Menjadi Seorang Ibu Pekerja

20171115_112252798835754.jpg

Hari ini tepat satu tahun saya menjadi seorang Ibu pekerja (di luar rumah). Setelah sebelumnya saya menjadi Ibu Rumah Tangga yang bekerja dari rumah. Ibu yang bisa selalu bersama Runi dalam 24 jam.

Masih ingat sekali rasanya pertama kali meninggalkan Runi untuk bekerja. Berat. Berat sekali. Namun, saya ingat, ada ayat di Al Qur’an yang menyebutkan berangkatlah kamu baik dalam keadaan berat atau pun ringan. Maka berangkatlah saya. Sepanjang hari saya selalu terlintas bagaimana ya Runi di rumah tanpa saya. Gelisah. Bagaimana ya Runi tanpa saya.

Sampai akhirnya jam menunjukkan pukul 16.00 WIB dan bergegaslah saya pulang. Bahkan sampai saat ini, begitu jam menunjukkan pukul 16.00 WIB, saya langsung bergegas pulang. Alasannya cuma satu: ingin rasanya cepat tiba di rumah dan bertemu Runi.

Dihari pertama itu, saya pulang. Begitu sampai di rumah, ternyata Runi demam tinggi. Ibu tidak memberitahu saya. Takut saya khawatir. Deng. Pergolakan terjadi. Apakah saya harus berhenti bekerja atau terus bekerja. Runi demam sepanjang malam. Saya terus memeluknya dan tak hentinya meminta maaf padanya karena pergi untuk bekerja. Akhirnya saya putuskan untuk tidak masuk esok harinya. Pikir saya, jika tidak diizinkan untuk tidak masuk pun, saya akan tetap tidak masuk dan mengundurkan diri. Namun ternyata saya dapat izin untuk tidak masuk. Alhamdulillah. Bahkan sampai sekarang pun saya bisa izin tidak masuk kerja jika Runi sakit dan tidak bisa saya tinggal.

Esoknya saya peluk Runi terus. Saya puas-puaskan diri untuk bermain dengan Runi yang saat itu baru berusia 11 bulan. Ya, belum genap setahun, Runi harus ditinggal Ibu bekerja di luar rumah. Dalam hati saya, saya berusaha menguatkan diri. Walau pun banyak pergolakan dari luar mau pun dari dalam diri saya yang mengatakan untuk berhenti bekerja dan menjadi Ibu Rumah Tangga saja untuk menemani Runi. Apalagi Runi bisa makan amat lahap jika ada saya.

Sampai akhirnya saya memutuskan jika saya harus tetap bekerja. Walau pun diawal saya cenderung memandang sebelah mata para Ibu pekerja. Bagaimana mereka bisa tega meninggalkan anaknya di rumah. Bagaimana mereka bisa melewatkan nikmatnya menjadi seorang Ibu Rumah Tangga. Betapa sombongnya pikiran saya yang hanya baru merasakan menjadi seorang Ibu Rumah Tangga dengan anak selama 11 bulan saja.

Namun akhirnya ego saya pun saya lepaskan dan akhirnya memutuskan untuk menjadi Ibu pekerja. Banyak alasan mengapa saya harus bekerja, salah satunya adalah alasan personal. Alasan agar bisa leluasa membeli peralatan make up atau membeli baju lucu untuk Runi secara impulsif adalah salah satunya untuk pembelaan diri saya mengapa saya harus bekerja. Namun ada satu hal yang paling penting yang menjadi alasan saya untuk bekerja: saya dan suami berdoa agar dengan apa yang kami kerjakan berdua ini, kelak Runi bisa mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya karena hanya pendidikan lah yg bisa kami berikan sebagai modal untuk Runi ke depan, pendidikan secara karakter dan akademik.

Esok lusanya saya berangkat ke kantor. Alhamdulillah Runi sudah tidak demam lagi. Hati sedikit tenang. Ibu bisa bekerja lagi tanpa risau. Walau sesekali terlintas pertanyaan apa yang sedang dilakukan Runi.

Satu hal yang membuat saya bertahan di kantor saya saat ini adalah jam kerjanya yg amat fleksibel dan menguntungkan untuk saya. Saya bekerja dari pukul 09.00-16.00 WIB. Dengan jam kerja seperti ini saya bisa menggunakan waktu saya semaksimal mungkin untuk bersama Runi. Mulai dari memasak untuk kami, memandikan Runi, menyuapi Runi, menyusui, hingga akhirnya pamit untuk bekerja. Saya memiliki prinsip jika hal diatas harus bisa saya lakukan setiap hari, agar Runi tetap tahu bahwa ada saya untuknya. Walau pun jika kepepet, urusan memandikan Runi saya limpahkan ke abinya.

