran tersebut lenyap saat Runi bisa tidur dengan begitu nyenyak dengan pose kesukaannya. Tidur dengan posisi miring seperti layaknya orang dewasa. Melihat bagaimana dia tersenyum atau membalas pandangan saya saat menyusuinya. Saya begitu menyukai momen disaat menyusui Runi. Karena saat itu kami begitu dekat.

Lima hari lagi Runi akan berusia dua bulan. Saatnya kembali imunisasi dan menimbang berat badannya. Tidak sabar untuk tahu berapa berat badannya saat ini. Tidak sabar untuk mendengar kata pertama yang keluar dari bibirnya. Tidak sabar untuk melihatnya mulai tengkurap, merangkak, berjalan hingga berlari mengejar mimpi-mimpinya kelak.

Runi, tumbuh dan berkembang lah. Ibu dan Abi akan ada untuk Runi. Mendampingi dan memberikan kasih sayang kami untuk Runi. Jadilah Runi yang begitu dirindukan seperti sinar matahari pagi. Jadilah Runi yang penuh dengan ketulusan dan kelemahlembutan yang dapat menjadikanmu sahabat yang menyenangkan. Jadilah Runi.

IMG-20160202-WA0002