Menjadi Seorang Ibu Pekerja

20171115_112252798835754.jpg

Hari ini tepat satu tahun saya menjadi seorang Ibu pekerja (di luar rumah). Setelah sebelumnya saya menjadi Ibu Rumah Tangga yang bekerja dari rumah. Ibu yang bisa selalu bersama Runi dalam 24 jam.

Masih ingat sekali rasanya pertama kali meninggalkan Runi untuk bekerja. Berat. Berat sekali. Namun, saya ingat, ada ayat di Al Qur’an yang menyebutkan berangkatlah kamu baik dalam keadaan berat atau pun ringan. Maka berangkatlah saya. Sepanjang hari saya selalu terlintas bagaimana ya Runi di rumah tanpa saya. Gelisah. Bagaimana ya Runi tanpa saya.

Sampai akhirnya jam menunjukkan pukul 16.00 WIB dan bergegaslah saya pulang. Bahkan sampai saat ini, begitu jam menunjukkan pukul 16.00 WIB, saya langsung bergegas pulang. Alasannya cuma satu: ingin rasanya cepat tiba di rumah dan bertemu Runi.

Dihari pertama itu, saya pulang. Begitu sampai di rumah, ternyata Runi demam tinggi. Ibu tidak memberitahu saya. Takut saya khawatir. Deng. Pergolakan terjadi. Apakah saya harus berhenti bekerja atau terus bekerja. Runi demam sepanjang malam. Saya terus memeluknya dan tak hentinya meminta maaf padanya karena pergi untuk bekerja. Akhirnya saya putuskan untuk tidak masuk esok harinya. Pikir saya, jika tidak diizinkan untuk tidak masuk pun, saya akan tetap tidak masuk dan mengundurkan diri. Namun ternyata saya dapat izin untuk tidak masuk. Alhamdulillah. Bahkan sampai sekarang pun saya bisa izin tidak masuk kerja jika Runi sakit dan tidak bisa saya tinggal.

Esoknya saya peluk Runi terus. Saya puas-puaskan diri untuk bermain dengan Runi yang saat itu baru berusia 11 bulan. Ya, belum genap setahun, Runi harus ditinggal Ibu bekerja di luar rumah. Dalam hati saya, saya berusaha menguatkan diri. Walau pun banyak pergolakan dari luar mau pun dari dalam diri saya yang mengatakan untuk berhenti bekerja dan menjadi Ibu Rumah Tangga saja untuk menemani Runi. Apalagi Runi bisa makan amat lahap jika ada saya.

Sampai akhirnya saya memutuskan jika saya harus tetap bekerja. Walau pun diawal saya cenderung memandang sebelah mata para Ibu pekerja. Bagaimana mereka bisa tega meninggalkan anaknya di rumah. Bagaimana mereka bisa melewatkan nikmatnya menjadi seorang Ibu Rumah Tangga. Betapa sombongnya pikiran saya yang hanya baru merasakan menjadi seorang Ibu Rumah Tangga dengan anak selama 11 bulan saja.

Namun akhirnya ego saya pun saya lepaskan dan akhirnya memutuskan untuk menjadi Ibu pekerja. Banyak alasan mengapa saya harus bekerja, salah satunya adalah alasan personal. Alasan agar bisa leluasa membeli peralatan make up atau membeli baju lucu untuk Runi secara impulsif adalah salah satunya untuk pembelaan diri saya mengapa saya harus bekerja. Namun ada satu hal yang paling penting yang menjadi alasan saya untuk bekerja: saya dan suami berdoa agar dengan apa yang kami kerjakan berdua ini, kelak Runi bisa mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya karena hanya pendidikan lah yg bisa kami berikan sebagai modal untuk Runi ke depan, pendidikan secara karakter dan akademik.

Esok lusanya saya berangkat ke kantor. Alhamdulillah Runi sudah tidak demam lagi. Hati sedikit tenang. Ibu bisa bekerja lagi tanpa risau. Walau sesekali terlintas pertanyaan apa yang sedang dilakukan Runi.

Satu hal yang membuat saya bertahan di kantor saya saat ini adalah jam kerjanya yg amat fleksibel dan menguntungkan untuk saya. Saya bekerja dari pukul 09.00-16.00 WIB. Dengan jam kerja seperti ini saya bisa menggunakan waktu saya semaksimal mungkin untuk bersama Runi. Mulai dari memasak untuk kami, memandikan Runi, menyuapi Runi, menyusui, hingga akhirnya pamit untuk bekerja. Saya memiliki prinsip jika hal diatas harus bisa saya lakukan setiap hari, agar Runi tetap tahu bahwa ada saya untuknya. Walau pun jika kepepet, urusan memandikan Runi saya limpahkan ke abinya.