Selain itu lingkungan tempat saya bekerja yang menjadi salah satu faktor yang membuat saya tetap bekerja di sini. Keriaan bersama rekan kerja yang usianya jauh dibawah saya. Yang bisa membuat saya tetap waras.

Menjadi seorang Ibu pekerja di luar rumah bukanlah pilihan saya sejak dulu. Apalagi saya berkiblat kepada Ibu saya yang menjadi seorang Ibu Rumah Tangga yang waktunya 24 jam dihabiskan di rumah. Ibu yang selalu ada untuk anaknya, mulai dari anaknya bangun, berangkat sekolah, pulang sekolah, belajar, tidur dan begitu setiap harinya. Saya ingat, Ibu saya selalu menjadi tempat berbagi cerita setiap hari setelah saya pulang sekolah. Hingga akhirnya Ibu bisa tahu jika saya sedang ada masalah, bahkan sebelum saya menceritakannya. Itu menjadi cita-cita saya, untuk menjadi seorang Ibu yang ada 24 jam untuk Runi.

Itulah salah satu alasan mengapa sejak lulus kuliah saya menerima tawaran teman saya untuk bekerja dari rumah. Hampir 3 tahun saya bekerja dari rumah. Rasanya? Menyenangkan. Tak harus berganti baju yg bagus setiap hari, tak perlu bermacet ria, tak perlu khawatir tidak punya uang untuk makan siang karena makanan sudah tersedia di rumah.

Namun ternyata selama 3 tahun tersebut saya terlena di dalam zona nyaman dan mimpi-mimpi saya. Sampai akhirnya saya pun harus melepas mimpi menjadi Ibu Rumah Tangga yg bekerja dari rumah dan disinilah saya sekarang.

Banyak suka -dukanya saat menjadi seorang Ibu pekerja. Saya harus merelakan mimpi-mimpi saya untuk menjadi orang yang pertama menyaksikan seluruh langkah pertamanya. Mimpi untuk melihat langkah pertama, kata pertama, kalimat pertama yg terucap dari mulutnya. Mimpi untuk menjadi Ibu 24 jam untuk Runi.

Namun ternyata Allah masih sayang kepada saya, saya diberikan izin untuk melihat 3 langkah pertamanya saat Runi berusia 15 bulan. Langkah pertama yang sangat kami tunggu karena teman seusianya sudah bisa berlari di usia tersebut. Tiga langkah pertama tersebut yang akhirnya membawa Runi yang sekarang selalu melompat kegirangan lalu berlari memeluk saya setiap sore saat saya pulang ke rumah. Menyaksikan tawa gembiranya setiap sore membuat seluruh lelah hilang seketika. Kebahagiaan sederhana untuk seorang Ibu.

Kata pertama yang terucap “Mama” hingga akhirnya sekarang Runi selalu memanggil saya dengan “Bu iis”. Setiap sore pasti dengan centilnya dia memanggil ” Bu..Ibu..” untuk kemudian saya balas “iya.. Runi..” lalu Runi berjalan menghampiri saya dan memeluk saya erat. Selalu. Pelukan hangat penghilang penat.

Kadang ada masanya saya ingin sekali berhenti bekerja. Saat saya pamit untuk bekerja, Runi langsung memeluk saya dan menangis keras hingga sesenggukan. Hati ini rasanya patah. Rasanya ingin melepas helm dan jaket untuk kemudian main bersama Runi saja. Hampir tiga bulan selalu begitu. Drama pagi saya menyebutnya. Ibu harus berangkat dengan langkah yang teramat berat. Berusaha menyatukan hati yang patah berantakan setiap pagi.

Namun ternyata ada yang lebih membuat hati ini patah, saat Runi tidak lagi menangis saat saya pamit bekerja. Bukannya menangis, Runi malah melambaikan tangannya sambil memberikan ciuman jauh dengan mata genitnya. Rasanya ada lubang besar di hati ini. Anak Ibu tak lagi menangis, hingga terkadang saya berkali-kali memancing Runi agar dia menangis saat saya pamit bekerja. Ibu ingin dirindukan. Yah walau pun sekarang sesekali dia masih menangis saat saya pamit bekerja.

Iri rasanya saat harus melihat Ibu yang lain bisa bersama dengan anak-anak mereka selama 24 jam. Apalagi saat harus pergi disaat Runi sedang tidak enak badan. Beraaaat. Berat sekali. Bahkan saya tidak sanggup untuk menelepon rumah hanya untuk sekedar menanyakan bagaimana keadaan Runi. Bukan apa-apa. Saya hanya takut tidak bisa menahan diri untuk pulang ke rumah. Itu saja.

Sukanya menjadi Ibu bekerja. Saya bisa bertemu banyak orang dan mempelajari hal-hal baru. Saya bisa menjadi diri saya. Bukan istrinya Irfan, bukan Ibunya Runi, tapi menjadi seorang Iis Sumarni. Sebuah pengakuan yang saya butuhkan. Seperti yang dirasakan Ibu dari Dong-Ryong di drama Korea, Reply 1988, yang melarikan diri dari rumah karena tidak tahan harus berhenti bekerja untuk kemudian hanya dipanggil ibunya Dong-Ryong atau neneknya-sayalupanamacucunya. Beliau butuh dirinya diakui sebagai dirinya. Begitu pun saya.

Dengan menjadi Ibu pekerja, saya bisa sedikit bersantai. Berbincang dan tertawa lepas di kantor dengan rekan kerja yang kebanyakan usianya jauh dibawah saya. Menurut pengalaman saya selama 11 bulan menjadi Ibu Rumah Tangga yang bekerja di rumah, berada 24 jam di rumah terkadang bisa membuat saya gila. Tidak waras. Kurang piknik kalau kata anak zaman sekarang.

Menjadi Ibu Rumah Tangga: melakukan hal yang sama berulang tanpa bertemu orang lain kecuali orang yang itu-itu saja. Bosan. Jenuh. Rutinitas berulang: mandi-memasak-memandikan Runi-menyuapi Runi-menidurkan Runi-bekerja-menyusui Runi-menyuapi Runi-bekerja-menidurkan Runi-bekerja-memandikan Runi-menyuapi Runi-menidurkan Runi-mandi-mengurusi rumah-tidur. Begitu setiap hari. Saya salut kepada para Ibu Rumah Tangga yang bisa berjuang terus setiap harinya di rumah. Ibu yang harus merelakan dirinya untuk menutup kuping saat banyak yang mempertanyakan status pendidikannya yang amat sayang jika digunakan hanya untuk menjadi seorang Ibu Rumah Tangga (saja). Harus merelakan teman-teman yang lain lari bahkan terbang menggapai mimpi di luar sana.

Bagi saya, keduanya sama-sama mulia. Antara Ibu Rumah Tangga dan Ibu Pekerja. Sama-sama berkorban. Jika didebatkan mana yang lebih hebat, lebih mulai, tidak akan pernah habis. Sama seperti perdebatan mana yang lebih baik, “lebih sempurna” antara Ibu yang melahirkan dengan cara alami dan Ibu yang melahirkan dengan cara operasi caesar. Padahal keduanya sama-sama merasakan hamil 9 bulan dan sama-sama mempertaruhkan nyawa demi memperjuangkan buah hati bisa melihat dunia dengan selamat tanpa kurang satu pun.

Sesungguhnya keduanya sama-sama hebat. Berjuang dengan jalannya agar seluruh kebutuhan dalam rumah dapat berjalan dengan seharusnya. Mengurus keperluan rumah tangga, mendidik anak, mengurus suami, mengatur keuangan dan seluruh tetek bengek di dalam rumah tangga.

Well, pada akhirnya mungkin dengan bekerja itu menjadi salah satu jalan agar saya bisa belajar bagaimana untuk lebih banyak bersyukur dan banyak berkaca. Untuk saat ini saya masih harus menjadi seorang Ibu pekerja. Entah sampai kapan. Namun dalam setiap doa selalu terselip agar suatu hari nanti saya bisa menjadi Ibu yang bisa ada di dalam rumah selama 24 jam menemani anak-anak saya dan bisa menghasilkan uang dari dalam rumah. Aamiin.

Ada satu yang harus diingat oleh: jagalah diri agar terus waras karena dengan warasnya rumah akan menjadi surga bagi penghuninya.