Selain itu lingkungan tempat saya bekerja yang menjadi salah satu faktor yang membuat saya tetap bekerja di sini. Keriaan bersama rekan kerja yang usianya jauh dibawah saya. Yang bisa membuat saya tetap waras.

Menjadi seorang Ibu pekerja di luar rumah bukanlah pilihan saya sejak dulu. Apalagi saya berkiblat kepada Ibu saya yang menjadi seorang Ibu Rumah Tangga yang waktunya 24 jam dihabiskan di rumah. Ibu yang selalu ada untuk anaknya, mulai dari anaknya bangun, berangkat sekolah, pulang sekolah, belajar, tidur dan begitu setiap harinya. Saya ingat, Ibu saya selalu menjadi tempat berbagi cerita setiap hari setelah saya pulang sekolah. Hingga akhirnya Ibu bisa tahu jika saya sedang ada masalah, bahkan sebelum saya menceritakannya. Itu menjadi cita-cita saya, untuk menjadi seorang Ibu yang ada 24 jam untuk Runi.

Itulah salah satu alasan mengapa sejak lulus kuliah saya menerima tawaran teman saya untuk bekerja dari rumah. Hampir 3 tahun saya bekerja dari rumah. Rasanya? Menyenangkan. Tak harus berganti baju yg bagus setiap hari, tak perlu bermacet ria, tak perlu khawatir tidak punya uang untuk makan siang karena makanan sudah tersedia di rumah.

Namun ternyata selama 3 tahun tersebut saya terlena di dalam zona nyaman dan mimpi-mimpi saya. Sampai akhirnya saya pun harus melepas mimpi menjadi Ibu Rumah Tangga yg bekerja dari rumah dan disinilah saya sekarang.

Banyak suka -dukanya saat menjadi seorang Ibu pekerja. Saya harus merelakan mimpi-mimpi saya untuk menjadi orang yang pertama menyaksikan seluruh langkah pertamanya. Mimpi untuk melihat langkah pertama, kata pertama, kalimat pertama yg terucap dari mulutnya. Mimpi untuk menjadi Ibu 24 jam untuk Runi.

Namun ternyata Allah masih sayang kepada saya, saya diberikan izin untuk melihat 3 langkah pertamanya saat Runi berusia 15 bulan. Langkah pertama yang sangat kami tunggu karena teman seusianya sudah bisa berlari di usia tersebut. Tiga langkah pertama tersebut yang akhirnya membawa Runi yang sekarang selalu melompat kegirangan lalu berlari memeluk saya setiap sore saat saya pulang ke rumah. Menyaksikan tawa gembiranya setiap sore membuat seluruh lelah hilang seketika. Kebahagiaan sederhana untuk seorang Ibu.

Kata pertama yang terucap “Mama” hingga akhirnya sekarang Runi selalu memanggil saya dengan “Bu iis”. Setiap sore pasti dengan centilnya dia memanggil ” Bu..Ibu..” untuk kemudian saya balas “iya.. Runi..” lalu Runi berjalan menghampiri saya dan memeluk saya erat. Selalu. Pelukan hangat penghilang penat.

Kadang ada masanya saya ingin sekali berhenti bekerja. Saat saya pamit untuk bekerja, Runi langsung memeluk saya dan menangis keras hingga sesenggukan. Hati ini rasanya patah. Rasanya ingin melepas helm dan jaket untuk kemudian main bersama Runi saja. Hampir tiga bulan selalu begitu. Drama pagi saya menyebutnya. Ibu harus berangkat dengan langkah yang teramat berat. Berusaha menyatukan hati yang patah berantakan setiap pagi.

Namun ternyata ada yang lebih membuat hati ini patah, saat Runi tidak lagi menangis saat saya pamit bekerja. Bukannya menangis, Runi malah melambaikan tangannya sambil memberikan ciuman jauh dengan mata genitnya. Rasanya ada lubang besar di hati ini. Anak Ibu tak lagi menangis, hingga terkadang saya berkali-kali memancing Runi agar dia menangis saat saya pamit bekerja. Ibu ingin dirindukan. Yah walau pun sekarang sesekali dia masih menangis saat saya pamit bekerja.