Selamat berjuang Ibu-Ibu hebat. Percaya deh, anak-anak kita pasti bangga punya Ibu seperti kita. Terus berjuang dengan cinta 😊

Advertisements

lima puluh enam

Sudah lima puluh enam hari Runi hadir melihat dunia. Perlahan saya pun mulai memahaminya. Memahami arti setiap tangis dan gerakannya. Bagaimana suara tangisnya disaat Runi lapar, disaat Runi ingin digendong, atau disaat Runi buang air kecil dan besar. Setidaknya jauh lebih baik ketimbang dibulan pertama yang membuat saya merasa stress, kesepian, kelelahan, ingin melarikan diri.

Bulan pertama ada Runi adalah masa yang terberat untuk saya, secara fisik atau pun secara mental. Secara fisik saya kelelahan. Harus terbangun setiap malam, harus serba buru-buru mengerjakan apa pun karena takut si bayi terbangun dan menangis. Sampai terkadang disaat sedang mengerjakan sesuatu saya merasa mendengar suara tangis dan sesegera mungkin mengecek keadaan si bayi dan ternyata si bayi masih tidur nyenyak.

Secara mental, yang paling menonjol diawal kelahiran Runi adalah betapa saya merasa kesepian, sedih, gundah gulana dan merindukan masa-masa disaat Runi belum lahir. Baby Blues Syndrome. Setelah kadar bilirubin Runi tinggi dan dia harus difototerapi, saya memiliki rasa tidak percaya diri saat menyusui Runi. Rasa tidak percaya diri bahwa ASI saya cukup untuk Runi, bahkan pada saat menyusui Runi disaat Runi dirawat di PERINA, saya merasa takut tidak ada ASI yang keluar dan akhirnya saya hanya menggendong Runi saja dan membiarkan Runi meminum susu formula selama di PERINA. Padahal saya sudah dipijat laktasi dan ASI saya sudah bisa keluar. Namun sekarang saya yakin ASI saya cukup untuk Runi, melihat begitu bulat pipinya dan berat badannya yang terus naik.

Terkadang bisa saya menangis tanpa sebab saat sedang sendiri tanpa alasan yang jelas. Merasa tidak ada seorang pun yang memperhatikan saya. Terkadang bisa merasa begitu kesepian, merindukan kebiasaan saya yang selalu pergi keluar rumah, entah bertemu teman saya di mall atau bertemu teman-teman di komunitas. Sejak dulu saya memiliki kebutuhan untuk bertemu orang dan mengobrol. Namun, sekarang saya hanya bisa tinggal di rumah. Bahkan untuk berbasa-basi via whatsapp atau media sosial lain pun enggan saya lakukan. Beruntung semua rasa itu sudah tidak lagi menyerang saya.

Betapa saya selalu merasa kuatir setiap melihat Runi dan hampir setiap hari pasti saya mencari tahu apa yang saya lihat terjadi pada Runi di mesin pencari google untuk memastikan bahwa semua baik-baik saja. Berkali-kali saya mencoba menenangkan diri bahwa wajah bayi dibawah satu bulan akan memerah sekali bahkan terlihat amat sangat kesakitan saat mengejan diwaktu dia buang air besar, buang air kecil atau pun buang angin. Rasanya begitu kasihan dan amat kuatir saat melihat Runi terlihat berjuang sangat dengan keras untuk buang air. Satu hal yang menjadi pemicu kami tertawa, suara buang angin Runi yang begitu besar dan lucu. Entah apakah ini ada hubungannya atau tidak dengan kebiasaan saya saat hamil yang begitu sering buang angin.  Dan bibirnya yang selalu membentuk kerucut setelah buang air atau buang angin, seolah tidak ada yang terjadi.

Atau bagaimana paniknya saya saat melihat feses Runi yang terlihat berbeda dari biasanya, apalagi disaat dia berusia enam minggu. Fesesnya berwarna hijau dan berbusa. Atau disaat feses Runi agak encer atau Runi BAB sampai lebih dari 10 kali dalam sehari. Bahkan setiap selesai menyusu, Runi pasti BAB walaupun hanya sedikit. Panik. Saya langsung mengingat-ingat makanan apa saja yang saya makan. Berpikir bahwa ini semua salah saya yang ceroboh memilih makanan. Namun akhirnya lagi dan lagi saya mencari tahu di mesin pencari dan menemukan sumber ini dan saya bernafas lega karena itu adalah hal yang wajar.

Betapa kepayahannya saya saat Runi mengalami masa growth spurt-nya yang membuat saya tidak bisa mengerjakan apa pun selain menyusui dan menggendong Runi. Hampir setiap satu jam Runi merengek untuk menyusu dan minta digendong setelahnya sebelum akhirnya dia bisa tidur. Beruntung hal ini hanya terjadi sekitas tiga hari. Setelah itu semua kembali kepada keadaan normal. Runi menyusu setiap 2-3 jam sekali. Ibu pun bisa lebih tenang.

Beberapa hari belakangan Runi terkena batuk pilek dan itu membuatnya tidak bisa tidur. Setiap malam selalu gelisah dan terbangun. Bergantian menggendong Runi sampai akhirnya Runi bisa tidur dengan nyenyak. Yang terpanjang adalah saat Runi terbangun pukul 20.00 WIB, jadwal Runi biasa menyusu dan tidur setelah selesai menyusu, namun kali ini selesai menyusu, Runi terus terjaga, menangis, menendang saat disusui. Saya mencoba menggunakan cara meletakkan air panas yg diberikan minyak kayu putih (ini cobaan untuk saya yang tidak begitu menyukai aroma minyak kayu putih) di pojok kamar agar hidung Runi tidak tersumbat. Gagal. Runi masih merengek. Begitu terus sampai sekitar pukul 02.00 WIB dan akhirnya Runi tidur setelah disuapi ASIP dengan cup feeder. Runi tidur nyenyak, semua tenang.

Atau disaat perut Runi kembung. Awalnya kami tidak tahu jika perut Runi kembung, saya terus mencoba menyusui Runi. Tapi dia terus menolak, memberontak dan akhirnya menangis keras. Bergantian kami menggendongnya, Runi masih saja menangis. Sampai akhirnya Ibu mertua mengambil bawang merah dan minyak goreng untuk kemudian bawang merah tersebut diparut dan dioleskan di perut Runi dan kepalanya. Tidak lama kemudian Runi buang angin dan tidur. Pelajaran penting kali ini. Parutan bawang merah.

Namun semua kekuatiran tersebut lenyap saat Runi bisa tidur dengan begitu nyenyak dengan pose kesukaannya. Tidur dengan posisi miring seperti layaknya orang dewasa. Melihat bagaimana dia tersenyum atau membalas pandangan saya saat menyusuinya. Saya begitu menyukai momen disaat menyusui Runi. Karena saat itu kami begitu dekat.

Lima hari lagi Runi akan berusia dua bulan. Saatnya kembali imunisasi dan menimbang berat badannya. Tidak sabar untuk tahu berapa berat badannya saat ini. Tidak sabar untuk mendengar kata pertama yang keluar dari bibirnya. Tidak sabar untuk melihatnya mulai tengkurap, merangkak, berjalan hingga berlari mengejar mimpi-mimpinya kelak.

Runi, tumbuh dan berkembang lah. Ibu dan Abi akan ada untuk Runi. Mendampingi dan memberikan kasih sayang kami untuk Runi. Jadilah Runi yang begitu dirindukan seperti sinar matahari pagi. Jadilah Runi yang penuh dengan ketulusan dan kelemahlembutan yang dapat menjadikanmu sahabat yang menyenangkan. Jadilah Runi.

IMG-20160202-WA0002

 

Alhamdulillah telah lahir puteri pertama kami pada tgl 7 Desember 2015 pkl 5.08 wib dengan berat badan 2.575gr dan panjang 46 cm.

Semoga jadi anak yg soleh, mengabdi pada Allah, berbakti pada orangtua dan berguna bagi alam semesta ya, Sayang.

Terima kasih Tante dan Om yg sudah mendoakan persalinan Runi ya :))

View on Path

Hai

Sudah waktunya melarikan diri dari sosial media. Sudah waktunya untuk bergumul dengan buku-buku dan ilmu-ilmu yang telah lama tertinggal karena asyik tenggelam didalam keriuhan sosial media. Berusaha untuk mengembalikan pengertian manusia sebagai makhluk sosial.

Mungkin memang sudah saatnya berpindah tempat berbagi kebahagiaan, kesedihan, kegundahan kepada Tuhan yang pada akhirnya selalu ada untuk kita. Cukup dibagi berdua saja. Intim. Tak usah semua orang tahu. Jika memang ada yang ingin tahu, biarkan mereka bertanya langsung. Bukan tahu dari kata-kata atau gambar yang kita sebar di sosial media.

Sosial media yang tidak benar-benar membuat kita menjadi makhluk sosial.

Dua Belas

Tepat diminggu keduabelas, kamu dan Ibu harus bertemu dengan jarum ya Nak.