Iri rasanya saat harus melihat Ibu yang lain bisa bersama dengan anak-anak mereka selama 24 jam. Apalagi saat harus pergi disaat Runi sedang tidak enak badan. Beraaaat. Berat sekali. Bahkan saya tidak sanggup untuk menelepon rumah hanya untuk sekedar menanyakan bagaimana keadaan Runi. Bukan apa-apa. Saya hanya takut tidak bisa menahan diri untuk pulang ke rumah. Itu saja.

Sukanya menjadi Ibu bekerja. Saya bisa bertemu banyak orang dan mempelajari hal-hal baru. Saya bisa menjadi diri saya. Bukan istrinya Irfan, bukan Ibunya Runi, tapi menjadi seorang Iis Sumarni. Sebuah pengakuan yang saya butuhkan. Seperti yang dirasakan Ibu dari Dong-Ryong di drama Korea, Reply 1988, yang melarikan diri dari rumah karena tidak tahan harus berhenti bekerja untuk kemudian hanya dipanggil ibunya Dong-Ryong atau neneknya-sayalupanamacucunya. Beliau butuh dirinya diakui sebagai dirinya. Begitu pun saya.

Dengan menjadi Ibu pekerja, saya bisa sedikit bersantai. Berbincang dan tertawa lepas di kantor dengan rekan kerja yang kebanyakan usianya jauh dibawah saya. Menurut pengalaman saya selama 11 bulan menjadi Ibu Rumah Tangga yang bekerja di rumah, berada 24 jam di rumah terkadang bisa membuat saya gila. Tidak waras. Kurang piknik kalau kata anak zaman sekarang.

Menjadi Ibu Rumah Tangga: melakukan hal yang sama berulang tanpa bertemu orang lain kecuali orang yang itu-itu saja. Bosan. Jenuh. Rutinitas berulang: mandi-memasak-memandikan Runi-menyuapi Runi-menidurkan Runi-bekerja-menyusui Runi-menyuapi Runi-bekerja-menidurkan Runi-bekerja-memandikan Runi-menyuapi Runi-menidurkan Runi-mandi-mengurusi rumah-tidur. Begitu setiap hari. Saya salut kepada para Ibu Rumah Tangga yang bisa berjuang terus setiap harinya di rumah. Ibu yang harus merelakan dirinya untuk menutup kuping saat banyak yang mempertanyakan status pendidikannya yang amat sayang jika digunakan hanya untuk menjadi seorang Ibu Rumah Tangga (saja). Harus merelakan teman-teman yang lain lari bahkan terbang menggapai mimpi di luar sana.

Bagi saya, keduanya sama-sama mulia. Antara Ibu Rumah Tangga dan Ibu Pekerja. Sama-sama berkorban. Jika didebatkan mana yang lebih hebat, lebih mulai, tidak akan pernah habis. Sama seperti perdebatan mana yang lebih baik, “lebih sempurna” antara Ibu yang melahirkan dengan cara alami dan Ibu yang melahirkan dengan cara operasi caesar. Padahal keduanya sama-sama merasakan hamil 9 bulan dan sama-sama mempertaruhkan nyawa demi memperjuangkan buah hati bisa melihat dunia dengan selamat tanpa kurang satu pun.

Sesungguhnya keduanya sama-sama hebat. Berjuang dengan jalannya agar seluruh kebutuhan dalam rumah dapat berjalan dengan seharusnya. Mengurus keperluan rumah tangga, mendidik anak, mengurus suami, mengatur keuangan dan seluruh tetek bengek di dalam rumah tangga.

Well, pada akhirnya mungkin dengan bekerja itu menjadi salah satu jalan agar saya bisa belajar bagaimana untuk lebih banyak bersyukur dan banyak berkaca. Untuk saat ini saya masih harus menjadi seorang Ibu pekerja. Entah sampai kapan. Namun dalam setiap doa selalu terselip agar suatu hari nanti saya bisa menjadi Ibu yang bisa ada di dalam rumah selama 24 jam menemani anak-anak saya dan bisa menghasilkan uang dari dalam rumah. Aamiin.

Ada satu yang harus diingat oleh: jagalah diri agar terus waras karena dengan warasnya rumah akan menjadi surga bagi penghuninya.

Selamat berjuang Ibu-Ibu hebat. Percaya deh, anak-anak kita pasti bangga punya Ibu seperti kita. Terus berjuang dengan cinta 😊

Advertisements

One thought on “Menjadi Seorang Ibu Pekerja

  1. Perenungan yang menarik. Thanks for sharing!

    Semangat bu Iis..

    Tidak ada yang berhak menjatuhkan kita
    Karena kitalah yang menjalani kehidupan ini

    Semoga Allah kuatkan kita untuk menjadi istri, ibu dan wanita sholehah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s