Tepat diminggu keduabelas, Ibu menangis (lagi) karena takut akan terjadi apa-apa denganmu.

Tepat diminggu keduabelas, hanya Ibu, Ayah dan kamu. Kita bertiga.

Tepat diminggu keduabelas, Ibu tak bisa berhenti mensyukuri semua nikmat yang diberikan kepada Ibu dan kamu.

Seorang yang sabar merawat kita berdua, Nak.

Harus bolak-balik terbangun, saat Ibu harus buang air kecil.

Terbangun saat Ibu harus minum.

Tak terhitung berapa puluh kali dalam sehari Ibu harus buang air kecil karena banyaknya air yang harus masuk kedalam tubuh Ibu karena air ketubanmu sedikit, Sayang.

Kita berdua memiliki seseorang yang hebat yang akan mendampingi dan membimbing kita, Sayang. Ayahmu.

Maaf ya, Ibu hanya mampu untuk mengajakmu berpuasa sebanyak tiga hari.

Gugur sudah harapan Ibu untuk berpuasa bersamamu selama satu bulan. Dokter tak mengizinkan Ibu untuk berpuasa.

Semua demi kita, Sayang. Tahun depan, insya Allah kita bisa berpuasa yah.

Terus sehat ya, Sayang.

Ibu dan Ayah tak sabar menanti gerakanmu dari dalam rahim Ibu. Sumringah rasanya saat kami untuk pertama kalinya melihat jemari-jemari kecilmu dan tubuh kecilmu. Hanya lima sentimeter. Kecil sekali.

Terus bertumbuh dan berkembang ya, Sayang.

Kelak, kamu bisa menjadi apa saja. Pemain bola, perenang, atau ilmuwan. Kami akan mendukungmu.

Sampai bertemu di Januari nanti, Sayang.

Kami sayang kamu.

Ramadhan is coming closer!
Yuk ikutan di Festival Ramadhan Rumah Belajar Kita!

Kegiatan Festival Ramadhan Rumah Belajar Kita kali ini bertema “Bersama-sama mencetak Generasi Rabbani”

Yang spesial dari acara ini, bukan hanya adik RBK aja yg dilibatin, tapi juga 50 orangtua dari adik RBK Manggarai dan pemuda-pemudi Karang Taruna kel. Kemiri Muka, Depok. Kurang rame apalagi!

Kegiatannya apa aja sih??

*Talkshow “Peran Pemuda Saat Ini”
*Tausiah dengan tema : “Cara membangun Generasi Muda yang Rabbani” dan “Cara Mendidik Anak Secara Islami”
*Perlombaan 100 adik RBK
*Dongeng anak
*Penampilan hadroh oleh adik RBK
*Pemberian santunan & goodie bag untuk 150 adik RBK (yatim, dhuafa, dll).
*Buka puasa bersama

Kapan sih acara nya??

Day 1
Ahad, 21 Juni 2015
Tempat: Masjid Al Munzir, Manggarai

Day 2
Ahad, 28 Juni 2015
Tempat: Aula Majelis Ta’lim Kemiri Muka Depok.

YUK IKUT SERTA dan buat Ramadhan kali ini lebih berarti 😍😍

Caranya gampang kok, bisa dengan donasi barang :

1. Mukena
2. Sajadah
3. Sarung
4. Al Qur’an
5. Barang bekas layak pakai (pakaian, buku, sepatu, mainan anak, dll)

Untuk donasi barang diatas, bisa hubungi:
M. Hanafi
(085216867416)

Atau :

*Donasi DANA/UANG
ke;

Rek BCA 6080301101
A.n Yayasan Bangun Kecerdasan Bangsa

Rek BNI 0246395907
Rek MANDIRI 900003145138
A.n Yulia Ernita

Untuk mempermudah pencatatan, tolong ditambahkan angka 4 diangka terakhir donasi ya 🙂

Contoh :Rp. 200.004

Untuk konfirmasi donasi.

D. Widiyanto
(08569255 5090)
Ira Norma P
(088977646971)

Info lebih lanjut silahkan hubungi;

Wita Puspitasari
(082112331392)
Ida Fitriani
(085313301352)

atau mention twitter kami:
@rumahblajarkita

Yuk kita ikut aktif dalam menjalankan ibadah kita di Bulan Ramadhan ini. Jadi bukan sekedar puasa, ngaji dan bobok siang terus selama puasa *eh

Terima kasih yaa.. Bolehlah dibantu untuk broadcast info ini.

Have a nice day!

View on Path